[ Selasa, 09 Februari 2010 ]
Kelas-Kelas Khusus Siswa Jenius
Gagal Akselerasi, Langsung Terdegradasi
Tak salah jika Kota Malang mendpat julukan Kota Pendidikan. Selain banyak perguruan tinggi, kota ini juga menjadi kota yang memiliki kelas khusus anak-anak jenius. Namanya kelas akselerasi (percepatan). Jumlahnya terbanyak di Indonesia, yakni 10 sekolah. Bagaimana pengelolaan kelas khusus ini?
----------------------------
Bunga Kartika dan Fahmi Amrullah terlihat serius menyimak pelajaran fisika di MAN 1 Tlogomas kemarin. Bunga dan Fahmi adalah dua di antara 14 siswa yang masuk dalam program akselerasi (percepatan) kelas 12. Mereka merupakan siswa-siswi super yang dimiliki MAN 1 Tlogomas.
Disebut super karena dari sisi kecerdasan otak, mereka masuk kategori di atas rata-rata ratusan siswa yang ada di sekolah tersebut. IQ-nya saja sudah pasti di atas 130. Belum lagi dari sisi psikologis, mereka sudah dianggap lulus. Sebab sebelum masuk program ini, siswa super ini harus melewati pintu seleksi yang sangat ketat yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Brawijaya (UB).
UMM berperan melakukan seleksi psikologi siswa. Sedang UB bertugas menyeleksi kemampuan calon siswa akselerasi di bidang matematika, fisika, biologi, dan kimia (MIPA). Siswa yang tidak dapat rekomendasi dari dua perguruan tinggi itu tidak akan bisa masuk di kelas super ini.
"Jadi siswa yang ada di program akselerasi ini, sudah benar-benar siswa pilihan," urai Sabilal Rosyad, wakasek MAN 1 bidang akademik kemarin.
Di MAN 1 ini, tercatat ada 35 siswa yang ikut akselerasi ini. 21 siswa berada di kelas 10 dan 14 siswa di kelas 12. Bukan hanya siswanya yang super, guru dan kurikulumnya juga super. Guru yang berhak mengajar di kelas akselerasi ini harus memenuhi kriteria yang ditentukan sekolah. Di antaranya, tentu harus menguasai teknologi, cakap membuat modul pembelajaran, dan memiliki kepribadian yang baik.
"Mereka kan anak-anak yang sangat cerdas, maka harus diberi perhatian khusus," imbuh penanggung jawab akselerasi di MAN 1 ini.
Sementara ketua penyelenggara akselerasi madrasah tingkat Jatim Zaenal Mahmudi mengungkapkan, jumlah madrasah di Jatim yang sudah ada akselerasi baru 9 sekolah. Jumlah ini tergolong sangat minim dibandingkan dengan sekolah umum. Dari sembilan sekolah itu, empat ada di Malang, yakni MTsN 1, MTsN 3 Gondanglegi, MAN 1 Tlogomas, dan MAN 3 Jalan Bandung. Mengapa jumlahnya sedikit, lanjut Zaenal, karena madrasah belum mendapat perhatian serius dari PSLB (Pendidikan Sekolah Luar Biasa) Diknas Pemprov Jatim. Di sekolah umum, dana untuk program ini sangat besar, sedang di madrasah justru mendanai sendiri. "Dari sisi dana saja kami memang sudah kalah jauh," kata Zaenal yang juga Kasek MAN 1 Tlogomas ini.
Terbanyak di Indonesia
Siswa-siswa dengan IQ (intelligence questions) super tak perlu waktu lama berada di bangku sekolah. Dalam satu tahun, maksimal ia hanya menjalani belajar di kelas delapan bulan. Ini karena kurikulum dalam model pembelajaran di program akselerasi dipersingkat. Jika di kelas reguler, satu mata pelajaran harus dilahap selama enam bulan, di kelas akselerasi cukup hanya 3-4 bulan saja.
"Mereka memang berotak istimewa. Ibarat berlari, kalau orang biasa butuh satu jam untuk 10 km, siswa di akselerasi ini cukup 20 menit saja," kata Drs Burhanuddin MPd, ketua Penyelenggara Program Akselerasi Kota Malang ditemui kemarin.
Malang termasuk memiliki kelas akselerasi terbanyak di Indonesia. Tercatat sudah ada 10 sekolah yang menyelenggarakan kelas khusus ini. Di antaranya, SMPN 1, SMPN 3, SMPN 5, MTsN 1, SMAN 1 SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4, SMAN 5, MAN 1, dan MAN 3. Bahkan tahun 2010 ini, ada beberapa sekolah yang sudah mengajukan ke Dinas Pendidikan Pemprov Jatim untuk bisa menyelenggarakan program akselerasi. Namun Burhanuddin tidak tahu apakah tahun 2010 ini akan ada sekolah baru yang mendapat rekomendasi dari pemprov.
"Untuk mendapat rekomendasi sebenarnya mudah dan cepat asalkan segala persyaratan lengkap," terang Kepala SMPN 1 ini.
Lantas apa saja persyaratan sekolah untuk bisa menyelenggarakan akselerasi? Burhanuddin menjelaskan, syarat yang wajib dimiliki sekolah hanya tiga. Yakni, siswa yang kompeten, guru berkualitas, dan sarana memadai.
Siswa kompeten minimal memiliki IQ di atas 130 ditunjang psikologi atau kejiwaaan yang stabil, punya daya kreativitas berpikir, komitmen terhadap tugas, dan memiliki kepribadian yang baik. "Tidak mudah siswa bisa ikut program akselerasi ini. Di sekolah saya ini (SMPN 1) saja dari 80 yang daftar hanya 20 yang masuk kriteria," jelasnya.
Meski sudah masuk program akselerasi, siswa tidak boleh berleha-leha. Sebab, setiap hari, mereka dipantau tim psikologi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Merdeka Malang (Unmer). Tim psikologi ini tugasnya melihat perkembangan kejiwaan siswa selama mengikuti program akselerasi.
Siswa yang dinilai sangat terbebani, di-support agar terus bersemangat. Sebaliknya jika ada siswa yang tidak mampu mengikuti proses pembelajaran, disarankan untuk kembali ke program reguler. "Jadi di akselerasi juga diterapkan sistem degradasi," imbuh dia. (abm/war)