[ Rabu, 20 Januari 2010 ]
Ketika Lanun Somalia Kian Jual Mahal Hargai Sandera
Barter Kapal Tanker dengan Rp 64,5 M
Rekor uang tebusan tanker Sirius Star terlampaui. Demi mendapatkan kembali tanker Maran Centaurus, perusahaan Yunani membayar USD 5,5 juta (sekitar Rp 50,7 miliar) hingga USD 7 juta (sekitar Rp 64,5 miliar) kepada lanun Somalia.
---
DUIT tebusan Maran Centaurus yang diberikan Senin (18/1) itu tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah. Jumlahnya jauh melampaui yang disetorkan perusahaan Arab Saudi kepada bajak laut Somalia tahun lalu sebanyak USD 3 juta (sekitar Rp 27,6 miliar).
"Uang tebusan itu kini disimpan di sebuah rumah dengan pengamanan ekstraketat di Haradheere (sering disebut juga Harardhere), kota pesisir di ujung utara Mogadishu," terang Ecoterra International, kelompok yang mengawasi pergerakan kapal di perairan Somalia, seperti dilansir The Christian Science Monitor kemarin (19/1).
Baku tembak mewarnai serah terima uang tebusan tersebut. Dua kelompok bajak laut yang hadir dalam transaksi pembebasan Maran Centaurus, konon, terlibat perselisihan. Baku tembak pun tak terelakkan. Konon, dalam baku tembak beberapa menit itu, dua perompak tewas. "Berita itu tidak benar. Seluruh kru kami selamat," bantah Hassan, pria yang mengklaim dirinya sebagai juru bicara bajak laut, dalam wawancara dengan Reuters.
Berpindahnya sejumlah besar uang ke tangan kelompok lanun Somalia menunjukkan bahwa patroli internasional di perairan Negeri Tanduk Afrika itu mandul. Bahkan, sejak patroli gabungan di Teluk Aden dan Laut Arab dilancarkan, pembajakan justru semakin marak. "Mereka (perompak) malah semakin sering menuai untung. Keahlian mereka membajak kapal juga meningkat pesat," kata Roger Middleton, pakar pembajakan Somalia di Chatham House Inggris.
Menurut Middleton, jumlah kapal besar yang menjadi kapal induk para pembajak saat beraksi semakin bertambah. Belum lagi, kapal-kapal kecil yang menjadi kendaraan para lanun mendekati mangsa. "Dengan mengerahkan kapal induk dan kapal-kapal kecil penyerang, bajak laut Somalia sukses meningkatkan rasio keberhasilannya. Dari 40 keberhasilan dalam tiap 200 penyerangan (40:200) tahun lalu, kini menjadi 40:100," urainya.
Sejak 1991, setelah militan menumbangkan pemerintahan Siad Barre, Somalia praktis tidak mempunyai pemerintahan efektif. Presiden Sheikh Sharif Ahmed dan jajaran pemerintahannya hanya menguasai lima blok kawasan di ibu kota. Di setiap penjuru negeri, pertikaian antarklan yang memperebutkan kekuasaan nyaris tak pernah berhenti. Kemiskinan pun membelit masyarakat Somalia. Jutaan warga terpaksa meninggalkan rumah dan berlindung di kamp pengungsian yang didukung penuh PBB.
Kesibukan pemerintah mengurusi pergulatan politik dan kelaparan di daratan Somalia membuat kejahatan di laut tak terjangkau. Maka, sepak terjang bajak laut pun kian tak terbendung. Apalagi, tidak ada konsekuensi nyata yang pernah mereka terima sebagai dampak kejahatannya. "Butuh solusi jangka panjang untuk mengakhiri aksi para pembajak. Sebelum ada hukum tegas yang membuat mereka jera, para pembajak masih akan terus beraksi," lanjut Middleton.
Kapal minyak Maran Centaurus dibajak ketika berlayar dari Kuwait menuju Teluk Meksiko pada 29 November tahun lalu di dekat Seychelles. Saat itu, tanker yang memiliki 28 orang awak kapal itu mengangkut dua juta barel minyak.
Lanun Somalia yang ganas dari tahun ke tahun terus makan korban. Tempat mereka beraksi paling ''favorit'' di perairan lepas pantai Somalia. Data Biro Maritim Internasional menyebutkan bahwa antara April hingga Juni 2008 saja, sedikitnya 24 kapal diserang di kawasan tersebut. Angka itu naik dua kali lipat dibandingkan serangan tahun 2007.
Dari kapal-kapal yang diserangnya, bajak laut mendapatkan uang tebusan jutaan dolar. Pada Desember lalu saja, mereka meraup jutaan dolar dari kapal Kota Wajar berbendera Singapura, juga kapal barang MV Delvina milik Yunani. (hep/ami)