Jum'at, 03 September 2010
 
   Radar Jember
[ Minggu, 17 Januari 2010 ]
Ekspor Tembakau Jember Menurun
Petani Harus Tinggalkan Kultur Tekhnis Tradisional

JEMBER - Eksistensi tembakau besuki Na-Oogst (Bes NO) di Kabupaten Jember semakin terancam. Hal itu terlihat dari semakin berkurang jumlah ekspor tembakau untuk bahan cerutu dari tahun ke tahun. Untuk itulah, konsep kemitraan bisa menjadi jalan keluar dalam menyelematkan eksistensi produk unggulan Jember tersebut.

Hal itu mengemuka dalam acara Penghargaan Petani dan Pedagang Tembakau Terbaik Jember yang diprakarsai oleh Gading Mas Indonesia Tembakau (GMIT) di aula pertemuan GMIT di jalan Gajah Mada Jember.

"Dengan adanya kemitraan yang baik antara eksportir, petani maupun pedagang, diharapkan bisa meningkatkan kulitas produksi," kata Kuncoro, anggota Komisi Urusan Tembakau Jember (KUTJ) yang juga Ketua Indonesian Tobacco Association (ITA) ini.

Sebagai daerah dengan komoditi tembakau yang cukup besar, kata dia, seharusnya Jember merajai ekspor tembakau, khususnya tembakau jenis Na-Oogst. Maka dari itu, produksi dari komoditi ini perlu mendapat perhatian bersama, sehingga eksistensi tembakau di Jember bisa terjaga.

Selain itu, dia juga berharap, para eksportir ikut memperhatikan nasib para petani tembakau di Jember dengan memberikan pengawalan tekhnologi terhadap para petani. Terkait dengan penghargaan terhadap petani yang dilakukan oleh GMIT, pihaknya menyambut baik.

"Mudah-mudahan, apresiasi terhadap para petani dan pedagang tembakau seperti ini bisa berlangsung rutin setiap tahunnya," ungkapnya dalam acara bertajuk Dengan Kemitraan Kita Lestarikan Tembakau Besuki Na-Oogst.

Sementara itu, Yahya Lukas, presiden Direktur GMIT mengatakan, tingkat produktivitas dan jumlah ekspor tembakau jenis Na-Oogst di Jember, selama ini memang mengalami penurunan. Penurunan drastis tingkat ekspor sebenarnya sudah mulai terjadi sejak tahun 2000 lalu.

Di jelaskan, jika sebelum tahun 2000, jumlah ekspor tembakau Jember berkisar di angka 10 ribu ton pertahun. Namun, setelah tahun 2000, penurunan terus terjadi. Dan puncaknya terjadi pada tahun 2009, di mana Jember hanya mengekspor sebanyak 3.000 ton. "Padahal permintaan jenis ini masih mencapai 6 ribu ton," imbuhnya.

Untuk itulah, sebagai salah satu ekportir tembakau di Jember, saat ini pihaknya intensif untuk melakukan kemitraan dengan para petani. Apalagi, konsep kemitraan antara petani dan eksportir juga menjadi imbauan bupati Jember M.Z.A. Djalal. "Sebenarnya untuk kemitraan sendiri sudah kita lakukan sejak tahun 2003 lalu," paparnya.

Dikatakan, ada dua model kemitraan yang diterapkan oleh pihaknya selama ini. Konsep yang pertama adalah join planting, di mana eksportir memberikan pinjaman modal kepada para petani sebanyak 85 persen. Selain itu, pihaknya juga menyediakan tenaga penyuluh bagi para petani tersebut.

Sedangkan untuk konsep yang kedua adalah konsep pendampingan. Dalam model ini, pihaknya memberikan pendampingan dalam proses tanam yang dilakukan para petani. Selain itu, pihaknya juga memberikan pinjaman pupuk dan pestisida. "Selama ini, sudah 200 petani yang kita dampingi," kata pria berkacamata ini.

Kendati demikian, dia berharap, konsep kemitraan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik perbankan maupun pemerintah. Jika hal tersebut bisa berjalan dengan baik, maka eksistensi tembakau di Jember bisa dipertahankan.

"Kalau tidak diperhatikan dengan baik, pasar tembakau kita akan tergantikan. Kita juga berharap, pengertian antara pengusaha dan petani bisa berjalan dengan baik," tegasnya.

Sementara itu, terkait seringnya kerugian yang dialami petani ketika memutuskan untuk menanam tembakau, Lukas mengatakan, ada dua hal yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi. Hal tersebut adalah faktor internal dan faktor eksternal.

Untuk faktor internalnya karena sistem kultur tekhnis tradisional yang masih dilakukan para petani saat ini. "Cara-cara yang dilakukan petani masih tradisional," ungkapnya. Untuk itulah, saat ini, pihaknya juga juga memperkenalkan sistem yang lebih baik, salah satunya adalah sistem penggulatan tanah.

Sedangkan untuk faktor eksternal yang membuat petani sering rugi adalah faktor cuaca. Kerugian yang dialami para petani tembakau pada musim tanam 2009 yang lalu, kata dia, lebih banyak disebabkan karena faktor cuaca. "Untuk itulah, kita berharap, pemerintah juga berperan aktif untuk menginformasikan kepada petani terkait dengan cuaca," tegasnya

Sementara itu, Holis, salah satu petani yang menerima penghargaan sebagai petani terbaik, mengatakan, dirinya sangat bersyukur dengan adanya kemitraan ini. "Saya ucapkan terima kasih utamanya kepada GMIT yang telah banyak membantu bagi para petani tembakau," ungkapnya.

Selain dihadiri ratusan petani dan pedagang tembakau serta segenap jajaran direksi GMIT, dalam acara tersebut juga hadir perwakilan dari Komisi Urusan Tembakau Jember (KUTJ), Indonesian Tobacco Association (ITA), Dishutbun Jember, serta dari kalangan perbankan. (mg-3)