[ Jum'at, 19 September 2008 ]
Supatmi; Besuk Suami, Malah Kehilangan Putri Tercinta
Sandal Jepit sang Anak Tertinggal di Halaman Penjara
Demi mengantar sang anak yang kangen bertemu ayah yang sedang ditahan di Lapas Bojonegoro, Supatmi kemarin malah kehilangan putrinya. Dia begitu menyesal karena anaknya yang duduk di taman kanan-kanak tewas akibat peluru nyasar sebelum bertemu dengan sang ayah.
DIMYATI, Bojonegoro
LUKA lantaran tembakan yang mengenai panggul kanannya masih mengucurkan darah. Namun, saat berada di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD dr R Sosodoro Djatikoesoema, Bojonegoro, sekitar pukul 10.40 itu, Supatmi seperti tidak memedulikan rasa sakit. Bahkan, saat petugas berusaha mengeluarkan proyektil yang masih bersarang di tubuhnya, wanita itu masih terus menanyakan kabar anaknya.
"Anakku, anakku!" kata Supatmi. Teriakan itu makin keras ketika dia melihat gadis kecilnya, Sri Wahyuni, terbujur di ranjang yang bersebelahan dengan dirinya. Bocah itu tidak menyahut teriakan ibunya. Ia diam membisu. Tubuhnya kaku. Karena lukanya yang terlalu parah, nyawa Sri -panggilan bocah enam tahun itu- tidak bisa diselamatkan.
Tentang kondisi Sri Wahyuni, staf Humas RSUD dr R Sosodoro Djatimoesoema Bojonegoro drg Thomas Djaja menerangkan, gadis itu tewas karena tertembus peluru mulai dada kanan hingga ketiak dan lengan kiri atas. Luka pada dada kanan berdiameter 1 sentimeter, ketiak kiri 0,5 sentimeter, dan lengan kiri atas 2 sentimeter.
"Akibat tertembus peluru itu, beberapa organ vital yang dilalui peluru tersebut rusak," kata Thomas.
Tidak sesial sang anak, Supatmi kemarin sudah membaik. Sekitar pukul 1 siang, dokter berhasil mengambil proyektil peluru yang masuk sedalam sekitar lima sentimeter di tubuhnya. Meski masih shock lantaran kehilangan anak keduanya, dia sudah bisa bercerita tentang kejadian yang menimpanya.
''Saya tidak tahu peluru itu dari mana. Tiba-tiba, anak saya terjatuh dan berdarah. Setelah itu, saya juga terjatuh karena pinggul saya sangat sakit dan mengeluarkan darah,'' tutur Supatmi kepada Radar Bojonegoro (Jawa Pos Group).
Menurut warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngraho, Bojonegoro, itu, kedatangannya ke Lapas Bojonegoro untuk membesuk suaminya, Suli, 30, yang dititipkan penyidik Polsek Ngraho sejak Senin lalu (15/9). Suli dicokok petugas pada Kamis malam sepekan lalu lantaran diduga mencuri kayu di sekitar hutan desanya.
Beberapa hari tak bertemu, ujar Supatmi, Sri Wahyuni sempat mengatakan kangen bertemu dengan sang bapak. Namun, keinginan itu tak bisa dipenuhi. Apalagi, Suli, sang ayah, ditahan di kota yang jaraknya puluhan kilometer dari desanya. Setelah mengumpulkan uang, kesempatan itu datang Kamis kemarin.
Karena ada beberapa warga lain (terlibat kasus pencurian jati) yang juga ditahan dengan Suli, Supatmi datang bersama delapan keluarga tahanan yang lain. Pulang dari sekolah TK di desanya, Sri pun diajak Supatmi ikut.
Supatmi mengatakan, sebetulnya dirinya ingin mengajak anak pertama (laki-laki berusia 12 tahun) dan orang tuanya. ''Tapi, karena tak punya ongkos, saya hanya mengajak Sri,'' kata Supatmi.
Menurut dia, sehari-hari suaminya hanya bekerja sebagai buruh tani. Sebab, keluarganya tak memiliki lahan yang bisa digarap untuk memenuhi kebutuhan hidup. Untuk membantu menambah penghasilan, Supatmi bekerja sebagai buruh pembuat rinjing (wadah dari bambu).
Dari desanya, rombongan itu naik kendaraan umum. Lalu, dari Monumen Adipura di ujung Jalan Diponegoro, mereka melanjutkan perjalanan dengan naik becak. Saat naik becak, Sri yang saat itu pakai baju motif bunga-bunga kelihatan gembira. Maklum, sudah hampir seminggu dia tak berjumpa dengan ayahnya. Namun, Supatmi tak menyangka, itulah saat terakhir melihat wajah anaknya.
''Tahu begini, saya tidak akan mengajak anak saya membesuk ayahnya,'' sesal ibu berusia 30 tahun itu.
Kaki kecil Sri baru menapak beberapa langkah saat turun dari becak. Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari dalam Lapas Bojonegoro. Setelah bunyi tembakan itu, awalnya peluru mengenai paha juru parkir, lalu menerabas anak Sri. Saat Sri jatuh, Supatmi ikut tersungkur dengan rasa nyeri yang sangat di panggulnya.
Menurut Supatmi, saat itu yang dipikir hanya keselamatan anaknya. Sebab, hari itu dia berjanji mempertemukan Sri dengan ayahnya. Namun, saat melihat anaknya terbujur kaku, Supatmi tak bisa apa-apa. Dia hanya bisa menangis.
Meski gagal bertemu dengan sang ayah, jenazah Sri kemarin bisa dibawa pulang oleh Suli ke desanya. Akibat tragedi penembakan itu, status penahanan Suli ditangguhkan polisi sehingga Suli bisa memakamkan anaknya di kampung halamannya, Sugihwaras, Ngraho.
Petaka yang dialami keluarga pasangan Suli-Supatmi itu membuat warga desanya prihatin. Tak terkecuali Tamudiono, kepala Desa Sugihwaras, yang kemarin ikut menjemput jenazah Sri Wahyuni di rumah sakit.
Menurut dia, keluarga Suli-Supatmi masuk daftar maskin (masyarakat miskin) di desanya. ''Mereka memang tidak punya sawah dan pekerjaan tetap,'' katanya.
Selain baju kembang-kembang milik Sri, yang tersisa adalah sandal jepit merah yang tertinggal di halaman lapas saat sang bocah dibawa lari ke rumah sakit. Sandal berlumur darah itu berhasil diamankan petugas. (el)