TARAKAN - Kejujuran masih menjadi barang langka di negeri ini. Setidaknya itulah yang terlihat dari dioperasikannya kantin kejujuran di sekolah-sekolah.
Hampir setiap kantin kejujuran bangkrut karena hasil penjualan jauh lebih rendah daripada modal. Sistem pembelian yang memberikan kesempatan bagi pembeli untuk membayar tanpa melalui dan pengawasan kasir justru memperbesar ketidakjujuran.
Di Tarakan, misalnya, rata-rata kejujuran pembeli hanya satu persen jika dibandingkan dengan yang tidak jujur. Sekretaris Pengelola Kantin Kejujuran SMP 2 Tarakan Rita Hayati menjelaskan, hanya sehari dalam setahun kantin kejujuran mendapat pembayaran yang sesuai dengan modal. ''Kalau dihitung mungkin hanya satu persen yang jujur,'' katanya.
Rita mengungkapkan, Senin (11/1) tingkat ketidakjujuran siswa melebihi kejujuran sebesar 1,2 persen. Kemudian Selasa (12/1), tingkat ketidakjujuran siswa menurun menjadi 0,9 persen. Pada Rabu (13/1), tingkat ketidakjujuran siswa mencapai 2 persen dan kembali meningkat pada Kamis (14/1) menjadi 5,8 persen.
Dikhawatirkan Rita, jika persentase ketidakjujuran terus melebihi kejujuran siswa saat berbelanja di kantin tersebut, sangat mungkin kantin kejujuran di SMP 2 gulung tikar. ''Modal yang kami gunakan untuk beli dagangan sehari-hari tidak bisa lagi diputar. Jika merugi terus, nanti tidak ada lagi dana untuk memutar modal dan menjalankan usaha kantin kejujuran ini," ungkap Rita. (*/nic/jpnn/ruk)