Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 25 Juli 2024 | 03.57 WIB

Toyota Siap Bila Insentif Mobil Hybrid Harus Bisa Pakai Bahan Bakar Bioethanol

Innova Zenix hybrid yang menggunakan bahan bakar Bioethanol di pajang di GIIAS. - Image

Innova Zenix hybrid yang menggunakan bahan bakar Bioethanol di pajang di GIIAS.

JawaPos.com - Atasi peningkatan emisi CO2 Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sedang mempertimbangkan untuk memberi tambahan insentif bagi mobil hybrid atau hybrid electric vehicle (HEV).

Hal ini karena mobil hybrid mampu mengurangi emisi karbon hingga 49 persen berdasarkan perhitungan emisi dari tangki bensin ke knalpot.

Dalam perjalannnya bahan pengembangan bahan bakar etanol mulai marak dikembangkan, bahkan ada wacana bisa diguankan untuk kendaraan hybrid sekaligus menjadi persyaratan sebagai pemberian insentif.

Menanggapi hal ini PT Toyota-Astra Motor (TAM) tidak mempermasalahkan bila insentif mobil hybrid diberikan dengan syarat harus bisa konsumsi bahan bakar campuran nabati atau bioetanol dalam kadar tinggi.

Anton Jimmi Suwandy selaku Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM), mengungkapkan bahwa insentif untuk hybrid tidak perlu menunggu lama meskipun harus bisa mengonsumsi bioetanol. karena Toyota telah memiliki teknologi tersebut.

Teknologi yang dimaksud sudah dibenamkan pada Kijang Innova Zenix HEV yang dapat diisi bioteanol dengan kadar lebih dari 85%. Mobil ini terlihat tampil pada pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show atau GIIAS 2024 dengan tulisan Innova Zenix HEV – Flexy Fuel Bioethanol hasil kolaborasi antara PT Pertamina (Persero) dengan Toyota.

“Bila pemerintah bilang oke hal tersebut sebagai persyaratan pemberian insentif hybrid, dengan mengguanakan flexy fuel, kami sudah ada. Ini nanti rergantung nanti peraturannya seperti apa,” ujar Anton di ICE BSD Tangerang, (23/7).

Anton menambahkan bahwa Toyota siap mendukung yang nantinya akan diberlakukan pemerintah terkait produk mobil hybrid yang juga bisa menggunakan bioetanol.

Akan tetapi meskipun sudah mempunyai teknologi untuk mobil bioetanol, kesiapan ketersediaan bahan bakarnya juga harus diperhatikan.

Sementara konsumen disebut tidak terlalu khawatir dengan konsumsi maupun harga dari bahan bakar campuran nabati dengan kadar 5% yang sudah beredar dari Pertamina.

“Kami bekerja sama dengan Pertamina kira-kira bahan yang cocok dicampur e10 atau maksimum e20 supaya bisa visible dari harga dan availability. Semoga ini menjadi upaya untuk mengurangi emisi,” jelasnya.

Anton menambahkan kalau pemberian insentif untuk mobil hybrid sebaiknya persyaratannya harus bisa mengurangi emisi dan mobil yang diproduksi lokal.

Di waktu lain Agus Tjahajana Wirakusumah yang merupakan Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pernah mengatakan bahwa implementasi dari flexi engine dapat dipadukan dengan kendaraan listrik sehingga menjadi mobil hybrid yang menggunakan bahan bakar nabati seperti solar atau etanol. Ini akan mampu mengurangi emisi.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore