Selasa, 09 Februari 2010
 
  Berita Utama
[ Minggu, 21 September 2008 ]
China Airlines ke Bali Terguncang
Delapan di Antara 358 Penumpang Terluka, Umumnya Tulang Patah

DENPASAR - Ketenangan Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, siang kemarin (20/9) berubah menjadi kepanikan luar biasa. Penyebabnya adalah kedatangan pesawat jumbo jenis Boeing 747-400 milik maskapai penerbangan China Airlines yang mengirimkan sinyal darurat.

Sinyal itu memastikan bahwa pendaratan bukan seperti biasa dilakukan pesawat maskapai terbesar di Taiwan yang sebagian besar penumpangnya wisatawan itu. Seluruh staf bandara bersiaga. Petugas medis, keamanan, dan pemadam kebakaran juga langsung bersiaga. Tepat pukul 14.05, pesawat berwarna putih terlihat mendarat mulus di ujung bandara dan beberapa menit kemudian parkir apron gate 7.

Saat pintu pesawat dibuka, bukan senyum dan lambaian tangan yang tampak. Namun, deretan penumpang terluka serta wajah-wajah panik. Maklum saja, 358 orang (19 di antaranya kru) di dalam pesawat China Airlines dengan nomor penerbangan CI 687 itu baru saja melewati masa-masa paling menegangkan dalam hidup mereka.

Dua jam setelah terbang dari Taipei, pesawat Boeing tipe 747-400 yang mereka tumpangi diempas jetstream (angin kencang) pada ruang hampa udara di ketinggian 35 ribu kaki (10,6 km) di atas daratan Sulawesi Utara dan Filipina. Kondisi yang di dunia penerbangan umum disebut turbulensi itu menimbulkan guncangan hebat di pesawat. Kontan seluruh penumpang dilanda kepanikan luar biasa. Pramugari yang mencoba menenangkan penumpang dan penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman langsung terpental dan tersungkur.

Untungnya guncangan itu tidak berlangsung lama. Pilot kembali bisa mengendalikan pesawat sehingga bisa lolos dari guncangan akibat fenomena alam itu. Pesawat masih bisa terbang dalam kondisi normal dan tiba dengan selamat di Bandara Ngurah Rai, Denpasar.

Radar Bali (Jawa Pos Group) melaporkan, beberapa menit setelah roda pesawat menjejak di landasan, tim medis langsung menolong para penumpang dan melarikan yang terluka ke Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Total ada 29 penumpang yang langsung diangkut dengan ambulans nopol B 2374 LQ dan DK 1804 DI, serta beberapa kendaraan lain.

Kepala Dinas Kesehatan Bali dr Dewa Ketut Oka yang memantau tim di RS Sanglah menyatakan, dalam insiden pesawat China Airlines tidak ada korban meninggal. Guncangan di pesawat itu melukai 13 awak dan penumpang. Sampai tadi malam, delapan penumpang dipastikan menjalani perawatan inap di paviliun Amerta Wing Internasional RS Sanglah. Lima sisanya menjalani rawat jalan karena hanya terluka ringan. "Dari delapan tersebut tiga adalah pramugari dan petugas pesawat, sementara yang lain adalah penumpang. Umumnya mereka menderita patah tulang," rinci Ketut Oka.

Dari data RS Sanglah, delapan penumpang pesawat yang terluka cukup parah itu adalah tiga pramugari warga Taiwan, yakni Cheng Yung Mei, 38, Sarah Lin, 32, dan Hsu Shin Chin, 26. Berikutnya korban penumpang asal Taiwan, yakni Huang Yung Te, 61, Jesson Lao, 52, Huang Hui Min, 32. Serta satu warga Tiongkok Chang Yung An alias Jong Die, 28.

Dari hasil observasi di bagian bedah RS Sanglah, empat dari delapan korban menderita patah tulang, paling parah dialami Huang Hui Min. Penumpang warga negara Taiwan itu patah tulang di bagian tulang belakang, dada, dan punggung. "Sementara yang lain hanya patah tulang di beberapa organ tubuhnya, seperti leher, lengan, dan sesak napas," jelasnya.

Meski terbang ke Indonesia, sampai tadi malam baru seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama Dwi Hartati yang terdaftar sebagai penumpang China Airlines. Dwi termasuk korban terluka akibat turbulensi. Namun, dia hanya menjalani rawat jalan di salah satu rumah sakit dekat Bandara Ngurah Rai.

Nama Dwi Hartati diperoleh dari daftar korban yang dirilis Humas PT Persero Angkasa Pura I Ngurah Rai kemarin. "Ada satu WNI, dia ikut terluka," M. Dimiyati, humas PT Angkasa Pura (AP) I, Bandara Ngurah Rai, Denpasar.

Dimiyati juga mengaku belum bisa merinci titik koordinat turbulensi yang menimpa pesawat China Airlines. Pasalnya, pilot tidak melaporkan peristiwa alam itu kepada pihak Bandara Ngurah Rai. "Kita justru mendapat laporan dari Gapura operation lewat ground handling China Airlines. Nanti mungkin ada pilot report-nya ke kita," katanya

Menurut Dimiyati, turbulensi adalah fenomena alam yang kerap terjadi dan menimpa dunia penerbangan. Setelah menerima pilot report dari China Airlines, pihaknya akan meminta pilot penerbangan lain mewaspadai jalur yang dimaksud. "Untuk korban, bisa saja terjadi ketika mereka berjalan di pesawat atau di toilet dan bisa juga karena tidak menggunakan safety bel," tambahnya.

Meski jatuh korban akibat turbulensi, pihak bandara tidak meng-grounding dan memeriksa pesawat. Bahkan, sekitar pukul 17.00 Wita pesawat buatan AS itu kembali terbang ke Taipei. "Dari pengecekan awal kondisi pesawat terlihat mulus, tidak ada kerusakan. Jadi, kita tidak melarang pesawat itu terbang lagi, " ujar Dimiyati.

Momok Turbulensi

Fenomena turbulensi memang menjadi momok para pilot. Pengamat penerbangan Sri Subekti mengatakan, kondisi yang dialami pesawat China Airlines bisa disebabkan turbulensi atau gerak puntir udara karena adanya proses sirkulasi udara di awan.

Dia menjelaskan, di dalam awan tersebut terdapat dua aliran, yakni yang naik berupa uap air dan yang turun berupa air. Secara sederhana, bisa disebutkan bahwa pesawat menabrak awan. ''Biasanya, kalau berada di dalam awan tersebut dan merasakan aliran udara itu, itu yang membuat pesawat bergetar,'' katanya tadi malam.

Sri mengungkapkan, awan tersebut memang bisa membahayakan. Menurut dia, dalam ketinggian tertentu, awan tersebut bisa menyebabkan pesawat patah. Namun, dengan kemajuan teknologi, dampak turbulensi bisa dihindari, bahkan diminimalkan. ''Turbulensi kini bisa dideteksi dengan radar sehingga pesawat tidak terbang terlalu tinggi,'' ungkap mantan pilot Garuda itu.

Ketika terjadi turbulensi, lanjut dia, pesawat bisa bergerak turun atau naik secara tiba-tiba. ''Makanya, kalau penumpang tidak menggunakan sabuk pengaman, dia bisa terpental,'' jelasnya.

Dalam sejarah penerbangan modern, sejak dioperasikannya jet pada 1950-an, tidak pernah tercatat ada kecelakaan fatal (fatal-accident) pesawat komersial akibat jetstream atau turbulensi pada ketinggian jelajah di atas 30.000 kaki. Turbulensi, bagaimanapun ekstremnya, tidak pernah ''menjatuhkan'' pesawat terbang.

Di kalangan maskapai penerbangan yang membuka rute internasional, reputasi China Airlines dalam hal keselamatan kurang meyakinkan. Maskapai yang dimiliki China Aviation Development Foundation, perusahaan BUMN Tiongkok itu dalam catatan asosiasi penerbangan internasional memiliki rekor insiden buruk. Sejak 1970, maskapai penerbangan yang berdiri pada 1959 itu mengalami rata-rata 3,21 kali kecelakaan per satu juta penerbangan. Di pasar domestik, China Airlines bersaing ketat dengan Eva Air.

Penerbangan ke Bali sebetulnya juga baru dibuka empat bulan lalu. Frekuensi penerbangan juga masih sedikit, satu sampai tiga kali per minggu, tergantung okupansi pesawat.(para/gup/jpnn/fal/kim)