[ Senin, 08 Februari 2010 ]
Pendapat Bookaholic tentang Tokoh di Novel Garis Perempuan
Berjuang Jaga Keperawanan
Perempuan didapuk untuk menjaga kehormatannya. Termasuk, menjaga keperawanan hanya untuk orang yang dicintainya.
---
LIMA peserta bookclub kali ini -Zulhilmi Widyan Noor, Yanuar Putra, Nadia Aulia Arifin, Della Aulia Arifin, dan Camila Nur Azima--tampak sedikit serius dalam membahas novel kali ini, Garis Perempuan. Bertempat di Dante Coffee, mereka sama-sama berkumpul dan membicarakan kelebihan dan kekurangan novel itu.
Dari judulnya, Garis Perempuan, novel ini tentu berbicara tentang perempuan. Khususnya, perempuan yang sedang menghadapi tantangan menjaga keperawanannya. Novel ini kan ber-setting di Jawa Tengah. Makanya, keperawanan dianggap penting bagi empat tokoh utama di dalam novel itu.
Surabaya sendiri nggak jauh-jauh dari Jawa Tengah. Mungkin karena itulah yang membuat bookaholic juga sependapat sama isi novel itu. Yap, menurut mereka, keperawanan juga kudu dijaga. Kalo sang cewek belum menikah, dia harus menjaga keperawanan hingga menemukan cowok yang tepat.
Bookaholic sepakat, kalo dilihat dari pesan moral mengenai pentingnyaa menjaga keperawanan, novel ini bisa dibilang bagus banget. Apalagi kalo yang baca adalah cewek-cewek remaja yang mulai mengenal perasaan suka ke lawan jenisnya. Menurut lima bookaholic, mereka bisa membaca novel ini dulu sehingga bisa memahami arti keperawanan sebenarnya.
"Sekarang pergaulan sudah mulai bebas. Aku sendiri kurang suka sama pergaulan yang seperti itu. Aku setuju pas baca novel ini yang menyiratkan cewek tuh kudu menjaga keperawanan sesuai dengan garis yang sudah ditetapkan untuknya," ujar Kamila.
Pada mulanya, dalam novel ini disebutkan, ada empat perempuan dari latar belakang yang berbeda. Nanti mereka sama-sama menghadapi problem mengenai keperawanan. Mereka sama-sama memaknai apa arti keperawanan melalui kisah masing-masing. Di antara empat perempuan itu, ada yang keperawanannya ditukar dengan uang untuk membayar utang. Atau, malah akan diberikan kepada sembarang orang yang disukai.
Nah, perjuangan mempertahankan keperawanan tadi yang membuat bookaholic ini salut. Di zaman serbamodern yang di dalamnya sudah banyak yang nggak peduli sama keperawanan lagi, mereka masih mau menjaganya.
"Betul banget. Meski aku cowok, aku juga peduli sama keperawanan seorang cewek. Habis membaca novel ini, aku ngerasa kasihan sama cewek. Maksudku, tantangan itu besar , supaya menjaga keperawanan masih utuh. Jadi, bikin aku lebih hormat sama cewek. Misal aku punya pacar gitu, aku akan sopan," tutur Hilmi. (fry/kkn)
Garis Perempuan
Pengarang: Sanie B. Kuncoro
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: I, Januari 2010
Tebal: 375 halaman