[ Kamis, 02 September 2010 ]
Dua Penjahat Kembali Beraksi secara Sadis
Dua Perampas Motor Bacok Lengan Bocah 12 Tahun
SURABAYA - Penjahat yang menyatroni warga Surabaya benar-benar nekat. Tewasnya dua penjahat kakap asal Pasuruan yang ditembak mati polisi pada Rabu lalu (31/8) tidak membuat aksi kejahatan di Surabaya berkurang. Buktinya, kemarin (1/9) dua penjahat kembali beraksi secara sadis. Mereka merampas motor dan membacok lengan kiri bocah 12 tahun hingga nyaris putus di kawasan Manyar Tirtoasri.
Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos, peristiwa sadis tersebut terjadi kemarin sekitar pukul 16.00. Ketika itu, Randy Martianus, nama bocah 12 tahun tersebut, tengah mengendarai Supra X bernopol L 5284 DM di kawasan Manyar.
Namun, tiba-tiba dua pria yang mengendarai sepeda motor bebek datang memepet. Tanpa banyak omong, salah seorang pengendara tersebut turun dan langsung membacok lengan kiri Randy hingga nyaris putus. Randy yang tak bisa menguasai sepeda motornya kemudian terjatuh menimpa penjahat tersebut.
Tapi, si penjahat segera bangkit dan segera mengambil sepeda motor Randy. Penjahat itu mengancam Randy yang masih terkapar dengan bersimbah darah. ''Gak usah macem-macem. Tak pateni koen engkok (Tidak usah macam-macam. Aku bunuh kamu nanti, Red),'' katanya.
Randy tentu saja tak bisa berbuat apa-apa. Dua penjahat itu akhirnya membawa lari sepeda motornya. Ada beberapa warga di tempat kejadian perkara (TKP). Namun, mereka tak sempat menolong sebab peristiwa itu terjadi sangat cepat. Warga baru sadar beberapa saat kemudian. Mereka segera menolong Randy. Mereka membawa Randy ke RSU dr Soetomo.
Peristiwa itu bisa jadi berkaitan dengan sinyal Sariyono, salah seorang sindikat perampok kakap asal Pasuruan yang masih hidup. Menurut pemuda 25 tahun itu, bukan hanya dirinya, Choirul, dan Marham yang datang ke Surabaya dari Pasuruan. ''Ada sindikat lain. Ada tiga orang asal Pasuruan yang saya kenal. Mereka juga akan beraksi di Surabaya,'' ungkapnya kepada penyidik kemarin (1/9).
Inisial tiga bandit dari sindikat tersebut adalah Ed, Jn, dan Gn. Ketiganya mengungkapkan kerap beraksi di Surabaya. ''Kami kenal di tempat biliar,'' ujarnya.
Yang membuat polisi ekstrawaspada, tiga penjahat itu datang bersamaan dengan Sariyono cs pada Selasa dini hari lalu (31/8). ''Karena kami satu bus, sesampainya di Terminal Bungurasih, kami berpisah jalan. Tapi, saya tak pasti di mana ketiganya bermain,'' katanya.
Berdasar penelusuran polisi menyebutkan, tiga nama tersebut dicurigai merupakan pelaku yang sering mencuri sepeda motor di kawasan Surabaya Barat dan Selatan. Tidak hanya mencuri dengan cara membobol rumah, mereka juga mencuri dengan merampas.
''Itu disimpulkan berdasar ciri-ciri yang diberikan Sariyono. Yakni, cenderung kurus, berambut panjang agak keriting, dan mempunyai tato di pergelangan tangan,'' jelas Kanitpidum Satreskrim Polrestabes Surabaya AKP Arbaridi Jumhur.
Sejumlah petugas telah disiagakan di kawasan-kawasan yang kerap menjadi sasaran aksi mereka. ''Kami tak ingin kecolongan. Meski ada kemungkinan mereka balik ke kampung karena ada teman mereka yang ditembak mati, kami tidak mau gegabah dan kecolongan,'' terangnya.
Menurut Jumhur, dua tahun belakangan ini, pelaku asal Pasuruan kerap bermain di Surabaya. ''Alasannya, jarak relatif dekat, sasaran cukup banyak di Surabaya, dan pelaku-pelaku lokal hampir mati kutu. Kalaupun bekerja di daerah lain, mereka sudah terdata,'' katanya.
Jumhur menerangkan, jumlah pelaku asal Pasuruan yang ditangkap petugas Satreskrim Polrestabes Surabaya meningkat dalam dua tahun terakhir. ''Kalau dulu (sebelum dua tahun, Red) rata-rata berkisar sepuluh kasus selama setahun, kini jumlahnya meningkat pesat menjadi rata-rata 30 kasus per tahun dalam dua tahun terakhir,'' paparnya.
Yang membuat lebih sulit, kata dia, hingga kini polrestabes masih kesulitan memetakan komplotan penjahat asal Pasuruan. ''Mungkin, mereka pemain lama di Pasuruan, tapi tak pernah bekerja di Pasuruan (di daerah lain), kemudian bekerja di Surabaya. Jadi, bagaimana kami bisa mencari informasi tentang peta sindikat kelompok Pasuruan,'' ungkapnya.
Sebagaimana diberitakan, Selasa lalu (31/8) Unitpidum Satreskrim Polrestabes Surabaya menembak mati dua penjahat kakap asal Pasuruan. Seorang lainnya ditangkap. Berdasar hasil penyidikan, Sariyono, Choirul, dan Marham datang ke Surabaya dengan menumpang bus dari Pasuruan pada Selasa dini hari lalu.
Begitu datang, mereka beraksi di Jalan Manyar Tirtoyoso. Hampir mengembat tiga sepeda motor, ketiganya ketahuan massa dan digerebek. Namun, hanya Sariyono yang tertangkap. Choirul dan Marham kabur. Rupanya, pengalaman dini hari itu tidak membuat Choirul dan Marham kapok. Buktinya, sorenya, mereka merampas sepeda motor dan dompet milik Joko Pitono, 30, warga Jalan Gubeng Jaya di dekat kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Namun, aksi mereka dipergoki polisi. Bukannya menyerah, keduanya malah melawan petugas dengan senjata tajam. Polisi akhirnya bertindak tegas. Keduanya ditembak mati. (ano/c12/aww)