Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 12 Mei 2026 | 18.30 WIB

9 Hal yang Dilakukan Orang Ketika Diam-diam Meremehkanmu Menurut Psikologi

seseorang yang diam-diam meremehkan temennya (Magnific/alexkich) - Image

seseorang yang diam-diam meremehkan temennya (Magnific/alexkich)


JawaPos.com - Dalam interaksi sosial, tidak semua orang menunjukkan apa yang benar-benar mereka pikirkan.

 Kadang seseorang tampak ramah, tapi di balik itu ada penilaian rendah terhadap kemampuan, nilai, atau potensimu. Psikologi sosial menjelaskan bahwa perilaku seperti ini sering muncul dari kombinasi bias, kompetisi sosial, dan kebutuhan untuk merasa lebih unggul.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat 9 tanda umum yang sering muncul ketika seseorang diam-diam meremehkanmu.

1. Mereka “merendahkan secara halus” (subtle put-downs)

Orang yang meremehkan sering tidak menghina secara langsung. Mereka memakai komentar yang dibungkus humor atau sarkasme.

Contohnya:

“Wah kamu berhasil juga ya, kirain nggak bakal sampai situ.”
“Lumayan lah untuk ukuran kamu.”

Dalam psikologi, ini disebut microaggression verbal—bentuk komentar kecil yang tampak ringan, tapi sebenarnya mengurangi nilai orang lain secara psikologis.

2. Mereka jarang benar-benar mendengarkanmu

Saat kamu berbicara, mereka:

sering memotong pembicaraan
terlihat tidak fokus
cepat mengalihkan topik

Ini menunjukkan selective attention bias, di mana seseorang hanya memberi perhatian penuh pada orang yang mereka anggap “bernilai tinggi”.

3. Mereka meremehkan ide-idemu tanpa benar-benar mempertimbangkan

Jika kamu memberi saran, respons mereka sering:

“Ah, itu terlalu sulit.”
“Nggak akan berhasil sih menurutku.”

Tanpa diskusi mendalam.

Secara psikologis, ini terkait dengan status threat response—mereka secara tidak sadar menganggap ide orang yang mereka remehkan tidak layak dipertimbangkan serius.

4. Mereka hanya menghubungi saat butuh sesuatu

Orang yang meremehkan sering tidak membangun hubungan timbal balik.

Ciri-cirinya:

jarang menghubungi duluan
hanya muncul saat butuh bantuan
menghilang setelah mendapat apa yang mereka mau

Ini berkaitan dengan instrumental relationship mindset, yaitu melihat orang lain sebagai alat, bukan setara.

5. Bahasa tubuh mereka menunjukkan kurang respek

Tanpa sadar, tubuh sering “jujur”. Tanda-tandanya:

tidak menatap saat kamu bicara
ekspresi datar atau sinis
sering menyilangkan tangan dengan sikap defensif
posisi tubuh menjauh

Psikologi komunikasi menyebut ini sebagai nonverbal devaluation cues.

6. Mereka sering membandingkanmu dengan orang lain (yang lebih “unggul” menurut mereka)

Contoh:

“Temanku si A lebih cepat sukses sih.”
“Kalau dia bisa, kamu juga harusnya bisa dong.”

Ini bukan motivasi sehat, tapi bentuk social comparison downward/upward manipulation, di mana seseorang sengaja menempatkanmu di posisi lebih rendah dalam perbandingan sosial.

7. Mereka tidak memberi pujian yang tulus (atau sangat minim)

Kalau pun memberi pujian, biasanya:

terasa dipaksakan
disertai “tapi…”
atau sangat umum dan dingin

Contoh:

“Ya bagus lah… tapi masih biasa aja.”

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan withholding reinforcement, yaitu menahan penguatan positif agar seseorang tidak merasa terlalu diakui.

8. Mereka mengabaikan pencapaianmu

Saat kamu berhasil, respons mereka:

datar
cepat mengganti topik
atau bahkan tidak merespons sama sekali

Ini disebut selective invalidation, yaitu mengabaikan informasi yang tidak sesuai dengan persepsi mereka tentang dirimu.

9. Mereka “terkejut berlebihan” saat kamu berhasil

Ironisnya, saat kamu sukses:

mereka terlihat kaget
seolah itu “tidak masuk akal”
atau berkata “wah, nggak nyangka kamu bisa”

Ini adalah bentuk expectancy bias—mereka sudah punya ekspektasi rendah, sehingga keberhasilanmu dianggap anomali, bukan hasil kemampuan.

Penutup: Tidak semua perilaku berarti kebencian

Penting untuk diingat bahwa tidak semua tanda di atas berarti seseorang benar-benar meremehkanmu. Dalam psikologi, konteks sangat penting. Bisa saja:

mereka tidak peka secara sosial
mereka punya gaya komunikasi dingin
atau mereka tidak menyadari dampak perilakunya

Namun jika pola ini konsisten, itu bisa menunjukkan adanya persepsi rendah terhadap nilai dirimu dalam pikiran mereka.

Yang lebih penting daripada membaca orang lain adalah:

bagaimana kamu menjaga batasan
bagaimana kamu merespons tanpa kehilangan harga diri
dan bagaimana kamu tetap fokus pada perkembangan diri

Karena pada akhirnya, cara paling kuat untuk “membantah” remehan bukan dengan konfrontasi, tapi dengan hasil yang berbicara sendiri.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore