
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo meminta perbankan meningkatkan efisiensi di tengah kenaikan suku bunga acuan. (Istimewa)
JawaPos.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meminta perbankan untuk meningkatkan efisiensi agar tidak menaikkan suku bunga kredit dan tetap mendorong penyaluran kredit, seusai BI-Rate diputuskan naik 50 basis poin (bps) ke level 5,25 persen.
“Kami meminta bank-bank juga meningkatkan efisiensi supaya jangan menaikkan suku bunga kredit. Efisiensi harus ditingkatkan supaya betul-betul mendorong kredit,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, dikutip Kamis (21/5).
Perry mengatakan, bank sentral meyakini likuiditas pasar uang dan perbankan saat ini lebih dari cukup. Dalam hal ini, BI telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur sehingga likuiditas mengalir ke pasar uang dan perbankan. Sejak awal tahun hingga 19 Mei 2026, pembelian SBN oleh BI mencapai Rp 140,57 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp 73,28 triliun.
Selain itu, pertumbuhan Uang Primer (M0) juga dijaga agar lebih dari 10 persen atau double digit. Pada April 2026, M0 tercatat tumbuh sebesar 14,1 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 11,8 persen (yoy).
Dari sisi perbankan, rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) tercatat sebesar 25,39 persen dan DPK masih tumbuh tinggi sebesar 11,39 persen (yoy) pada April 2026.
Berdasarkan catatan BI, kredit perbankan pada April 2026 tumbuh sebesar 9,98 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 9,49 persen (yoy). BI memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12 persen.
Pada April 2026, suku bunga kredit tercatat sebesar 8,73 persen, sementara suku bunga deposito 1 bulan sebesar 4,16 persen. "Bank Indonesia mendukung pertumbuhan ekonomi, likuiditas lebih dari cukup. Bank kemudian juga tentu saja bisa berperan di dalam pertumbuhan kredit untuk ekonomi," kata Perry.
Lebih lanjut, BI terus memperkuat implementasi kebijakan makroprudensial yang akomodatif antara lain melalui penguatan kebijakan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk terus mendukung penyaluran kredit/pembiayaan perbankan.
Pelonggaran kebijakan RIM dilakukan melalui perluasan cakupan dan penguatan kriteria surat berharga/surat berharga syariah korporasi yang dimiliki dan diterbitkan oleh bank sebagai dasar perhitungan RIM, efektif mulai 1 Juli 2026

Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Viral Investor MBG Ngamuk di Kantor BGN, APGI 3T Sebut Aksi Spontan Atas Potensi Kerugian Rp 1,8 Triliun
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
