BAMBANG berdiri di saf paling depan jamaah salat id di Taman Surya kemarin. Dia juga terlihat khusyuk menyimak khotbah Idul Adha oleh khotib dosen IAIN Sunan Ampel Dr Joko Subagiyo.
Dalam khotbahnya, Joko menceritakan ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah. Sebagai seorang ayah, dia rela mengorbankan anaknya, Ismail, demi melaksanakan perintah Allah.
Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil sebagai hikmah Idul Kurban. Yaitu, sifat kepemimpinan. Seorang pemimpin, misalnya, harus lebih mendahulukan amanah daripada kecintaan kepada anaknya.
''Ada seorang pemimpin yang tunduk pada permintaan anaknya dan mengabaikan amanah yang harus dijalankan,'' jelas Joko. Yang tidak kalah penting, seorang pemimpin harus bertanggung jawab dan adil pada amanah yang dipegang.
Bambang mengaku terkesan pada khotbah tersebut. Isinya bisa menjadi renungan bagi masyarakat tentang pentingnya sikap seorang pemimpin yang harus memegang amanah dari rakyat. Seorang pemimpin yang sebenarnya harus turun ke bawah. Misalnya, rutin bertemu RT dan RW di wilayahnya.
''Pemimpin itu jangan hanya berwibawa, elite, tapi juga harus bisa membawa amanah dengan melihat, mendengar, serta merasakan langsung keadaan di bawahnya,'' tegas Bambang.
Kewibawaan tidak akan hilang meski pemimpin turun ke bawah. Sebab, kewibawaan itu lahir dari perbuatan masing-masing. ''Walau pemimpin, tapi nek tingkahe sering gak bener, yo pasti tidak dihormati,'' ucap pria yang kemarin mengenakan baju takwa putih serta celana panjang dan kopiah hitam itu.
Setelah salat id, Bambang kemarin menyerahkan hewan kurban seekor sapi. Hewan kurban itu melengkapi sumbangan-sumbangan lain dari Pemkot Surbaya yang mencapai 34 ekor kambing dan 12 ekor sapi. Bambang berharap, dengan kerelaan dalam berkurban, setiap muslim bisa berbagi dengan mereka yang kurang mampu saat Idul Adha. (gun/roz)