Jum'at, 03 September 2010
 
  Internasional
[ Kamis, 19 November 2009 ]
Kerja Keras Sukarelawan APEC Ke-17 di Singapura
Berlatih Jabat Tangan, Bisa Menunjang Nilai Kuliah

Kesuksesan APEC ke-17 di Singapura tak lepas dari peran besar para sukarelawan. Mereka terpilih lewat seleksi ketat. Berikut laporan wartawan Jawa Pos MAWAR ASTARITI yang baru kembali dari sana.

---

DUA gadis berwajah oriental terburu-buru masuk ke Singapore International Convention and Exhibition Centre (SSICEC), venue APEC ke-17 di Singapura, pada hari pertama perhelatan yang dihadiri Presiden Amerika Serikat Barack Obama tersebut, 13 November silam. Sebagai sukarelawan sebuah even akbar yang dihadiri banyak pemimpin negara itu, dua gadis tersebut -Eau Yan Sun, 17, dan Stacey Lim Yeung Hui, 17- memang harus bergerak cepat karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan.

''Kami harus menyiapkan segala sesuatunya. Mulai menata press kit hingga mendata peserta. Ini bukan tugas yang mudah. Lebih dari seribu peserta yang hadir dalam acara ini. Kami tak boleh melakukan kesalahan sedikit pun,'' tutur Eau dan Stacey bergantian.

Karena itu, tak heran kalau mereka tak bisa langsung mengangguk setuju untuk berbincang dengan Jawa Pos. ''Tunggu ya, kami minta izin pemimpin kami dulu,'' ucap Stacey yang berstatus mahasiswa di Temasek Polytechnic dengan ramah.

Beruntung, izin untuk mereka turun. Padahal, tanggung jawab mereka tak kecil untuk turut menyukseskan ajang yang berlangsung hingga 15 November dan dihadiri Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono tersebut.

"Saya dan Stacey bertugas di pos yang sama, yakni front desk sebagai penerima tamu," kata Eau.

Total ada sekitar 1.500 sukarelawan yang diterjunkan di even itu. Mayoritas adalah mahasiswa. Mereka terpilih melalui seleksi ketat. Awalnya, mereka tertarik dengan pengumuman di website milik Heartware, semacam perusahaan yang kerap mengumpulkan mahasiswa dalam acara serupa.

Ruiwen LIN, master of public affairs dari Heartware, mengungkapkan, agar lolos, kandidat harus memenuhi beberapa kriteria. Di antaranya, bersedia bekerja keras dan tentunya tak menerima kompensasi berupa finasial. ''Mereka harus bisa menjawab mengapa mereka ingin menjadi panitia," ujar Ruiwen yang telah tiga tahun bekerja untuk Heartware.

Setelah lolos dan terpilih menjadi kandidat, mereka menjalani serangkaian pelatihan selama satu setengah bulan. Sebagian besar pelatihan itu mengajarkan dan melatih peserta soal bersikap yang baik. Bahkan, mereka diajari cara bersalaman yang benar dengan para diplomat tersebut.

''Kalau berjabat tangan, kedua tangan harus saling merekat dan menggenggam dengan cukup kuat serta digoyangkan," papar Eau dan Stacey sambil mempraktikkannya. ''Kami harus tahu bersikap yang pantas di hadapan para pemimpin negara. Harus tahu apa yang harus serta apa yang tak boleh dilakukan."

Pelatihan tata krama itu penting karena para sukarelawan tak hanya diterjunkan sebagai penerima tamu. Sebagian juga ditempatkan sebagai spouse. Itu istilah untuk pendamping bagi pasangan peserta APEC.

''Saya bertugas menemani pasangan anggota APEC yang datang. Kalau suami atau istri mereka rapat, kami jalan-jalan," tutur Martin Yim, sukarelawan lainnya yang bertugas sebagai spouse.

Tiap spouse bertanggung jawab atas dua orang tamu. Mereka wajib memandu dan menemani para pasangan tamu itu, mulai kedatangan hingga acara selesai. ''Saya menemani pasangan dari Rusia dan entah saya lupa satu lagi dari mana. Tetapi, bahasa Inggris mereka bagus sekali sehingga saya tak kesulitan,'' ucap mahasiswa jurusan intelligent building di Temasek Polytechnic berusia 18 tahun itu.

Meski tak mendapat bayaran sama sekali, baik Eau, Stacey, maupun Martin mengatakan sangat bangga dan puas bisa ambil bagian di even sebesar APEC. Apalagi, tugas itu bisa menjadi salah satu nilai kredit dalam perkuliahan mereka. (*)