[ Senin, 31 Mei 2010 ]
Masa Depan Tembakau Madura
Makin Meredup, Pasar Berbeda
Dari dulu Madura selain dikenal sebagai pulau garam, juga sebagai lumbung tembakau. Di masa keemasannya, tembakau disebut "daun emas" daun yang menghasilkan banyak uang. Sebab, kualitas tembakau sangat bagus dan harga jualnya tinggi. Kini, masa tanam mulai. Bagaimana masa depan tembakau setelah adanya regulasi dan larangan merokok?
---
DARI tahun ke tahun, masa depan tembakau terus melorot. Awalnya, harga tembakau terpuruk akibat tata niaga tembakau yang tidak jelas. Sebab, pemilik barang tidak dapat menentukan harga barang yang akan dijual kepada pembeli. Pembeli berkuasa atas timbangan dan pengukuran terhadap kualitas barang berdasar daya endus yang berlaku secara subjektif tanpa tester. Akibatnya, harga tembakau sebelum dan sesudah 2000 berubah karena tidak terdapat "HET" (harga eceran tertinggi) dalam tata niaga tembakau.
Ancaman terhadap tembakau juga dari regulasi global. World Health Organization (WHO) misalnya, telah melarang merokok secara tidak langsung dalam kampanye antitembakau se dunia sejak dua puluh tahun lalu. Hari ini dunia kembali memperingatinya.
Di tingkatan nasional, dua organisasi massa berbasis keagamaan, MUI dan Muhammadiyah, juga memberi fatwa terhadap larangan merokok. Sebelum fatwa haram, sejumlah kabupaten/kota di Indonesia sudah membuat regulasi daerah yang intinya melarang merokok. Karena itu, semakin lengkaplah kesuraman tembakau di masa mendatang.
Di Pamekasan, tembakau mulai dinilai komoditi yang tidak lagi menjanjikan. Pada 1980-an dan 1990-an, tembakau masih menguntungkan. Ketika itu, tembakau dihargai sebesar Rp 30 ribu per kg. Angka ini melampaui modal yang ditaksir mencapai Rp 25 ribu per kg. Ini dihitung sejak pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemetikan, perajangan, penjemuran, dan pembungkusan. Tapi pasca 2000, sebagian tembakau berharga di bawah Rp 10 ribu per /kg dan sangat jauh dari BEP.
Saat tembakau murah tetapi harga rokok (buatan pabrikan) semakin tinggi, petani lokal ramai-ramai membangun home industry. Tembakau yang kalau dijual tidak mencapai modal, diolah sendiri dan dipasarkan di tingkatan lokal dengan sasaran kelas menengah ke bawah. Tapi, industri rumah tangga ini tidak bisa berkembang pesat, karena perokok sudah kecanduan terhadap label rokok tertentu yang mereka isap sebelumnya.
Tidak adanya masa depan yang cerah bagi niaga tembakau ini, konsentrasi pemerintah juga terbelah. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan tetap berupaya tembakau memiliki masa depan yang lebih baik. Misalnya, dinas yang dipimpin Atok Suhariyanto ini tetap melakukan agenda rutin untuk memberdayakan home industry rokok.
Selain itu, disperindag mencari terobosan hingga mendatangi pabrikan rokok. Baik yang berlokasi di Jawa Timur maupun Jawa Tengah.
Sementara dinas kehutanan dan perkebunan (dishutbun) dan dinas pertanian (disperta) berupaya melakukan pengalihan tanaman tembakau ke varietas lain. Ini dilakukan untuk membantu petani agar tidak terus-menerus bergantung pada tanaman tembakau.
Usaha ini sedikit membuahkan hasil. Sebab, sebagian petani mulai sadar meski hanya sebagian. Terutama, petani yang semula menanam tembakau di areal persawahan, setelah 2006 tidak lagi menanami tembakau. Sebab, pada 2007 di Pamekasan muncul penilaian tembakau sawah nges (apek, murah, dan tidak bermutu).
Dari sisi areal yang semula mencapai 33 ribuan hektare di 2007, mulai 2008 hingga 2010 areal tanam tembakau tersisa 29 ribuan hektare. Meski susut areal dan hasil produksi terjadi, kenaikan harga tembakau tetap tidak signifikan. Bahkan, harga tembakau terpuruk lagi bukan karena sistem niaga tembakau yang tidak mengacu kepada hukum bisnis. Tapi, harga tembakau juga dipengaruhi cuaca. Begitu cuaca buruk, semakin terpuruklah harga tembakau. Meski terdapat perda tata niaga tembakau yang melindungi mutu, regulasi lokal ini lenyap diterpa cuaca dan sistem bisnis tembakau yang tidak jelas takarannya.
Ketua KUTP (Komisi Urusan Tembakau Pamekasan) Ismael A. Rahim yakin masa depan tembakau tidak bakal sejaya di era 1980-an. Alasannya, pasar tembakau saat ini sudah berbeda. Penyebab utamanya, kata dia, kualitas tembakau tidak bisa diduga karena lebih banyak bergantung pada alam.
Menurut dia, bisnis yang lebih banyak bergantung pada alam dipastikan tidak jelas masa depannya. Sejauh ini, petani telah berusaha mengikuti pola tanam sesuai anjuran pembeli. "Tetapi apa yang terjadi? Tembakau yang seharusnya berkualitas berubah karena cuaca buruk," terangnya.
Ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Fathorrachman mengatakan, berdasar amatannya, sebagian petani telah menanam tanaman alternatif, seperti bawang, padi (tadah hujan), sayur-sayuran, buah-buahan, dan umbi-umbian. Saat petani bersemangat menanam tumbuhan alternatif, dia minta pemerintah mencarikan pasar. Sebab, petani akan kecewa juga karena susah-susah meninggalkan tembakau ke varietas lain, tapi tak punya pasar juga. "Tolong jangan tinggalkan petani," ingatnya. (abe/mat)