[ Kamis, 27 November 2008 ]
Bandara Terbesar Thailand Lumpuh
BANGKOK - Sebaiknya Bangkok segera dihapus dari daftar kota tujuan perjalanan pada hari-hari ini. Sebab, krisis politik berbulan-bulan yang ditandai demonstrasi besar-besaran kini tidak lagi berpusat di kantor perdana menteri dan kantor-kantor pemerintah. Massa pengunjuk rasa antipemerintah mulai menduduki fasilitas umum, termasuk dua bandara terbesar, Don Muang dan Suvarnabhumi.
Sejak Selasa (25/11) malam ribuan orang memblokade gerbang keluar masuk Thailand tersebut. Pengunjuk rasa yang digerakkan partai oposisi, Aliansi Rakyat Untuk Demokrasi (PAD), menunggu kepulangan Perdana Menteri (PM) Somchai Wongsawat dari KTT APEC di Peru. Mereka menuntut PM yang juga adik ipar mantan PM Thaksin Shinawatra itu meletakkan jabatan.
Kemarin pagi situasi sempat memanas ketika terjadi sebuah ledakan di sekitar Bandara Suvarnabhumi dan beberapa serangan granat di beberapa lokasi di Bangkok. Teror itu mencederai setidaknya tujuh orang. Dua stasiun televisi lokal mengatakan, sebuah granat dilemparkan ke pengunjuk rasa dan tiga orang terluka.
Karena sampai tadi malam pemblokadean masih berlangsung, sekitar 4.000 penumpang yang terjebak mulai putus asa. Mereka kecewa karena tak ada usaha yang berarti dari pihak bandara dan pemerintah untuk mengatasi keadaan. Sebagian penumpang memutuskan kembali ke hotel masing-masing atau keluar dari wilayah bandara. Sebagian yang lain memilih tetap tinggal sambil berharap bisa pergi ke tempat tujuan. Mereka menghabiskan waktu dengan membaca, bermain kartu, atau tidur di atas tumpukan koper, troli, atau bahkan ban berjalan di bandara.
Di antara 4.000 penumpang yang telantar itu, sebagian besar warga AS yang ingin pulang ke negaranya untuk merayakan Thanksgiving akhir pekan ini. Misalnya, Cheryl Turner asal Scottsdale, Arizona. Wanita berusia 63 tahun itu terpaksa meminta tetangganya mengeluarkan kalkun yang telah dibeli dari lemari pendingin untuk perayaan hari tersebut. "Kalkun saya sudah menunggu di bak cuci," keluhnya. "Kami hanya ingin mereka pulang sehingga kami juga bisa pulang," ujar Kay Spitler yang juga dari Arizona.
Senada dengannya, pasangan Robert Grieve dari Melbourne, Australia, yang datang ke Phuket untuk berbulan madu. Mereka mengaku kapok dan tak berniat kembali ke negara tersebut. "Perhatian kami hanya mendapat penerbangan pertama ke rumah dan tak bakal ke sini lagi," kata Robert Grieve.
Kondisi penumpang yang mulai uring-uringan itu justru ditanggapi demonstran dengan menjelaskan aksi mereka. Pengunjuk rasa yang hampir semuanya berseragam baju kuning itu menyebarkan brosur berisi ajakan bersimpati. "PAD memohon maaf atas segala ketidaknyamanan yang kami timbulkan dengan penduduk lokal dan pengunjung internasional dengan menutup Bandara Suvarnabhumi. Kami merasa tindakan ini sangat krusial untuk mengakhiri pemerintahan yang merupakan pembunuh pengkhianat," demikian isi brosur tersebut. Massa PAD juga membagikan roti lapis dengan daging ham dan nasi kotak untuk para penumpang yang telantar.
Blokade bandara itu menjadi persoalan yang makin membuat susah industri wisata Thailand, yang sebelumnya terhantam krisis ekonomi global. "Kami belum menghitung kerugian finansial, tapi ini sangat merusak," kata Vijit Naranong, ketua kehormatan Dewan Pariwisata Thailand. Setiap tahun Thailand mengeruk USD 16 miliar dari industri wisata.
Kerugian sektor wisata itu dipastikan diikuti sektor lain, karena Suvarnabhumi adalah bandara tersibuk nomor 18 di dunia. Tahun lalu ada 40 juta orang yang menggunakan jasa Suvarnabhumi. Setiap hari tidak kurang dari 700 penerbangan dilayani salah satu bandara terbesar di Asia itu. Namun, mulai kemarin sampai batas waktu tidak pasti semua layanan itu terhenti.
Jakarta-Bangkok Putus
Di Jakarta, seluruh jadwal penerbangan dari Jakarta menuju Bangkok dibatalkan menyusul penutupan Suvarnabhumi. Kepala Kantor Administrator Bandara (Adban) Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Herry Bakti mengatakan, ada sekitar tiga pesawat yang membatalkan jadwal penerbangan dari Jakarta menuju Bangkok kemarin.
Ketiga penerbangan tersebut adalah Garuda, Air Asia, dan Thai Air Ways. Ketiga maskapai tersebut biasa mengisi penerbangan tujuan Jakarta-Bangkok satu kali per hari. "Rata-rata satu maskapai mengisi satu jadwal penerbangan. Jadi, ada tiga pesawat yang bertolak ke Bangkok," kata Bakti.
Panasnya situasi politik Thailand membuat sejumlah negara, termasuk anggota ASEAN, mengingatkan warga negaranya untuk tidak berangkat ke sana atau bahkan memulangkan warga negaranya dari Thailand.
Namun, tidak demikian dengan Indonesia. Juru Bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) RI Teuku Faizasyah membantah bahwa Deplu telah berencana pemulangan WNI yang tinggal di Thailand. "Sejauh ini tidak ada rencana seperti itu. Kita tidak melakukan (larangan) itu," tutur Faizasyah kemarin. (AP/CNN/kim)