Kamis, 09 September 2010
 
   Radar Malang
[ Senin, 08 Februari 2010 ]
Bante Berdoa, Nahdliyin Menangis
Umat Lintas Agama Peringati 40 Hari Gus Dur

MALANG - Ribuan umat lintas agama kemarin berkumpul di GOR Ken Arok, Kota Malang. Mereka hadir memperingati 40 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gur Dur). Tak hanya alunan salawat, istighatsah, dan tahlil yang berkumandang di sana, para pemuka lintas agama juga ikut mendoakan dan bertestimoni untuk bapak pluralisme itu.

Dalam momen yang digelar PC NU Kota Malang itu, sejumlah ulama Islam dan tokoh semua agama hadir. Dari lingkungan NU tampak Ketua PC NU NU KH Marzuki Mustamar, KH Masduki Mahfudz, KH Imam Hambali, dan tokoh-tokoh NU lain. Sedang dari tokoh lintas agama, Bunsu Anton Triono dan Bunsu Hanom Permana mewakili umat Khonghucu. Dari Kristen diwakili Pdt Helly Safwan SpH, dari Katholik hadir Rm Hugo Sudianto O.Carm, Buddha ada Bante Vijayo Mahatera, dan dari Hindu diwakili I Gusti Putu Wilapa.

Tak hanya itu, dari penganut aliran kepercayaan terhadap Tuhan YME juga hadir. Mereka diwakili Yudho Asmoro. Tampak juga Kapolresta Malang Daniel T.M. Silitonga yang juga pernah menjabat sebagai staf operasional pengamanan di era presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sementara dari keluarga Gus Dur hadir perwakilan dari Ponpes Tebuireng KH Sulthon Abdul Hadi.

Berdasarkan catatan panitia, total warga Kota Malang yang hadir dalam rangka memeringati 40 hari wafatnya Gus Dur itu mencapai 10 ribu orang. Dari angka 10 ribu itu, seribu di antaranya adalah umat non-muslim. "Kami bersatu menunjukkan bahwa semangat pluralisme yang diusung Gus Dur tidak akan mati," ungkap Mohammad Syafik, wakil ketua panitia.

Secara bergantian par tokoh lintas agama memberikan testimoninya tentang Gus Dur. Bunsu Anton misalnya. Ia mengatakan, kehadiran Gus Dur menjadi angin sejuk bagi warga etnis Tionghoa. Tak terkecuali umat Khonghucu. Karena di era Gus Dur-lah umat Khonghucu mendapatkan pengakuan dan kemerdekaannya setelah bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian dan ancaman.

''Gus Dur ini kami sebut Bapak Tionghoa. Karena beliaulah kami bisa mengekspresikan diri seperti sekarang ini,'' ujar Bunsu Anton disambut applaus puluhan ribu hadirin.

I Gusti Putu Wilapa juga mengakui bahwa Gus Dur adalah sosok luar biasa. "Kalau boleh saya minta izin, bahwa Gus Dur ini ibarat gunung es yang memberi kesejukan," kata ketua III Parisade Hindu Dharma Kota Malang ini.

Bahkan, lanjut Wilapa, sepanjang dia hidup belum pernah menemukan sosok pemimpin seperti Gus Dur. Karenanya, kata Wilapa, sangat tepat jika pemerintah memberikan penghargaan pahlawan nasional pada mantan Ketua PBNU ini.

"Kami umat Hindu di Malang merasa sangat kehilangan. Beliau adalah bapak pluralisme yang belum tergantikan," tandasnya.

Ungkapan senada juga diberikan pada para tokoh agama Kristen, Katholik, Buddha, dan Hindu. ''Mari kita teladani beliau (Gus Dur) dengan segala kelebihan dan kesederhanaan beliau. Dengan begitu kita bisa damai hidup di bumi ini,'' pinta Bante Vijayo Mahatera di akhir testimoninya.

Pemuka agama Buddha di Vihara Batu ini juga mendoakan Gus Dur mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Ia juga khusyuk berdoa untuk masyarakat Indonesia agar diberi kedamaian dengan segala pluralitas agama, suku, ras, dan golongan. Warga NU yang hadir pun tampak khusyuk menyimak ucapan-ucapan indah Bante Vijayo Mahatera. Bahkan ada yang meneteskan air mata.

Obor Nyalakan Semangat Gus Dur

Dari Kepanjen dilaporkan, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Malang punya cara tersendiri untuk terus menyalakan semangat pluralisme yang diusung Gus Dur. Dalam peringatan 40 hari wafatnya Gus Dur, GP Ansor menggelar pawai seribu obor. Bagi anggota salah satu badan otonom (banom) Nahdlatul Ulama ini, obor sebagai simbol warisan yang terus membara.

Seribuan anggota Ansor menyatu dengan pelajar dan masyarakat mengusung obor sepanjang satu kilometer. Start dari kantor PC NU di Jalan Sumedang Kepanjen, para peserta berjalan kaki menuju Masjid Jamik Baiturrahman Kepanjen. Barisan obor itu menyerupai naga yang berjalan meliuk di kegelapan.

Gema salawat Burdah mengiringi peserta pawai obor. Salawat yang sering dilantunkan Gus Dur semasa hidup tersebut seakan mengingatkan peserta pawai tentang kiprah sosial cucu pendiri NU ini.

Arus lalu lintas dari Kepanjen menuju Pagak dialihkan melewati Yon Zipur Kepanjen. Begitu pula arus kendaraan dari arah sebaliknya. Masyarakat yang ingin menonton memenuhi Jalan Sultan Agung. Arus kendaraan pun melambat.

Usai pawai, peserta membaca tahlil di masjid setelah Salat Isya. Selain diikuti para peserta pawai, tahlil juga dipenuhi jamaah tahlil dari kecamatan yang berdekatan dengan Kepanjen. Antara lain Pakisaji, Sumberpucung, Gondanglegi, Turen, Pagak, dan Pagelaran.

"Kami ingin memberikan nuansa lain dalam peringatan 40 hari wafatnya Gus Dur ini. Yakni terus menyalakan semangat pluralisme yang diajarkan Gus Dur seperti obor yang menyala ini,'' ujar Mukaffi, ketua panitia. (nen/yos/war)