alexametrics

Irjen Idham Aziz, 2 Kali Gagal Tes Akpol, Bantu Bangun 4 Masjid

23 Juli 2017, 00:01:40 WIB

JawaPos.com – Posisi Kapolda Metro Jaya kini resmi dijabat oleh Irjen Pol Idham Aziz, yang menggantikan Irjen Pol M. Iriawan. 

Idham dipercaya oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian karena dinilai bakal mampu untuk mengamankan dan mengayomi masyarakat yang ada di Ibu Kota Negara. Meskipun hal itu tentu bukan persoalan mudah. 

Penunjukan Idham yang merupakan alumni SMP 2 Kendari ini diketahi dari Telegram Rahasia (TR) yang diterbitkan Kapolri bernomor ST/1768/VII/2017 tanggal 20 Juli 2017 berisi mutasi dan rotasi sejumlah perwira tinggi (pati) serta pamen (perwira menengah).

Dalam TR tersebut, sebanyak 51 pati dan pamen Polri dirotasi. Dalam telegram yang diteken Asisten SDM Kapolri Irjen Pol Arief Sulistyanto, nama Idham Aziz ada di deret keempat.

Namun, tentu tidak mudah bagi Idham hingga bisa menjabat posisi seperti saat ini. Lelaki kelahiran Kendari, 30 Januari 1963 ini, harus menjalani tiga kali tes Akademi Kepolisian (Akpol) untuk bisa berseragam polisi yang jadi kebanggaannya.

“Beliau lulus Akpol 1988, setelah tiga kali ikut seleksi, dan pertama tugas di Bandung,” kata Fitri Handari, istri jenderal bintang dua ini.

Idham Aziz menuntaskan pendidikan mulai dari SD di Kampung Salo, lalu di SMP 2 dan SMA 1 Kendari. Setelah menamatkan sekolahnya, Ia lalu mencoba ikut seleksi Akpol tapi belum beruntung.

Sembari menunggu seleksi tahun berikutnya, Idham muda mendaftarkan diri jadi mahasiswa di Unhalu-kini UHO-di Fakultas Pertanian. Tahun berikutnya, ia tes kembali dan lagi-lagi gagal.

“Tapi beliau tetap menyimpan impiannya. Kali ketiga, tahun 1988 beliau lulus,” tambah sang istri yang dihubungi semalam.

Idham Aziz adalah anak dari pasangan Tuti Pertiwi dan H Abdul Azis Halik. Kedua orang tuanya bahkan sampai kini masih tinggal di Kampung Salo, menikmati masa tuanya.

Namun, kedua orang tua Idham menolak bicara dengan wartawan saat ditemui di rumahnya, kemarin dengan alasan sedang tidak sehat.

Tapi yang jelas, Idham, saat masa kecil, oleh kawan termasuk di sekitar rumah, punya panggilan akrab yakni Calli.

“Idham itu saya akui pintar. Sering ranking di sekolah dulu,” kata seorang saudara Idham bernama Iksan Asti Azis, yang kini bermukim di Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe.

Lelaki yang akrab disapa Buyung ini mengatakan bahwa saudaranya itu di dalam kelurga dikenal sebagai sosok yang sangat berbakti. “Kami lima bersaudara, Pak Idham kedua. Saya ketiga,” kata Buyung.

Ia bercerita, Idham terakhir kali pulang ke Kendari, Februari 2017 lalu saat bersama Kapolri Jenderal Tito berkunjung ke Sultra. “Dia sempat ke rumah di Kampung Salo, ketemu orang tua,” katanya.

Di kalangan tetangganya di Kampung Salo, Idham dikenal sebagai pribadi yang ramah. Seorang warga bernama Wiliyanto (57) mengaku sejak bertugas di Jakarta, Idham memang sudah jarang pulang. 

Sesekali saat Idham pulang, dia menyempatkan diri untuk menyapa, masyarakat sekitar. “Kalau pulang hanya dua kali setahun, kali yah. Itupun hanya menjenguk orang tuanya. Orangnya baik,” katanya mengingat saat-saat Idham pulang ke Kampung Salo.

Sementara itu, seorang ibu rumah tangga yang tinggal tepat di depan rumah Idham, bercerita bahwa mantan Kapolda Sulawesi Tengah itu adalah sosok yang baik.

Sejak menduduki jabatan penting di kepolisian, secara rutin membantu pembangunan empat masjid. Ada yang di Soropia, dan di Kecamatan Kendari.

“Calli itu main-mainnya di sini, di rumahku. Lahir di sini dia itu. Anaknya baik dan sopan,” katanya. 

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : (dms/JPC)


Close Ads
Irjen Idham Aziz, 2 Kali Gagal Tes Akpol, Bantu Bangun 4 Masjid