Selasa, 09 Februari 2010
 
  Berita Utama
[ Kamis, 31 Juli 2008 ]
Polisi Periksa Lima Penggali Lubang
SURABAYA - Polisi makin mendalami keterlibatan keluarga Very Idham Henyansyah alias Ryan dalam pembunuhan berantai yang menewaskan 11 korban. Sebab, penyidik menemukan fakta bahwa beberapa kerabat ditengarai ikut menikmati hasil kejahatan si jagal manusia asal Jombang tersebut.

Misalnya, sepeda motor. Kendaraan roda dua milik korban pembunuhan itu dipakai salah satu kerabat Ryan berinisial Mulyo Wasis. Sepeda motor tersebut milik korban Muhammad Achsoni alias Soni yang hilang sejak November 2007 lalu.

Kendaraan itu ikut menjadi barang bukti. Kemarin tim Polda Jatim berangkat ke Jombang untuk menyita hasil kejahatan Ryan tersebut. ''Hari ini (30/7), anggota kami sudah mengamankan tiga sepeda motor,'' kata Direktur Reskrim Polda Jatim Kombespol Rusli Nasution kemarin (30/7).

Rusli mengatakan, ada tiga unit motor yang disita petugas. Ketiganya berada di Jatiwates, Tembelang, Jombang. ''Dua motor hanya dititipkan kepada orang lain. Satu motor dipergunakan saudaranya,'' jelasnya.

Dua motor lain itu juga milik korban pembunuhan. Mereka adalah Abidin alias Zaki dan Nanik Hidayati. Hasil penyidikan sementara, setelah dirampas dari korban-korbannya, sepeda motor tersebut tidak sempat dijual atau digadaikan oleh Ryan.

Sepeda motor Suzuki Thunder milik Soni dititipkan kepada Mulyo Wasis sejak empat bulan lalu. Bahkan, kendaraan itu sering digunakan sebagai alat transportasi oleh saudara tiri Ryan tersebut.

Perwira dengan mawar di pundak itu tak membantah bahwa barang bukti motor tersebut bisa jadi petunjuk bagi penyidik menelusuri keterlibatan keluarga Ryan. ''Tapi, saat ini kami belum bisa simpulkan. Apakah keluarganya terlibat atau tidak,'' ucapnya.

Rusli menjelaskan, sejauh ini polisi sudah memeriksa 25 saksi dalam kasus pembunuhan yang dilakukan Ryan. Mereka dari keluarga korban, kerabat, teman, dan tetangga pria yang pernah menjadi guru mengaji tersebut.

Mantan Kapolres Sukabumi itu mengatakan, keterangan Ryan dalam pemeriksaan masih sering berubah-ubah. Karena itu, polisi juga berencana melakukan tes kebohongan dengan menggunakan mesin lie detector. ''Hal itu (tes kebohongan) sangat diperlukan. Kita upayakan minggu depan. Jika bisa minggu ini lebih baik,'' katanya.

Dari Polres Jombang, sejak Selasa (29/7) lalu penyidik memeriksa delapan orang (detail namanya, lihat grafis). Lima di antaranya penggali lubang di belakang rumah Ryan.

Informasi yang dihimpun Radar Mojokerto (Grup Jawa Pos), Suwarto alias Sarto mendapat giliran pertama pemeriksaan. Itu karena polisi mendapat informasi bahwa Suwarto kerap disuruh menggali lubang di belakang rumah Ryan. Saat itu alasan Ryan, lubang tersebut untuk kolam ikan mujair. Ternyata, lubang itu diketahui sebagai lokasi penguburan tiga mayat yaitu Grendy, Vincent, dan Guntur alias Guruh yang digali Senin (21/7) lalu.

Anehnya, Sarto tidak disuruh oleh Ryan, tapi oleh Kasiyatun. Dugaan keterlibatan keluarga pun menguat meski masih samar.

Bahkan, Sarto dan Budiono sempat dikeler petugas ke tempat kejadian perkara (TKP) kemarin (30/7) pukul 09.00. Mereka diminta menunjukkan titik-titik yang pernah digali.

Kepada petugas, mereka mengaku menggali sedikitnya tiga titik. Titik pertama di sebelah barat septic tank. Titik kedua di lubang sebelah selatan tembok belakang (tempat mengubur Zainul Abidin). Lubang ketiga di samping rumah. Lokasi ketiga itu menarik karena belum dibongkar.

Kemudian, Sumarsono dimintai keterangan terkait pekerjaannya sebagai kuli angkut. Dia pernah diminta mengangkut barang-barang dari rumah kos di Jl Merdeka, Jombang. Barang-barang seperi kulkas, televisi, VCD, dan dispenser diangkut dari Jombang ke rumah Ryan di Jatiwates.

Belakangan diketahui bahwa rumah kos itu pernah ditempati Vincent, salah satu korban Ryan yang bekerja sebagai sales sebuah toko elektronik. Dia diduga menguras barang-barang Vincent setelah dibunuhnya.

Bagaimana dengan Solikhan yang merupakan sepupu Ryan? Keterkaitan Solikhan, Mbok Par, dan tiga penggali lain, belum tampak dengan jelas. Hanya, Solikhan dan Mbok Par dipanggil sebagai tetangga dekat Ryan.

Saksi lain adalah Supardi, Slamet, dan Sunggono. Mereka diduga pernah disuruh Ryan dan keluarganya menggali lubang di pekarangan tersebut. Untuk setiap pekerjaan, mereka diupah Rp 20 ribu.

Kapolres Jombang AKBP M. Khosim melalui Wakapolres Kompol Rosa Thomas Setyawati mengatakan, peran para saksi tersebut masih didalami petugas. Selain itu, belum ada indikasi yang mengarah pada keterlibatan mereka dalam pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan. ''Seluruhnya masih kita dalami," ujar Wakapolres.

Polres Jombang kemarin kembali mendatangi TKP rumah Ryan. Tim penyidik tersebut dipimpin Wakapolres dan Kasatreskrim AKP Kasyanto.

Kali ini mereka menyisir rumah Ryan dan mencari sejumlah barang bukti lain. Petugas juga membawa dua saksi. Yakni, Suwarto alias Sarto, warga Desa Jatiwates, dan Budiono, warga Desa Sentul, Tembelang, Jombang. Dua penggali itu diminta menunjukkan sejumlah titik yang pernah digali.

Suwarto merupakan orang suruhan Kasiyatun. Suwarto sering disuruh Kasiyatun menggali sejumlah lubang. Begitu pula Budiono, yang juga pernah menggali di kebun tersebut. Hanya, Budiono disuruh Ryan.

Pada kesempatan itu petugas berhasil mendapatkan sejumlah barang bukti. Semuanya dari dalam rumah Ryan. Tapi, petugas tidak merinci barang bukti tersebut.

Namun, menurut informasi yang diperoleh Radar Mojokerto, ada beberapa dompet yang diamankan sebagai barang bukti. Dompet pertama berisi lima gelang, satu kalung, dan tiga gelang rantai. Dompet kedua berisi surat-surat gadai dan struk Hotel Karya Buana (lokasi belum diketahui). Dompet ketiga berisi cincin, bros, dan sepasang anting. Selain itu, petugas mendapatkan dua buku tabungan, satu bendel bukti penyetoran dan penarikan bank BNI, serta sebilah parang.

Penyidik sempat mencurigai salah satu titik di dalam kamar. Di lantai ubin itu terdapat satu titik yang terasa kosong di bagian bawahnya. "Saat diketuk-ketuk, bunyinya tidak sama dengan yang lain. Kesannya ada rongga di bawahnya," ujar sumber Radar Mojokerto.

Orang Tua Ryan Dites Kejiwaan

Setelah Ryan, pemeriksaan psikotes dilakukan terhadap orang tua Ryan, Ahmad dan Kasiyatun, serta kakak sulungnya, Mulyo Wasis. Selasa (29/7) malam tim dokter psikiater Mabes Polri mendatangi Polres Jombang. Pemeriksaan dilakukan secara bergiliran, pukul 19.30 hingga 22.00. Sedikitnya lima psikiater memeriksa ketiganya. Hasil pemeriksaan itu akan digunakan sebagai penunjang terhadap hasil pemeriksaan Ryan.

AKP Rini Wowor, salah seorang anggota tim psikiater mengatakan, timnya juga memeriksa orang tua Ryan. Mereka ingin menggali keterangan tentang kondisi kejiwaan Ryan sejak kecil. Kendati demikian, Rini tidak bersedia memberikan gambaran apa pun mengenai hasil pemeriksaan itu.

''Kita belum bisa menentukan, apakah ada gangguan (psikologis pada Ryan, Red) atau tidak. Kita masih perlu mendalami hasilnya," ujarnya. Usai pemeriksaan, tim psikiater langsung meninggalkan Mapolres Jombang dengan mobil Kijang Innova bernopol L 9 W.

Takut Hukuman Mati

Adil Pranadjaja, kuasa hukum Ryan, kemarin juga mendatangi Mapolda Jatim. Usai bertemu kliennya, dia menceritakan bahwa kliennya dicekam ketakutan. ''Dia takut dihukum mati. Makanya, dia bertanya, hal apa saja yang meringankan hukuman sehingga tidak dihukum mati,'' terangnya di gedung Ditreskrim Polda Jatim.

Kepada Ryan, Adil berpesan, salah satu hal yang meringankan adalah tidak memberikan keterangan berbelit selama penyidikan hingga persidangan nanti. ''Saya minta dia kooperatif,'' ucap Adil.

Adil menambahkan, kliennya juga bicara soal jumlah korban. ''Pengakuan terakhir, dia membunuh 11 orang. Dia belum menyebut ada korban lain. Motifnya harta,'' terangnya.

Dalam proses pembuktian, Adil minta polisi lebih teliti dalam melakukan tes psikologi. Sebab, dia menengarai bahwa kliennya memang mengalami gangguan psikologi luar biasa. ''Ngakunya sih, kalau membunuh, dia seperti mendapat bisikan gaib gitu,'' tukasnya.

Lagi, 2 Orang Hilang Dilaporkan

Polres Jombang terus kebanjiran laporan orang hilang. Setelah nama Hendro Liyono, posko pengaduan Polres Jombang kembali menerima laporan dua orang hilang kemarin. Pelapor pertama adalah M. Lukman Khakim, 46, warga Jl Krapak Gang 2 Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang.

Lukman melapor bahwa adiknya, Mohammad Affandi, 27, hingga kini belum kembali ke keluarganya.

Menurut Khakim, Affandi pergi dari rumah sejak April 2006. Saat itu Affandi berpamitan akan pergi ke Pulau Bali. Di sana dia akan bekerja di sebuah pabrik roti. Pada Oktober 2007, Affandi sempat menghubungi telepon rumah.

Saat itu Affandi menggunakan nomor HP: 0857370266xx yang tidak diketahui milik siapa. Affandi sempat berbincang dengan adiknya, M. Achlis. Namun, isi pembicaraan masih belum jelas.

Pelapor kedua adalah Supriyatin, 32, warga Desa Dapur Kejambon, Kecamatan Jombang. Supriyatin melaporkan bahwa adik kandungnya, Tulus Purwanto, 28, tidak pulang sejak September 2006 lalu. Saat itu Tulus berpamitan jalan-jalan dengan sepeda angin. Tapi, dia tak kunjung kembali ke rumah.

Pada Oktober 2006, sepeda angin Tulus ditemukan di Stasiun KA Jombang. Hingga kini Tulus juga belum pulang. Sementara itu, belum ada keterkaitan antara kedua orang hilang tersebut dengan pembunuhan yang dilakukan Ryan.

Namun, para keluarga orang hilang itu baru melapor setelah mendengar kasus yang menggemparkan tersebut. Hingga kini petugas Polres Jombang masih menampung pengaduan orang hilang tersebut. (fid/doy/yr/lal/nk/agm)