Jum'at, 03 September 2010
 
[ Senin, 30 Agustus 2010 ]
Penculikan Soren ke Sekolah Burung Hantu Yatim Piatu
Arti Sebuah Pengorbanan

Suasana diskusi Guardian of Ga'Hoole: The Capture di Kunang-Kunang Cafe terasa lebih akrab ketika kelima bookaholic, yakni Naufal, Adit, Marsha, Wafda, dan Revina, membahas beberapa bagian menarik di dalam novel karya Kathryn Lasky tersebut.

---

NOVEL ini menuturkan kisah petualangan Soren, seekor burung hantu Barn Owl. Di sini diceritakan Soren masih kecil dan belum bisa terbang ataupun berjalan di dahan. Suatu hari Soren diculik seekor burung hantu dewasa. Ia membawanya ke sekolah khusus burung hantu yatim piatu bernama St Aegolius. Di sanalah Soren memulai cerita petualangannya.

Naufal yang terlihat paling antusias pada diskusi tersebut. Dia memberanikan diri membuka suara terlebih dahulu. Dia menyebut penculikan Soren sebagai sesuatu yang positif. Empat temannya yang lain pun kaget mendengar pendapat itu.

"Ada untungnya juga lho ia diculik. Soalnya ia jadi bisa kenalan sama Gylfie, Twilight, dan burung hantu lain. Sekalian nambah teman, hahaha," canda Naufal riang. Komentar Naufal lantas direspons Revina. "Ya jangan dong! Kan kasihan soalnya dia jadi jauh dari keluarganya. Apalagi, dia masih kecil gitu," cuap cewek rambut panjang itu.

Naufal masih senyum-senyum seolah merasa opininya masih benar. Tak lama kemudian, Adit yang berkomentar. "Eh coba liat di halaman belakang deh. Di sini kan dijelaskan macam-macam burung hantu. Kalo aku boleh milih, aku pengen jadi burung hantu peri kayak Gylfie!" ujar Adit semangat.

Teman-temannya langsung membuka halaman yang dimaksud Adit. Mereka terlihat berpikir untuk memilih burung hantu favoritnya. Adit mendapat dukungan dari Naufal karena dia juga sama-sama suka Gylfie. "Abis, Gylfie tuh pinter banget sih. Dia paling bisa bikin ide kabur dari St Aegolius," ucap Naufal lagi.

Namun, Marsha punya pendapat beda. Cewek berambut panjang itu memilih menjadi Soren. "Emang kenapa kamu pilih Soren, Sha?" tanya Wafda. Marsha tersenyum tipis. "Soalnya Soren kan tokoh utamanya. Selain itu, aku suka sama burung hantu jenis Born Owl. Mukanya berbentuk hati. Keliatan imut, hehehe..." selorohnya.

Empat bookaholic lain tersenyum sambil mengangguk tanda setuju. Ketika ditanya mengenai bagian paling seru dalam novel, Revina menjawab duluan. Menurut dia, bagian yang paling seru adalah sewaktu Soren dan Gylfie melaksanakan misinya kabur dari St Aegolius.

"Ketika Soren dan Gylfie mau kabur, burung hantu lain bernama Hortense rela mengorbankan diri agar kedua temannya itu selamat. Dari situ keliatan bahwa persahabatan mereka tuh so sweet banget," kata Revina sedih. Melihat Revina sedih, Adit menghiburnya. "Udah udah, cup cup," ujarnya.

Tingkah Adit membuat yang lain ketawa geli. Selain kisah seru dan karakter lucu, novel ini memperkaya pengetahuan seputar burung hantu. Termasuk, pendapat yang diucapkan Wafda. Dia baru tahu bahwa burung hantu punya kebiasaan khusus melancarkan pencernaannya. Dalam novel itu memang dijelaskan mengenai beberapa kebiasaan khas burung hantu.

Salah satunya adalah ketika hendak membuang kotoran, mereka mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Para bookaholic juga semangat saat tahu cerita Soren berlanjut ke buku kedua dan difilmkan Warner Bros. (cin/c7/kkn)