Kamis, 09 September 2010
 
[ Sabtu, 06 Februari 2010 ]
Usia Setahun, Kunjungi Dokter Gigi
Perkenalan dan Pemeriksaan Awal

MENDENGAR kata dokter gigi, anak-anak sudah takut se­kali. Apalagi, jika orang tua atau kakak menakut-nakuti. ''Gigimu dicabut kalau ke dokter gigi,'' be­­gitu biasa diucapkan. Mereka akan menyampaikan banyak alas­an agar batal ke dokter gigi. Bah­kan, ada anak yang rela menahan sakit karena takut dokter gigi.

''Justru, orang tua memotivasi anaknya agar mau berobat bila ada keluhan pada giginya. Ja­ngan malah mengancam anak,'' kata drg Handy Wiratama Hartono SpKGA. Untuk menghindari anak ngambek, orang tua hen­daknya mengajak anak saat giginya tidak sakit. Dengan begi­tu, anak beranggapan ke dokter gigi tak menakutkan. Mereka pun terbiasa dengan ruang praktik dokter gigi. ''Ketika diajak ke dokter gigi lagi, anak ti­dak canggung atau menangis ka­rena tahu dokter gigi tidak me­na­kutkan,'' jelas spesialis dokter gigi anak (pedodontist) dari RS Mi­tra Keluarga Waru itu.

Handy mengatakan, anak sebaiknya sudah diperkenalkan de­ngan dokter gigi saat gigi per­tamanya tumbuh. Paling lambat, ketika anak berusia setahun. Dok­ter akan menjelaskan cara membersihkan gigi yang baik dan benar serta memeriksa gigi anak. ''Pada kunjungan pertama, biasanya dokter gigi tak melakukan intervensi,'' ujarnya. Dokter gigi hanya melihat kondisi gigi anak. ''Itu bila memang tidak ada keluhan lho,'' katanya.

Orang tua juga diberi masukan mengenai cara perawatan gigi. Alumnus FKG Unair itu menam­bah­kan, perawatan gigi yang benar dimulai sebelum gigi pertama tumbuh. Walau tak terlihat, gigi sebenarnya terbentuk sejak trimester kedua kehamilan. Pada saat lahir, bayi sudah memiliki 20 gigi susu di dalam rahangnya. Cara mem­bersihkannya mudah. Menggunakan lap lembap dan lembut, lantas digosokkan ke gusi bayi. ''Lakukan setelah bayi makan. Dengan begitu, bakteri perusak tak mengumpul di gusi,'' tuturnya.

Jangan lupa, mulai ajari anak sikat gigi. Meski anak belum bisa dan tahu manfaatnya, tak meng­apa. Yang penting, anak terbiasa. Bila sudah terbiasa dan tahu cara yang benar, anak tak akan menolak menyikat gigi rutin. ''Bisa ka­rena terbiasa. Itu pedomannya,'' tegasnya. Bila rajin sikat gigi, lanjut Handy, kebersihan rong­ga mulut tetap terjaga.

Lakukan pemeriksaan dan perawatan gigi secara rutin setiap 4-6 bulan sekali. Tujuannya, men­cegah kerusakan lebih lanjut. Yang tak kalah penting, ung­kap Handy, hindari konsumsi permen atau makanan manis lain secara berlebihan. ''Sudah sering makan permen, jarang perawatan pula. Gigi anak bisa gigis,'' tambahnya. (ai/nda)