
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memberi isyarat saat parade militer memperingati ulang tahun ke-80 Partai Buruh Korea (WPK) yang berkuasa di Pyongyang, Korea Utara. (KCNA via Reuters)
JawaPos.com - Pemimpin Korea Utara, Kim Jong‑Un, melontarkan pernyataan keras di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Ia menyatakan negaranya siap memasok rudal kepada Iran jika diminta, bahkan mengklaim bahwa satu rudal saja cukup untuk menghancurkan Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi pemerintah di Pyongyang.
Dalam pernyataannya, Kim menyebut negaranya siap membantu Teheran di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Baca Juga:Dubes Iran Terima Surat Belasungkawa dari Presiden Prabowo atas Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei
“Satu rudal saja cukup untuk menghapus Israel,” kata Kim dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Korea Utara, menegaskan sikap keras Pyongyang terhadap sekutu Barat di kawasan tersebut.
Selain menawarkan bantuan persenjataan, pemerintah Korea Utara juga mengecam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Pyongyang menyebut serangan tersebut sebagai tindakan ilegal yang melanggar kedaulatan Iran.
Menurut otoritas Korea Utara, operasi militer yang dilakukan Washington dan Tel Aviv dinilai memperburuk situasi keamanan regional dan berpotensi memicu konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Pernyataan Kim Jong-Un muncul saat ketegangan antara Iran dan Israel terus meningkat dan menjadi perhatian dunia internasional.
Baca Juga:Ratusan Orang Padati Kediaman Dubes Iran di Jakarta untuk Doakan Korban Perang di Timur Tengah
Konflik tersebut semakin kompleks setelah keterlibatan Amerika Serikat dalam serangan militer terhadap target yang diklaim terkait kepentingan Iran.
Sejumlah pengamat internasional menilai komentar keras dari pemimpin Korea Utara berpotensi memperkeruh situasi geopolitik global.
Dukungan terbuka Pyongyang kepada Iran dapat memicu kekhawatiran baru tentang kemungkinan meluasnya konflik, terutama jika bantuan militer benar-benar diberikan.
Hingga kini, komunitas internasional masih memantau perkembangan konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat dengan cermat, mengingat eskalasi lebih lanjut dapat memicu ketidakstabilan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
