Jum'at, 03 September 2010
 
   Radar Madura
[ Rabu, 09 Juni 2010 ]
Komoditas Pengganti Belum Ditemukan
PAMEKASAN-Tembakau di Pamekasan khususnya dan Madura pada umumnya, tetap menjadi tanaman primadona masyarakat petani. Pasalnya, masih belum ditemukan komoditas tanaman pangan lain yang bisa menggantikan "daun emas" itu.

Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Pamekasan Isye Windarti menjelaskan, ditilik dari sisi kebutuhan air, tidak ada komoditas tanaman pangan lain yang dapat menggantikan tembakau. Kendati demikian, pihaknya memastikan ada satu komoditas pangan yang memungkinkan untuk ditanam, yakni kacang hijau. "Itu pun, kebutuhan airnya masih lebih banyak dibanding tembakau," ujarnya.

Menurut Isye, jika tahun ini ada petani yang menanam komoditas tanaman pangan hingga dua kali; semisal tanaman padi, bawang merah atau tanaman pangan lainnya, itu disebabkan musim penghujan yang lebih panjang dibanding tahun sebelumnya. "Sehingga para petani tembakau di Pamekasan belum bisa menanam bibit tembakau hingga pertengahan tahun ini," tandasnya.

Meskipun demikian, Disperta mengaku selalu menyarankan dan menyosialisasikan kepada para petani untuk mewaspadai serangan hama dan penyakit. Sebab diakuinya, penanaman komoditas yang sama secara berulang-ulang rentan diserang penyakit. "Yang paling rentan itu, terutama berkembangnya mikro organisme pengganggu tanaman," ujarnya.

Menurut dia, sebagian lahan sawah di Pamekasan tahun ini, sekitar 102 hektare ditanami padi hingga dua kali. Padahal, lanjutnya, tahun-tahun sebelumnya tidak pernah menanam padi secara berulang. Sementara untuk lahan pertanian di wilayah utara, petani biasa menanam bawang merah, jagung, kacang tanah, dan lombok.

Dikatakan, musim tanam komoditas itu berkisar 55 hingga 60 hari. Maka setelah musim panen, petani masih dimungkinkan menanam tembakau kembali. "Kalau kacang hijau, masih memungkinkan untuk ditanam. Sebab, komoditas ini relatif lebih kecil kebutuhan airnya," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kholilurrahman hingga saat ini sering menyosialisasikan agar petani tidak terlalu bergantung pada tembakau dan bisa beralih menanam komoditas lain. Itu agar harga tembakau tidak terjun bebas di pasaran. "Kalau hasil produksi tembakau semakin melimpah, maka harga tembakau akan murah," ujarnya dalam sosialisasi di Kecamatan Pademawu beberapa waktu lalu. (bus/ed)