Mark Zuckerberg menghadiri acara Meta di Menlo Park saat Meta Platforms menghadapi persidangan di New Mexico terkait tuduhan menjadi pasar predator anak (The Guardian)
JawaPos.com - Meta Platforms Inc., induk dari Facebook, Instagram, dan WhatsApp, kini menghadapi salah satu ujian hukum paling besar dalam sejarah teknologi global setelah Jaksa Agung negara bagian New Mexico menggugat perusahaan tersebut dengan tuduhan gagal melindungi anak‑anak dari eksploitasi seksual dan pelecehan di platformnya.
Kasus ini menjadi sorotan dunia karena berpotensi mengubah cara regulasi media sosial terhadap keselamatan anak dan tanggung jawab perusahaan teknologi besar.
Gugatan yang diajukan pada 2023 oleh Jaksa Agung Raúl Torrez menyatakan bahwa Meta secara sadar menciptakan ruang digital yang mempertemukan predator dengan anak‑anak melalui desain produk yang memprioritaskan keterlibatan pengguna dan keuntungan, bukan keselamatan anak.
Di pengadilan, Torrez berupaya menunjukkan bukti bahwa fitur seperti infinite scroll dan sistem rekomendasi konten berkontribusi pada lingkungan yang berbahaya bagi anak di bawah umur.
Dilansir dari The Guardian, Selasa (3/2/2026), bukti yang akan diperkenalkan di persidangan mencakup dokumen internal yang diambil dari sistem Meta yang memperkirakan bahwa sekitar 100.000 anak di Facebook dan Instagram mengalami pelecehan seksual secara online setiap harinya. Gugatan ini juga menyebut adanya grup tanpa moderasi yang memfasilitasi seks komersial dan penyebaran materi pelecehan seksual anak (child sexual abuse material/CSAM).
Dalam pernyataannya menjelang persidangan, seorang juru bicara Meta membantah tuduhan. "Argumen yang diajukan Jaksa Agung sensasional, tidak relevan, dan mengalihkan perhatian," kata juru bicara.
"Selama lebih dari satu dekade, kami mendengarkan orang tua, bekerja dengan pakar dan penegak hukum, serta melakukan riset mendalam untuk memahami isu‑isu yang paling penting. Kami bangga dengan kemajuan yang telah kami buat, dan kami selalu bekerja untuk menjadi lebih baik."
Kasus tersebut berasal dari operasi bawah tanah yang dikenal sebagai "Operation MetaPhile", di mana penyidik membuat akun palsu yang berpura‑pura sebagai pengguna di bawah usia 14 tahun pada Facebook dan Instagram. Akun‑akun ini menerima materi eksplisit serta kontak dari orang dewasa yang mencari konten serupa, yang kemudian memicu penangkapan tiga tersangka yang diduga mengeksploitasi anak melalui platform Meta.
Selain itu, Meta juga dituduh mengabaikan rekomendasi dari staf keselamatan internalnya terkait kemampuan AI chatbot yang dapat berinteraksi secara seksual atau romantis dengan pengguna di bawah umur. Dokumen pengadilan mengklaim bahwa CEO Mark Zuckerberg menolak usulan batasan yang lebih ketat terhadap akses anak di bawah umur ke chatbot tersebut, meskipun staf keselamatan perusahaan memberikan peringatan.
Kasus New Mexico ini berbeda dari banyak gugatan sebelumnya karena tidak hanya menyoroti konten yang dibuat pengguna, tetapi juga fokus pada keputusan desain produk dan algoritma yang diduga memperbesar risiko bahaya bagi anak‑anak.
Meta sebelumnya berupaya meminta pengadilan memblokir kasus ini berdasarkan Section 230 of the Communications Decency Act dan hak kebebasan berbicara, namun pengadilan menolak upaya tersebut karena gugatan menitikberatkan pada praktik internal dan desain, bukan sekadar konten pengguna.
Persidangan ini diperkirakan akan berlangsung antara tujuh hingga delapan minggu, dimulai dengan pemilihan juri dan pembukaan argumen pada awal Februari. Saksi yang diharapkan mencakup penegak hukum, pendidik, serta whistleblowers atau pelapor pelanggaran internal yang mungkin mengungkap diskusi internal perusahaan terkait isu keselamatan anak di platform Meta.
Pengamat hukum teknologi internasional memperkirakan bahwa hasil persidangan ini bisa menjadi preseden besar bagi regulasi global terhadap perusahaan teknologi besar, terutama dalam hal kewajiban mereka menjaga keselamatan anak di bawah umur di lingkungan digital.
Keputusan juri akan menjadi uji penting apakah perusahaan seperti Meta harus bertanggung jawab atas dampak sosial dari desain produknya, atau apakah proteksi hukum tradisional masih memadai di era algoritma dan platform global.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
