
Salah satu mahasiswa biologi ITS saat memperhatikan penjelasan Yan Neuhoff mengenai sektor budidaya tanaman hidroponik dengan sistem perairan tertutup. (Istimewa)
Koordinator Program Global Community Outreach (GCO) Biologi ITS 2026 Dr rer.nat Arif Luqman SSi MT menekankan bahwa penguatan sektor Green Farming menjadi kebutuhan mendesak di tengah tekanan urbanisasi saat ini. Beliau turut memaparkan praktik pertanian hijau seperti akuaponik tidak lagi dapat dipandang sebagai hobi semata, melainkan sebuah strategi ketahanan pangan yang mampu menjawab tantangan keberlanjutan.
Pria asal Mojokerto tersebut menambahkan, program GCO sendiri didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Equity guna membuka akses pendidikan serta pengabdian masyarakat secara inklusif. Dukungan tersebut memungkinkan rancangan kegiatan yang tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi melibatkan penanaman kepekaan sosial terhadap ketahanan pangan global.
Arif melanjutkan, kunjungan ini menjadi media pembelajaran langsung bagi mahasiswa. Mereka mengamati secara teknis cara kerja dual-system budi daya yang menyatukan aquaponik dan akuakultur melalui sistem resirkulasi air tertutup. Tidak hanya observasi, mahasiswa turut terlibat langsung dalam kegiatan memanen kangkung, membuat dan memformulasi pelet, mencatat kualitas air, dan mengidentifikasi tahapan nitrifikasi. “Hasil kunjungan ini berpotensi menjadi bekal adaptasi teknologi serupa di ITS,” ujar Alumnus Universitas Tübingen itu.
Baca Juga:Cegah Pecelehan, ITS Bikin ITSafe
Model pertanian terpadu yang diadopsi oleh Kebun Kita menerapkan prinsip kerja RAS, di mana pendekatan ini memadukan budidaya ikan lele dengan sayuran hidroponik organik dalam satu siklus tertutup. Metode tersebut dinilai efisien dalam memanfaatkan buangan yang sudah tidak bernilai, menjunjung tinggi konsep zero waste. Sistem ini tidak mengenal konsep limbah sebagai masalah, melainkan sebagai bahan baku yang belum selesai dimanfaatkan.
Yan Neuhoff selaku pengelola Green Street Farm Kebun Kita menunjukkan hasil panen ikan lele dari sistem budidaya yang dikelola. (Istimewa)
Dalam prosesnya, feses lele disaring dalam unit pemisah padatan untuk menghasilkan pupuk padat siap guna. Sedangkan, air kolam yang mengandung amonia dipompa menuju biofilter dan diolah oleh bakteri nitrifikasi menjadi nutrisi tanaman. “Metode ini mengintegrasikan filtrasi mekanik untuk menyaring ekskremen serta filtrasi biologis melalui oksidasi amonia menjadi nitrat hingga siap diserap kangkung hidroponik,” papar pria peraih Anugerah Elite Award dalam Malaysia Global Sustainability Awards 2025 tersebut.
Sistem resirkulasi di Kebun Kita mampu mendaur ulang lebih dari 95 persen air tanpa membuangnya ke saluran kota, sekaligus menjaga kualitas air tetap optimal. Berkat RAS, diperoleh keuntungan ganda berupa panen ikan lele organik berukuran besar dan sayuran kangkung segar bebas pestisida. Prinsip utama yang dipegang Kebun Kita adalah memandang setiap limbah sebagai aset yang belum ditempatkan pada fungsi yang tepat.
Di samping itu, sistem ini juga mengoptimalkan pemanfaatan sisa makanan rumah tangga. Ikan lele yang ditempatkan dalam tangki dibesarkan menggunakan pelet bergizi tinggi. Pelet tersebut diproduksi secara mandiri dari beragam sampah makanan dapur. “Pendekatan ini memastikan bahwa tidak ada bahan organik yang terbuang sia-sia dalam siklus budidaya, disertai pemantauan nutrisi yang terukur,” terang Yan.
Pria berkebangsaan Jerman tersebut turut melibatkan langsung warga sekitar dalam pengelolaan sistem RAS. Keterlibatan ini menciptakan lapangan kerja lokal sekaligus meningkatkan pemberdayaan komunitas. Hal tersebut ditekankan sebagai kunci agar keberlanjutan tidak hanya berhenti pada tahap proyek percontohan, melainkan terdorong menjadi praktik rutin yang terintegrasi dalam kehidupan jangka panjang.
Dalam operasional hariannya, hasil panen sayur kangkung dan ikan lele unggulan organik akan dijual kepada pengusaha makanan setempat dengan harga terjangkau sebagai bagian dari revolusi pangan segar perkotaan. Melalui pelibatan aktif ini, Kebun Kita turut membangun ketahanan pangan lokal yang mandiri dan berkelanjutan, selaras dengan tujuan Majilis Bandaraya Petaling Jaya (MPBJ) pada Petaling Jaya Smart, Sustainable & Resilient 2030 (PJSSR 2030)
noviaKeberhasilan Kebun Kita menunjukkan bahwa pertanian perkotaan berbasis RAS mampu menjadi solusi pangan masa depan. Neuhoff turut mengajak Mahasiswa Biologi ITS untuk berkomitmen mengimplementasikan konsep green farm ini di lingkungan masing-masing. “Karena solusi pangan masa depan tidak menunggu, tetapi kita ciptakan mulai dari hari ini,” tutup pria berkacamata tersebut.

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
