Jum'at, 03 September 2010
 
[ Kamis, 17 Juli 2008 ]
Menggagas Green Map
Surabaya memiliki banyak ikon tentang cagar budaya, kawasan ramah lingkungan, dan simbol keramahan kota. Kota ini juga memiliki pusat mobilitas berskala internasional seperti bandara serta pelabuhan. Sudah saatnya Surabaya menjadi anggota jaringan Green Map Internasional.

Peta hijau digagas sejak awal 1990 dan berkembang hingga sekarang. Tak hanya memetakan masalah lingkungan di sebuah kawasan, tapi juga tempat-tempat yang menjadi ikon keramahan, kenyamanan, nilai-nilai budaya, serta sejarah. Pihak-pihak yang peduli terhadap pemetaan wilayah tersebut tergabung dalam organisasi Green Map yang bermarkas di New York. Semua kalangan bisa bergabung. Mulai individu hinga pemerintah kota.

Di Indonesia sudah banyak penggagas peta hijau. Salah satunya adalah Yayasan Aikon Media Publik yang mendaftarkan Jakarta dalam jaringan Green Map Internasional. Jakarta tercatat sebagai kota ke-156 sekaligus ibu kota negara ke-20 yang tergabung dalam jaringan tersebut.

Bagaimana dengan Surabaya? Kota ini sebenarnya memiliki banyak tempat yang bisa dijadikan ikon green map. Sayang, sampai saat ini belum terdengar rencana pemkot untuk membuat peta yang sebenarnya bisa sangat mendukung pariwisata kota itu. Padahal, kota-kota besar di negara-negara maju sudah menggunakan green map untuk menjual keindahan kota mereka kepada wisatawan mancanegara.

Kondisi itulah yang mengundang keprihatinan Prof Lilianny S. Arifin PhD, kepala Bidang Studi Perkotaan dan Pemukiman Universitas Petra Surabaya. Bersama para mahasiswanya, dia pun menggagas green map kota ini dan berharap bisa masuk jaringan internasional.

Menurut dia, peta hijau dibutuhkan agar warga Surabaya mengenal kotanya. Mulai mengidentifikasi tempat-tempat bersejarah seperti Tugu Pahlawan atau Kantor Pos Simpang hingga menemukan lokasi-lokasi yang ramah anak sekaligus ramah lingkungan. Misalnya, Taman Bungkul dan Taman Lansia di Gubeng. Peta hijau juga bisa membantu pemerintah kota mengevaluasi kondisi kota dari tahun ke tahun.

Peta hijau sebenarnya tak jauh berbeda dari peta kota biasa. Namun, yang menjadi fokus adalah penambahan ikon-ikon tertentu untuk tempat-tempat yang punya nilai budaya serta lingkungan. ''Dalam peta hijau, kita tidak hanya bisa menemukan jalan atau bangunan, tapi juga tahu bahwa lokasi atau bangunan tersebut memiliki nilai lain atau tidak,'' jelas Lilianny.

Secara garis besar, pemetaan peta hijau dibagi menjadi beberapa kategori. Di antaranya, perkembangan ekonomi, mobilitas, budaya, informasi, infrastruktur, sumber daya yang dapat diperbarui, serta alam yang terbagi lagi menjadi hewan, tumbuhan, serta air dan tanah. Ada pula kategori mobilitas yang menunjukkan tempat-tempat transportasi.

Menurut dia, tempat tersebut ditandai oleh ikon tertentu dan tidak boleh sembarangan. Ikon itu berstandar internasional. Misalnya, lambang sepeda untuk tempat yang bisa dilalui kendaraan tersebut atau gambar gajah untuk menandakan adanya kebun binatang atau habitat binatang liar yang dilindungi. ''Kalau gambarnya kepala memakai topi, itu tanda tempat yang ramah untuk anak,'' jelasnya.

Ada pula ikon-ikon yang diubah karena menyesuaikan dengan masing-masing negara. Karena digagas oleh negara di benua lain, ada simbol yang menunjukkan tempat beraktivitas dengan salju. Untuk Surabaya, Lilianny berusaha menggantinya dengan simbol hujan. Maksudnya, tempat tersebut bisa digunakan anak-anak bermain saat hujan. Jadi, tidak usah menggunakan jalan raya seperti selama ini.

Peta hijau memiliki banyak keuntungan. Misalnya, penggunaan ikon yang berstandar internasional bisa memudahkan wisatawan asing yang akan berkunjung ke Surabaya. Selama ini, informasi mengenai tempat-tempat yang bisa dikunjungi di Surabaya amat terbatas. Dengan pemetaan tersebut, pemerintah kota bisa lebih mudah menjual pariwisata Surabaya.

Sebagai langkah awal menyusun Green Map Surabaya, Lilianny dan mahasiswanya telah menelusuri ke seluruh penjuru kota ini. Dia pun mendapati Pemkot Surabaya belum memberikan perhatian lebih kepada kampung-kampung tradisional yang tersebar di berbagai titik. Misalnya, kampung nelayan di Kenjeran, kampung di Bubutan, Makam Peneleh, atau kampung-kampung di sekitar wilayah Keputran. Kampung itu mulai tergusur pelan-pelan oleh kehidupan baru di sekitarnya.

Menurut Lilianny, mereka disebut kampung tradisional karena kawasan tersebut merupakan cikal bakal Surabaya. Mereka adalah komunitas yang terbentuk dan muncul secara alamiah karena memiliki satu persamaan. Mereka berbeda dari komunitas bentukan yang sekarang banyak tersebar di perumahan modern di sekitar Surabaya. ''Seharusnya pemerintah kota

mempertahankan dan melestarikan kampung-kampung tradisional itu,'' tegasnya.

Dia lalu mencontohkan kampung Lawang Seketeng di kawasan Pecindilan. Di kampung tersebut ada semacam gerbang yang diduga menjadi gerbang selamat datang pada zaman dulu. ''Bentuknya seperti pintu keraton. Seandainya tempat tersebut dirawat dan terpetakan, ia bisa menjadi jujugan wisata dari dalam maupun luar negeri,'' katanya.

Peta hijau juga bisa membantu pemkot untuk menata pedagang kaki lima (PKL). Misalnya, dengan memetakan tempat-tempat yang bisa dikunjungi masyarakat, pemkot bisa memperkirakan apakah tempat tersebut akan menarik PKL. "Biasanya, di mana ada keramaian, di situ akan ada pedagang kaki lima,'' ujar perempuan 46 tahun tersebut.

Nah, jika sudah ada perkiraan itu, pemkot bisa mengantisipasi. Misalnya, menyediakan lahan khusus yang tertata rapi. Atau, mengatur agar mereka bisa berjualan pada jam-jam tertentu saja sesuai keramaian yang muncul. ''Ambil contoh Taman Surya. Tempat itu kan selalu ramai saat pagi. Pemkot bisa membuat aturan bahwa PKL boleh berjualan di Taman Surya pukul 06.00 hingga 09.00,'' ungkapnya.

Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan juga bisa ditanamkan melalui peta tersebut. Misalnya, masyarakat diajak mengetahui tempat-tempat untuk mendaur ulang sampah atau pengolahan limbah. ''Di Surabaya, tempat seperti itu masih dikelola secara informal. Yang terlihat kan pemulung. Nah, mereka itu repot untuk dipetakan,'' ujarnya.

Contoh lain adalah penjual buku bekas di Jalan Semarang. Dulu, tempat tersebut bernilai karena berada di jalan raya. Yang menjadi menarik, pedagang di sana memperjualbelikan barang yang sama, namun tidak pernah ada konflik horizontal. Namun, pemkot menggusur mereka dan merelokasi ke dalam Kampoeng Ilmu. ''Ini kan sudah kehilangan ciri khas,'' tegasnya.

Lilianny telah berusaha mengutarakan ide pembuatan green map serta hasil kerjanya ke Surabaya Tourism Board. Namun, hingga sekarang, dia belum mendapatkan jawaban. (any/fat)