[ Kamis, 21 Mei 2009 ]
Mengapa Hercules Jatuh Lagi?
Oleh: M. Wiman Wibisana
Jatuhnya C-130 Hercules di Magetan, Jawa Timur, tentu menimbulkan duka yang mendalam bagi TNI-AU. Dalam rentang waktu sekitar dua bulan, TNI-AU harus kehilangan dua pesawat angkut dan awak-awak terbaiknya. Dalam operasi militer selain perang, tentu kehilangan mesin perang sevital pesawat angkut merupakan kehilangan yang sangat besar. Bahkan, dalam operasi perang pun, kehilangan pesawat angkut sevital Hercules merupakan hal yang cukup merugikan.
Kecelakaan di Magetan kemarin (20/5) merupakan kecelakaan Hercules yang fatal dalam sepuluh tahun terakhir. C-130 Hercules milik Indonesia sendiri memang dari segi usia dapat dikatakan uzur. Hal ini diperparah dengan kondisi maintenance yang terbatas. Akibatnya, readiness (tingkat kesiagaan) pesawat menjadi rendah.
Jika ditilik dari sejarah, tercatat sudah enam kali (termasuk kejadian Magetan) Hercules mengalami kecelakaan sejak dioperasikan oleh TNI-AU pada dekade 60-an. Kecelakaan pertama terjadi saat Operasi Dwikora, menimpa Hercules dengan nomor registrasi T-1307 yang dipiloti Letkol Djalaludin Tantu. Ketika itu, korban sedikitnya 47 orang. Pasukan Gerak Tjepat (sekarang Korpaskhas) yang dipimpin Kolonel S. Sukani dinyatakan hilang, gugur dalam tugas.
Musibah kedua terjadi juga ketika Operasi Dwikora. Diduga, pesawat tertembak oleh kawan sendiri (friendly fire) di Long Bawang, Kalimantan, 17 September 1965. Pesawat dengan nomor registrasi T-1306 itu dipiloti oleh Mayor Soehardjo dan Kapten Erwin Santoso.
Musibah ketiga terjadi pada pesawat dengan nomor AI-1322 yang merupakan pesawat intai maritim. Pesawat ini jatuh di Pegunungan Sibayak, Sumatera Utara, dalam rute Medan-Padang.
Musibah keempat terjadi pada 5 Oktober 1991. Inilah kecelakaan yang mungkin sangat dikenang. Kecelakaan pesawat yang menewaskan 11 kru, 119 penumpang, dan dua penduduk sipil itu terjadi di Condet setelah pesawat lepas landas dari Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma. Pesawat yang dipiloti oleh Mayor Syamsul tersebut bernomor registrasi A-1324.
Musibah kelima terjadi pada 20 Desember 2001 di Lhokseumawe karena overshoot di landasan. Untung, dalam kejadian itu, tidak ada korban jiwa. Kecelakaan keenam adalah kecelakaan di Magetan kemarin.
Hercules Masih Layak?
Mempertanyakan kelaikan pesawat tentu adalah hal yang paling mendasar dalam penyelidikan kecelakaan sebuah pesawat. Hal ini sesuai dengan ANEX 13 ICAO (panduan internasional tentang standar penyelidikan kecelakaan penerbangan). Hal ini penting karena menerbangkan pesawat yang tidak laik sama saja dengan menerbangkan peti mati.
Pertanyaannya kemudian adalah apakah pesawat Hercules yang dimiliki Indonesia laik terbang? Jawabannya bergantung pada perawatan atau maintenance-nya. Perawatan yang minim tentu saja merupakan sebuah dilema tersendiri. Di satu sisi, Hercules sebagai pesawat angkut merupakan sarana yang vital, baik dalam operasi militer perang maupun operasi militer selain perang.
Misi rutin yang biasa dilakukan Hercules adalah misi pengangkutan bahan kebutuhan pokok ke daerah-daerah yang sulit dijangkau dan misi angkutan penumpang umum militer (PAUM). Dari sekian misi rutin itu, tentu kelaikan terbang adalah hal yang sangat mutlak dimiliki Hercules. Sebagai pesawat angkut yang legendaris, Hercules merupakan pesawat yang sangat dapat diandalkan oleh hampir seluruh angkatan udara di dunia.
Hercules memang memiliki banyak kehandalan. Selain dapat digunakan dalam landasan yang relatif pendek, Hercules juga memiliki sistem navigasi yang andal. Selain itu, sebagai pesawat kargo, kapasitas angkutnya luar biasa. Tentu itulah alasan utama Hercules masih dipertahankan oleh TNI-AU. Hampir di seluruh dunia tidak ada Hercules yang dipensiunkan, melainkan di-upgrade kapabilitasnya.
Tanggung Jawab TNI-AU
Tentu ada sebuah pertanyaan mendasar, kenapa kecelakaan pesawat TNI-AU justru "dominan" di tahun 2009 ini? Apa yang salah dengan sistem keselamatan terbang Angkatan Udara kita? Untuk menjawabnya, tentu kita mesti menilik semua faktor mengenai sebab kecelakaan dan sistem yang digunakan.
Kurang dari sebulan lalu, Fokker 27 TNI-AU mengalami crash di Bandung. Hampir bisa dipastikan bahwa penyebab crash tersebut adalah buruknya cuaca. Beberapa waktu lalu, saat mendarat di Timika, Hercules juga mengalami "lepas ban" dan kini Hercules jatuh di sekitar Magetan. Insiden dan aksiden itu tentu tidak lepas dari sistem yang diterapkan TNI-AU dalam menyelidiki setiap aksiden dan insiden.
TNI-AU dalam menyelidiki kecelakaan atau insiden mengandalkan Panitia Penyelidik Kecelakaan Pesawat (PPKP) yang sifatnya internal. Hal ini memang punya dua sisi yang bertolak belakang, positif dan negatif.
Positifnya bisa jadi penyebab kecelakaan adalah hal yang masuk kategori "harus dirahasiakan" sehingga jika ada hal yang mungkin tidak boleh diketahui awam, maka itu akan aman. Negatifnya, rakyat tidak pernah tahu secara detail apa sebenarnya yang terjadi dalam kecelakaan pesawat yang dibeli dan dipelihara dengan uang mereka itu.
Tentu, dalam penyelidikan oleh PPKP yang sifatnya internal, kita tidak bisa tahu lebih dalam detilnya suatu kecelakaan pesawat TNI-AU. Rakyat hanya tahu kesimpulan penyebab jatuhnya, apakah cuaca, awak, ataukah mesin. Nah, di situlah perlu ada sebuah tanggung jawab yang secara tulus dijelaskan oleh pimpinan TNI-AU selaku penanggung jawab operasi Hercules.
Alasan TNI-AU mungkin akan sangat rasional atas semua insiden dan aksiden yang terjadi. Dan itu mudah ditebak: masalah anggaran. Memang anggaran yang minim bagi TNI, khususnya TNI-AU, mengakibatkan kesulitan dalam pengadaan suku cadang. Imbasnya, perawatan hampir semua pesawat TNI-AU menjadi terbatas. Hal ini sangat tidak sebanding dengan beban operasi yang harus ditanggung TNI-AU yang harus melaksanakan operasi militer perang dan operasi militer selain perang.
Jika memang itu penyebabnya, kini kita hanya berharap, kecelakaan Hercules itu adalah yang terakhir dalam sejarah pengoperasiannya di Indonesia. Namun, harapan itu tidak akan pernah bisa jadi kenyataan kalau perawatan "si Anak Dewa'' itu dilakukan secara terbatas. (*)
M. Wiman Wibisana, peminat penerbangan, mantan ketua Saka Dirgantara Lanud Ngurah Rai