Kamis, 02 September 2010
 
  Berita Utama
[ Kamis, 02 Juli 2009 ]
Korban Yemenia Air Bertahan dengan Merangkul Puing di Laut
MORONI - Kondisi satu-satunya korban selamat dalam kecelakaan pesawat Airbus A310 milik maskapai Yemenia, Senin (29/6), makin baik. Saat ini, gadis 14 tahun bernama Bahia Bakari itu dirawat di El Mararouf Hospital, Moroni, ibu kota Komoro.

Meski wajah remaja perempuan tersebut bengkak dan tangannya diperban karena luka-luka, dia dalam keadaan sadar. Dia mengalami luka bakar. Tapi, dokter memastikan kondisinya tak mengkhawatirkan. ''Dia sudah bisa berbicara. Tapi, kami belum banyak menanyai agar dia tidak terlalu lelah,'' kata Ada Mansour, dokter yang merawat Bahia di unit gawat darurat El Mararouf Hospital.

Bahia selamat setelah berpegangan pada puing-puing pesawat lebih dari 13 jam. Dia ditemukan petugas penyelamat terombang-ambing di tengah laut sejak pesawat dilaporkan jatuh sekitar pukul 01.30 waktu setempat hingga pukul 15.00. Ibunya tewas dalam musibah tersebut.

''Benar-benar ajaib. Dia adalah gadis muda yang pemberani,'' puji Alain Joyandet, menteri kerja sama internasional Prancis, saat membesuk di rumah sakit kemarin.

Pesawat Airbus bernomor penerbangan IY 626 tersebut mengangkut 153 orang, termasuk 11 awak. Pesawat jatuh di Samudera India ketika akan mendarat di Bandara Moroni, Kepulauan Komoro, di selatan Kenya dan utara Madagaskar. Saat itu, pesawat terbang dari Paris menuju Komoro setelah transit di Sana'a, Yaman.

Selain korban selamat, seluruh penumpang dan awak diperkirakan tewas. Salah seorang di antaranya adalah pramugari asal Indonesia bernama Richa Dwiyana Margareta. Warga Desa Duyung, Kecamatan Takeran, Magetan, Jatim, itu bergabung dengan maskapai Yemenia sejak setahun lalu.

Kepada radio Europe 1 Prancis, seorang petugas penyelamat mengungkapkan bahwa Bahia ditemukan terapung di antara mayat dan reruntuhan pesawat di tengah laut. ''Kami coba melemparkan pelampung ke arah dia. Tapi, dia tak mampu menjangkau, sehingga saya harus terjun ke laut untuk mengangkat,'' jelas petugas yang tak disebutkan namanya itu.

''Tubuhnya terus-menerus gemetar. Kami lantas menyelimuti dia empat lapis dan memberikan minum air gula yang hangat. Selanjutnya, kami tanyai nama dan desa asalnya,'' tutur petugas tersebut.

Satu-satunya korban selamat itu selama ini tinggal bersama keluarganya di Marseille, Prancis. Namun, keluarga Bahia berasal dari Nioumadzaha, sebuah desa di tenggara Komoro. Saat itu, dia bersama sang ibu hendak mengunjungi kampung halamannya.

Kassim Bakari, ayah Bahia, tidak menyangka anak sulungnya itu bisa selamat dari kecelakaan tersebut. Sebelum tragedi itu, dia sempat berbicara dengan anaknya melalui telepon. Bahia terbang dari Paris, Senin malam lalu.

Saat membesuk anaknya di rumah sakit kemarin, Bakari menuturkan bahwa Bahia terlempar dari kursi pesawat setelah kecelakaan. ''Tahu-tahu, dia melihat berada di sisi puing-puing pesawat di tengah laut. Dia tak merasakan apa-apa. Dia mendengar suara orang, tapi tak melihat apa-apa dalam gelap,'' ceritanya.

Bakari menambahkan, Bahia adalah gadis ringkih. Meski bisa berenang, dia memilih bertahan di laut dengan berpegangan pada puing pesawat. ''Saat saya ajak bicara, dia menanyakan ibunya. Petugas rumah sakit menjawab di kamar sebelah agar dia tak trauma. Tapi, saya tak tahu bagaimana menceritakannya,'' ungkapnya.

Alain Joyandet memastikan bahwa Bahia adalah satu-satunya korban selamat dalam kecelakaan itu. Dia membantah laporan soal adanya korban selamat kedua. ''Itu informasi palsu. Hanya ada satu yang selamat,'' tegasnya.

Pernyataan dia itu juga meluruskan berita sebelumnya bahwa korban selamat adalah seorang bocah laki-laki berusia lima tahun. Pemerintah Prancis berencana mengevakuasi Bahia ke rumah sakit di negara itu.

Penyebab kecelakaan sejauh ini belum diketahui. Hanya, ketika musibah tersebut terjadi, cuaca dilaporkan sedang tidak bersahabat. Angin bertiup kencang dan terjadi badai.

Tapi, tim penyelamat berhasil mendeteksi lokasi kotak hitam (black box) pesawat. Jika rekaman dalam kotak hitam selesai diteliti, penyebab kecelakaan itu diharapkan bisa terungkap. ''Sinyal black box dapat tertangkap sekitar pukul 16.30 waktu setempat (pukul 19.30 WIB kemarin) saat tim berpatroli di kawasan sekitar 40 km dari Grand Komoro,'' kata Joyandet.

Tim penyelamat Prancis telah tiba di lokasi untuk memulai pencarian. Kapal patroli Prancis juga telah dikerahkan. Dua kapal perang Prancis dan pesawat Transall telah menyisir lokasi kecelakaan untuk membantu penyelamatan.

Sebanyak 66 penumpang pesawat adalah warga Prancis. Mayoritas penumpang berasal dari Komoro. Palang Merah memperkirakan kecil kemungkinan ada korban selamat yang lain. ''Kami masih berharap seperti itu, meski diragukan,'' ujar Ramulati Ben Ali, Jubir Palang Merah Komoro. (AFP/AP/Rtr/dwi)