Kamis, 09 September 2010
 
  Berita Utama
[ Senin, 08 Februari 2010 ]
Sulit Cari Teknisi dan Ilmuwan Baru
BERAPA gaji sarjana baru yang diterima bekerja di Pindad? Pertanyaan itu, kata Dirut PT Pindad Dr Adik Avianto Sudarsono, sering dilontarkan para pelamar perusahaan yang berkantor pusat di Jalan Gatot Subroto, Bandung, Jawa Barat, tersebut.

"Banyak yang memutuskan mundur sebelum bekerja soalnya memang tidak besar," kata lulusan University Missouri, Amerika Serikat, itu. Gaji pertama pegawai baru Pindad dari level sarjana adalah Rp 2,3 juta. "Sekarang ilmuwan-ilmuwan cerdas sudah nggak mau ngelamar ke Pindad. Mereka lebih memilih ke perusahaan multinasional yang gajinya gede. Lulusan ITB, misalnya, hanya bisa dihitung dengan jari," ujar Adik.

Karena itu, Pindad masih mengandalkan para ilmuwan dan teknisi senior rekrutan B.J. Habibie pada 1983. "Di angkatan, saya tinggal dua orang," kata Adik yang juga lulusan ITB Bandung tersebut.

Untuk menyuplai tenaga baru, Pindad bekerja sama dengan beberapa politeknik negeri maupun swasta di Jawa Barat. "Kami juga tak punya cukup sumber daya untuk road show atau maraton ke kampus-kampus seperti perusahaan-perusahaan swasta besar yang lain," tutur Adik.

Dengan pesanan yang kian hari kian bertambah, Adik menyatakan harus ekstrasabar menghadapi karyawan baru, terutama yang bukan dari kampus-kampus negeri. "Harus lebih detail menjelaskan agar mereka tidak salah paham. Ya, ibaratnya ini mobil biasa yang disuruh balapan," katanya.

Adik mengatakan biasa begadang, bahkan tidur di kantor untuk menemukan formula terbaik demi kemajuan Pindad. "Mau tidak mau kita harus siap mandiri. Nanti, kalau semua pesanan pemerintah ke kita, sumber daya have to be ready," tegasnya.

Dengan kualitas pegawai yang rata-rata ''sepuh" ditambah tenaga muda dari kampus-kampus kelas dua, kualitas senjata Pindad tidak lantas menurun. "Kita terus inovasi. Misalnya, senjata SS-1 kita itu tahan 20 tahun, coba cek saja ke angkatan yang memakai. Kita juga mengembangkan senjata baru yang popornya bisa dilipat," katanya.

Juru bicara Pindad Timbul Sitompul yang mendampingi Jawa Pos menambahkan, pengecekan kualitas senjata punya prosedur yang sangat ketat. "Senapan serbu, misalnya, harus tahan lumpur, tahan air, dan tahan banting," ungkapnya.

Pria yang sudah 26 tahun mengabdikan diri di Pindad itu menjelaskan, saat ini di Pindad ada 2.700 karyawan. "Mereka selalu menjalani tes psikologis secara bertahap untuk memantau kinerjanya," katanya.

Beberapa divisi khusus, seperti divisi bahan peledak dan divisi senjata, memiliki aturan yang lebih ketat. "Pintunya khusus, pegawai di luar divisinya tidak bisa mudah keluar masuk," tuturnya.

Detektor logam (metal detector) khusus juga dipasang. "Tanpa detektor pun, sebenarnya tidak mungkin ada pegawai yang berani macam-macam, misalnya menyelundupkan senjata keluar. Risikonya jelas, dipecat dan hukum pidana," katanya.

Timbul lantas mengajak Jawa Pos meninjau bengkel-bengkel Pindad. Di beberapa lokasi, hanya boleh dilihat tapi dilarang memotret. "Soalnya ini termasuk rahasia negara," jelasnya. (rdl/git)