Kamis, 09 September 2010
 
  Politika
[ Selasa, 09 Februari 2010 ]
Bima Arya Sugiarto, dari Pengamat ke Politik Praktis
Gagal Jadi Jubir Presiden, Kini Gabung Parpol

Satu lagi pengamat politik yang akhirnya menceburkan diri ke dunia politik praktis. Dia adalah Direktur Eksekutif Charta Politica Bima Arya Sugiarto. Apa yang memotivasinya?

Priyo Handoko, jakarta

---

PRIA kelahiran Bogor, 17 Desember 1972, itu berencana menempati posisi ketua DPP PAN Bidang Litbang, sekaligus kepala Badan Litbang DPP PAN. Saat dihubungi Minggu malam lalu (7/2), Bima Arya mengaku tengah dalam perjalanan ke rumah dinas Hatta Rajasa yang berada di Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan.

''Ya, aku lagi ke rumah HR nih (Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa),'' kata Bima Arya lewat ponselnya. Semua calon pengurus memang dipanggil Hatta untuk ditanya mengenai komitmennya dalam membesarkan partai. Termasuk kesediaan menjadi pengurus. Bima Arya termasuk salah satu yang tercatat dalam daftar undangan.

Selama ini Bima Arya termasuk pengamat politik favorit. Sebagai praktisi politik ''cuap'' alias komentator, dirinya sering muncul di televisi, termasuk sebagai narasumber di acara Democrazy.

Sejak Pemilu 2009 lalu, Bima Arya sebenarnya mulai terlihat dekat dengan PAN. Apalagi, lembaga konsultan politiknya mendapat proyek besar untuk membekali dan mendampingi caleg-caleg artis dari PAN. Eko ''Patrio'' Hendro Purnomo dan Primus Yustisio, dua di antara belasan caleg artis PAN, lolos ke Senayan.

Saat pilpres, Bima Arya direkrut menjadi wakil ketua Dewan Pakar Tim Sukses SBY-Boediono. Meski Hatta Rajasa juga didapuk menjadi ketua tim sukses pasangan nomor urut dua itu, Bima Arya justru diisukan bakal bergabung dengan Partai Demokrat. Kompensasi atau bonus yang akan diperoleh adalah posisi juru bicara presiden. Tapi, faktanya, posisi jubir presiden ternyata diberikan kepada Julian Aldrin Pasha.

Apakah Bima Arya bergabung ke PAN karena sakit hati? ''Memang banyak yang berspekulasi saya akan ke Partai Demokrat. Padahal, jiwa saya lebih ke PAN sebagai partai reformis,'' jawabnya.

Bima Arya menerangkan, dirinya sebenarnya ikut mendirikan PAN di Kota Bandung pada 1998. Bahkan, dia duduk sebagai wakil sekretaris DPD PAN Kota Bandung sampai 2000. ''Begitu menjadi staf pengajar di Universitas Paramadina, terpaksa nonaktif dulu,'' tuturnya.

Apalagi, setelah itu dia juga mengambil gelar doctor of Philosophy Political Science and International Relations di Australian National University, Canberra, dan lulus pada 2006. Selanjutnya, Bima Arya mendirikan lembaga riset Charta Politica Indonesia yang mulai aktif pada Maret 2008.

''Jadi, saya punya alasan untuk meneruskan karir politik di PAN. Dengan kata lain, saya kembali ke PAN, bukannya baru masuk,'' tegas Bima Arya. Dia menyadari bahwa bergabung ke partai politik bisa jadi menutup karirnya sebagai pengamat politik. Tapi, Bima Arya sudah siap menerima konsekuensi itu.

''Risikonya memang besar. Ruang gerak saya akan menyempit atau terbatas. Apalagi, citra partai politik dan politisi sedang jelek. Kalau jadi pengamat, lebih save dan materinya lebih banyak. Tapi, hitung-hitung ini pengabdian,'' tuturnya, lantas tertawa.

Proses sebagai pengamat dan mengkritik dari luar, imbuh Bima Arya, telah dijalani sepuluh tahun terakhir. Sekarang dia ingin melakukan perubahan dari dalam. ''Kebetulan ada momentum kongres. Begitu diajak masuk, ya siap saja,'' ujar Bima Arya. Pengurus DPP PAN dilantik pada 9 Februari hari ini. (*)