[ Senin, 06 September 2010 ]
Pemerintah Cari Substitusi Bahan Baku untuk Atasi Lonjakan Impor
JAKARTA - Lonjakan impor memicu kegundahan pemerintah. Langkah strategis segera diambil untuk mengerem lonjakan impor.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, kebijakan yang akan didorong oleh pemerintah adalah mencari substitusi atau pengganti untuk bahan baku industri yang selama ini masih diimpor. "(Kebijakan) ini harus dipersiapkan. Roadmap-nya di (Kementerian) Perindustrian. Saya akan tagih itu," ujarnya di Kantor Menko Perekonomian akhir pekan lalu.
Menurut Hatta, lonjakan impor bahan baku/penolong sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan karena impor tersebut akan punya nilai tambah setelah diproduksi. Namun, akan lebih baik lagi jika bahan baku tersebut bisa disubstitusi dengan produk buatan dalam negeri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, impor bahan baku/penolong pada Juli 2010 mencapai USD 8,85 miliar. Itu berarti naik jika dibandingkan dengan impor periode Juni sebesar USD 8,74 miliar.
Secara kumulatif, sepanjang Januari-Juli 2010, impor bahan baku/penolong mencapai USD 55,08 miliar, melonjak 53,8 persen daripada periode sama 2009 sebesar USD 35,80 miliar. Impor bahan baku/penolong tersebut mencapai 72,9 persen di antara total impor USD 75,55 miliar.
Hatta mengatakan, yang pertama harus dilakukan adalah memetakan bahan baku/penolong yang bisa disubstitusi oleh produk buatan dalam negeri. "Nanti dipilah-pilah dulu, mana yang betul-betul kita siap, mana yang tidak," terangnya.
Namun, Hatta menyebut, salah satu bahan baku/penolong yang mestinya bisa disubstitusi oleh buatan dalam negeri adalah produk-produk petrochemical. Sebab, lanjut dia, Indonesia sudah saatnya membangun sendiri industri untuk memproduksi bahan baku petrochemical. "Misalnya, masak saat ini kita masih mengimpor nafta. Itu seharusnya bisa diproduksi di dalam negeri," katanya.
Misalnya, kata Hatta, perusahaan produsen petrochemical Chandra Asri masih mengimpor 100 persen bahan bakunya. Meski sebagian hasil produksinya juga diekspor, harus tetap diupayakan agar bisa diproduksi di dalam negeri. ''Sebab, sebenarnya bahan baku itu bisa diproses dalam negeri juga,'' ucapnya.
Karena itulah, menurut Hatta, industri petrochemical harus dikembangkan. Untuk itu, dalam roadmap pemerintah, cluster industri untuk produk-produk petrochemical akan dibangun di Kalimantan Timur yang merupakan daerah penghasil migas. ''Selain petrochemical, Kalimantan Timur akan jadi basis industri oleochemical," katanya. (owi/c6/kim)