[ Selasa, 09 Februari 2010 ]
Para Repatrian "Eks Papua Nugini" setelah Kembali ke Kampung Halaman
Memilih Pulang karena Keamanan-Pendidikan di Papua Lebih Baik
Kembali ke tanah air setelah puluhan tahun hidup sebagai pengungsi politik di Papua Nugini, 42 warga Papua kini menapaki kehidupan baru di kampung halaman semula. Banyak tantangan menghadang. Termasuk kendala bahasa.
YULIUS SULO, Merauke
---
LEBIH dua bulan kembali ke Merauke, hingga kemarin tidak banyak yang dikerjakan para repatrian di tempat baru. Mereka masih tinggal di Transito, eks penampungan para transmigran di Gudang Arang, Kelurahan Maro, Merauke. Semua biaya hidup sehari-hari masih ditanggung pemerintah.
''Setiap hari kami dibawakan makanan tiga kali. Untuk sarapan, makan siang, dan makan malam,'' kata Adolfina, 39, salah seorang repatrian, saat ditemui Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group). Dia duduk santai di kursi plastik di luar kamar.
Tahu ada tamu yang datang, Chris Ogi Balagaize, 39, suami Adolfina, keluar dari kamarnya. Warga repatrian lainnya memilih tidur-tiduran di kamar.
Berbeda dengan Adolfina yang bisa berbahasa Indonesia, Chris tak bisa berbahasa Indonesia. ''Dia lahir di PNG (Papua Nugini). Dia hanya tahu bahasa Inggris, Fiji, dan Motu,'' kata Adolfina tentang sang suami.
Adolfina sendiri lahir di Merauke. Tapi, sejak kecil dia dibawa orang tuanya menyeberang ke PNG. ''Bapak saya meninggal di sana. Tinggal Ibu, tapi dia sudah ke sini (Merauke) pada penjemputan kedua 2005 lalu. Sementara kedua orang tua suami saya meninggal di PNG," kata Adolfina yang sebelum kembali ke Merauke tercatat sebagai karyawan hotel di Kota Daruh, PNG.
Menurut Adolfina, 42 repatrian itu terdiri atas 10 kepala keluarga (KK). Namun, tiga keluarga di antaranya, bersuamikan asli warga PNG, sehingga belum bisa diboyong ke sini. ''Rencananya menyusul ke sini. Hanya istri dan anak-anak mereka duluan,'' katanya.
Mengapa keluarga mereka ke PNG, Adolfina mengaku tidak tahu karena orang tuanya tidak pernah bercerita. Yang jelas, mereka memilih kembali ke Indonesia karena hidup di PNG semakin sulit. Kendati suaminya berprofesi sebagai guru kelas VI, VII dan VIII, di Daruh, PNG, gaji yang diterima setiap bulan tidak cukup untuk membeli makanan.
Penghasilan mereka tidak cukup untuk membeli pakaian dan perabot rumah tangga lainnya. Termasuk untuk biaya pendidikan anak. ''Anak kami harus sekolah dan hidup lebih baik daripada kami," katanya.
Apalagi, lanjut Adolfina yang menjadi ibu empat anak ini, sistem pendidikan di PNG berbeda dengan di Indonesia. Kalau (anak) tidak naik kelas, berarti selesai sampai di situ. Mereka dipaksa pulang kampung. "Tidak ada istilah mengulang. Kalaupun mau mengulang, harus bayar dengan jumlah besar,'' katanya.
Adolfina berharap setelah "kembali" ke Merauke, anak-anaknya bisa diterima di sekolah dengan baik. ''Mereka sudah didata pemerintah untuk bisa masuk sekolah nanti,'' jelasnya.
Selain itu, alasan yang disebut Adolfina adalah faktor keamanan. Negeri yang terletak timur di kawasan Papua itu memiliki tingkat kriminalitas sangat tinggi. Meski tinggal di kota, lanjut Adolfina, Daruh seperti kota mati saat malam. ''Toko-toko sudah tutup pada pukul empat sampai setengah lima sore. Bahkan, pada jam enam sore tidak ada yang berani keluar rumah,'' jelasnya.
Dibandingkan dengan PNG, menurut Adolfina, Merauke jauh lebih baik. Buktinya, di salah satu kota besar Papua ini orang bisa bebas keluar malam. Selain itu, makanan tidak sulit dan pendidikan mudah diperoleh.
''Untuk bisa makan memang kita harus bekerja mencari uang. Tapi, kalau uang ada, mau beli apa saja semuanya tersedia. Di sana (barang-barang) terbatas dan harganya mahal lagi,'' katanya.
Disinggung sampai kapan tinggal di penampungan, Adolfina menyatakan tiga bulan. Setelah itu mereka dipindahkan ke rumah yang dibangun pemerintah.
Senada dengan Adolfina, Markus Baba merasakan hal yang sama. Markus yang orang tuanya berasal dari Sentani, Papua, mengaku memilih kembali ke Papua bersama istri dan tiga anaknya karena hidup di PNG semakin sulit. Itu karena harga makanan terus melambung sejak 2000,
''Orang asli di sana masih bisa hidup karena memiliki tanah dan uang," kata pria kelahiran Port Moresby, PNG, 29 tahun lalu.
Menurut Markus, ketika akan pulang ke tanah air, dia sempat takut dengan masalah keamanan di Merauke. Perasaan itu pulalah yang dirasakan orang Indonesia lainnya yang masih berada di PNG. ''Rasa takut itu hilang karena justru keamanan di Papua lebih baik." (el)