Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 Agustus 2018 | 20.36 WIB

Jokowi-Prabowo Berpelukan, Komentar Fadli Zon Bikin Adem

Wakil Ketua DPR, Fadli Zon ketika memberikan keterangan pers kepada awak media, Kamis (30/8). - Image

Wakil Ketua DPR, Fadli Zon ketika memberikan keterangan pers kepada awak media, Kamis (30/8).

JawaPos.com - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fadli Zon menyambut positif pelukan antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) dalam pertandingan pencak silat Asian Games 2018 pada Kamis (30/8). Politikus Gerindra itu mengaku peristiwa tersebut tampak sangat natural.


"Saya kira itu satu peristiwa natural yang sangat bagus ya, saya melihat itu (pelukan), bagus bagi demokrasi kita," ucap Fadli di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (30/8).


Pelukan antara kedua tokoh nasional itu dinisiasi oleh atlet pencak silat Hanifan Yudani Kusumah. Usai mendapatkan medali emas, Hanifan lantas menarik Jokowi-Prabowo untuk berpelukan bersama.


Fadli menuturkan, para kandidat paslon yang bertarung memang harus memberikan suasana tenang dan damai menjelang Pilpres 2019 mendatang. Sebaliknya, kedua pendukungnya pun harus pula menciptakan iklim politik yang damai.


"Seharusnya begitu (kedua kubu harus berdamai), jadi selama ini kan yang kita lihat dalam banyak sisi kita juga inginkan satu demokrasi yang damai, kalau kita berdebat enggak ada masalah. Tapi berdebat kita adalah berdebat dengan kepala dingin, dengan substansi," ungkapnya.


Kendati demikian, ia menyebutkan selama ini kritik yang dilontarkan kubu oposisi hanyalah bagian dari demokrasi. Baginya, dalam negara demokrasi, aksi kritik dinilainya sangat wajar.


Namun, kata Fadli, saat ini justru ada oknum tertentu untuk memanaskan situasi kedua kubu yang bertarung di pilpres. Khususnya dalam pengekangan demokrasi. Tindakan itulah yang justru membuat kegaduhan antara para pendukung.


"Kegaduhan ini kan karena ada orang atau sekelompok orang mau menyatakan pendapat dengan #2019GantiPresiden kemudian dihalang-halangi, padahal kalau itu dibiarkan saja tidak akan terjadi apa-apa. Yang penting justru dijaga karena itu hak berpendapat yang dijamin oleh konstitusi," ucapnya.


"Jadi kesalahannya adalah overacting untuk melihat sebuah peristiwa yang menurut saya biasa-biasa saja di dalam menyatakan kebebasan berpendapat atau berekspresi," tutupnya.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore