Mereka yang Menyatu dalam Ikatan Pernikahan Dini


JawaPos.com- Kata penyanyi Gombloh, kalau cinta melekat, tahi kucing rasa cokelat. Ini yang dialami remaja-remaja yang akhirnya kawin dini. Mereka merasa...

Minggu, 30 Jul 2017 07:05
PENULIS : DWI WAHYUNINGSIH/GALIH ADI PRASETYO/ROSALIA | EDITOR : MIFTAKHUL F.S

Kata penyanyi Gombloh, kalau cinta melekat, tahi kucing rasa cokelat. Ini yang dialami remaja-remaja yang akhirnya kawin dini. Mereka merasa diikat cinta. Sebagian lagi terpaksa menikah karena banyak faktor...

Inayatun Mafruroh tampak sibuk membuat rujak buah ketika tim Jawa Pos berkunjung ke rumahnya Sabtu (22/7). Amboi, perempuan itu masih begitu muda. Senyumnya lugu. Wajahnya malu-malu setiap menjawab pertanyaan.

Maklum, usia Iin, sapaannya, masih 17 tahun. Dia baru genap berumur 18 tahun pada Desember. Tapi, Iin bukan remaja yang masih bersekolah di SMA. Dia adalah ibu rumah tangga.

’’Sudah menikah pada 15 Desember 2014,’’ ujarnya malu-malu. Dengan begitu, Iin resmi menjadi istri saat usianya masih 14 tahun. Saat kawan-kawan sebayanya barangkali masih mengalami cinta monyet di sekolah. Saat perempuan seusianya masih sibuk gaul.

Ya, sekitar tiga tahun lalu, Iin dinikahi Abdul Rohman. Mereka kini sudah dikaruniai putri cantik berumur 5 bulan. Tapi, jangan berpikir bahwa Iin dan Rohman menjadi suami istri karena perjodohan. ’’Kami memang sama-sama suka, kok,’’ tutur Iin.

Bagi dia, Rohman begitu dewasa. Tak heran. Sang suami 9 tahun lebih tua. Karena itu, Iin hooh saja saat diajak menikah. Rasa cinta yang meluap membuatnya rela meninggalkan masa remaja menuju ke pelaminan, setahun setelah berpacaran.

Tentu, mereka saling suka saat Iin masih sangat kecil. Baru sekitar umur 13 tahun. Perkenalan mereka terjadi karena Rohman, lelaki asal Sidoarjo itu, sering mengunjungi saudaranya di rumah Iin.

Rumah Iin di Jalan Suropati, Dukuh Bulak Banteng, Surabaya, memang dihuni keluarga besar. Di situ, misalnya, ada bibi Iin yang tinggal di lantai 2. Nah, suami sang bibi itulah yang punya hubungan kerabat dengan Rohman yang kini bekerja sebagai tukang las piring di kawasan Kenjeran, Surabaya.

Tidak ada yang menyangkal, cinta datang karena terbiasa. Witing tresna jalaran saka kulina. Rohman yang kesengsem pada bocah 13 tahun itu pun berani melamar. Tapi, orang tua perempuan lulusan MI Uswatun Hasanah tersebut ragu.

’’Pas datang ngelamar ya bapak sama ibu nanyain, ’Yakin beneran mau nikah? Masih kecil lho ini anaknya’,’’ cerita Iin yang menirukan ucapan sang ayah. Namun, melihat keseriusan di wajah pasangan yang sedang kasmaran tersebut, akhirnya orang tua menyetujui. Bujukan dari sang bibi yang juga merupakan saudara jauh Rohman, tampaknya, turut membantu.

Meski begitu, ibu Iin belum memperbolehkan putrinya mengandung. Bukan karena ogah punya cucu. Tapi, Iin dinilai masih sangat kecil. Karena itu, Iin diminta memasang KB agar tidak kebobolan. ’’Enam bulan pasang KB-nya, habis itu baru dilepas,’’ imbuhnya. Pertengahan 2016, Iin dinyatakan positif hamil dan melahirkan putri pertamanya pada 23 Maret 2017.

Menikah di usia belia tentu bukan perkara yang mudah. Apalagi, sifat Iin masih manja dan mudah ngambek. Beruntung, suaminya jauh lebih dewasa. ’’Suami yang ngemong saya. Dia yang sering ngalah kalau kami sedang bertengkar,” ujar perempuan kelahiran Desember 1999 tersebut.

Pertengkaran-pertengkaran kecil pun sering terjadi dalam rumah tangganya. Terkadang sang suami tak sengaja melontarkan kalimat agar Iin tidak bertingkah seperti anak kecil. ’’Ya saya cuma bilang, emang masih kecil kok aku,” lanjut Iin dengan senyum.

Iin pun sering merasa kesal pada suaminya ketika akan berbelanja. Bukan karena tidak diberi uang untuk membeli barang. Tetapi, lebih karena pria kelahiran 20 Maret 27 tahun silam tersebut tidak mau mengantarkannya. ’’Sebelaja. Kan itu bisa sekalian jalan-jalan. Tapi, Mas Rohman nggak pernah mau nganterin. Jalan-jalan juga jarang. Terakhir pas hamil dulu ke taman di Pantai Kenjeran,” ceritanya.

Memutuskan untuk tetap tinggal bersama orang tuanya di Gang Suropati tidak berarti bahwa kehidupan keluarga kecil Iin bergantung pada mereka. Kecuali tempat tinggal dan makan yang masih jadi satu, semua kebutuhan bisa tercukupi dari penghasilan sendiri.

’’Mas Rohman seminggu dapat ya lima ratus ribuan. Jualan rujak dan kerupuk tidak tentu hasilnya. Paling sekitar Rp 50 ribu sehari,’’ lanjut Iin. Jumlah segitu sudah bisa mereka gunakan untuk hidup berkeluarga, bahkan disisihkan untuk ditabung. Tetapi, jika memang ada kebutuhan mendesak, sesekali mereka juga meminta bantuan.

Menyesalkah menikah dini? Iin menggeleng mantap. Itu adalah pilihannya. Dia juga tidak merasa iri melihat teman-temannya yang masih suka keluyuran bermain atau melanjutkan sekolah. ’’Sekarang mau fokus menjadi ibu dan istri yang baik untuk anak dan suami saya,” tutur Iin.

Sebelum menikah, perempuan yang pernah bekerja sebagai penjaga kedai burger tersebut memang sudah tahu konsekuensinya jika dia memutuskan untuk menjadi seorang istri. Cerita dari orang tua dan saudaranya cukup untuk memberinya gambaran seperti apa kehidupan setelah menikah.

Apalagi di rumahnya, berkumpul keluarga besar. Dia juga sudah terbiasa mengasuh keponakan-keponakannya. Karena itu, dia sama sekali tidak canggung ketika sudah memiliki anak. Dengan penuh kasih, Iin dan Rohman bergantian menjaga sang buah hati ketika malam tiba.

Karena masih terlalu kecil, Iin tidak bisa dinikahkan oleh KUA. Maka, orang tuanya mendatangkan seorang ustad dari Madura untuk menikahkan putri ragil itu. ’’Ya mau apa lagi? Daripada saya takut nanti kenapa-kenapa, kan mending langsung saya nikahkan saja. Wong keduanya udah sama-sama seneng. Kalau mau apa-apa sudah sah secara agama. Ini nanti akhir bulan rencananya mau disahkan secara negara,” cerita Jupri, 47, ayah Iin.

Cerita lain datang dari seorang perempuan bernama Fatimah. Saat didatangi Jawa Pos pada Sabtu (22/7), dia tengah ngemong buah hatinya di teras. Kerudungnya biru tua. Wajahnya semringah. Seakan tanpa beban. Padahal, jalan kehidupan yang pernah dilaluinya begitu berliku.

Fatimah belum genap berumur 18 tahun. Tapi, perempuan bertubuh berisi itu sudah harus wira-wiri menggendong Muhammad Al Hikmah, anaknya, yang berumur 2 tahun.

Ya, Fatma, sapaannya, berkeluarga saat umurnya masih 15 tahun. Saat dia masih duduk di kelas VII SMP di wilayah Kecamatan Sukolilo, Surabaya. ’’Wiskadung kecolongan (Sudah telanjur hamil duluan, Red),” ucap warga Sukolilo Baru tersebut. Ketika itu, Fatma menjalin kasih dengan seorang laki-laki yang lebih tua empat tahun darinya. Lelaki tersebut masih kelas XI SMA swasta di wilayah Kecamatan Kenjeran. Ternyata, jalinan kasih keduanya lebih berat daripada sekadar cinta monyet. Mungkin sekelas cinta kingkong. Hingga mereka kebablasan. Fatma hamil.

’’Nyesel kenapa dulu kok sampai kebablasan,” kenangnya. Ketika itu, Fatma terpikat dengan janji manis pacarnya. Ya, percaya saja ketika diajak untuk berhubungan.

Tentu, kenikmatan itu hanya sesaat. Fatma berbadan dua. Awalnya dia hanya merasa mual dan pusing. Baik di rumah maupun di sekolah. Lama-kelamaan perutnya membuncit.

Dari sanalah mulai muncul kecurigaan dari orang tuanya. Mau tidak mau Fatma mengaku bahwa ada jabang bayi di perutnya. Tanpa pikir panjang, sang ibu memeriksakan kondisi Fatma ke bidan. ’’Kata bidan sudah empat bulan,” kenang perempuan kelahiran 27 April 1999 itu.

Keluarga memutuskan untuk meminta pertanggungjawaban kepada ayah bayi yang ada di kandungan Fatma. Akhirnya kedua keluarga sepakat untuk membawa Fatma ke jenjang pernikahan.

Namun, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pernikahan mereka ternyata belum memenuhi syarat. Mereka harus mengurus dispensasi perkawinan di pengadilan agama. Dan, itu dirasa terlalu sulit.

Mereka juga menganggap bahwa kejadian tersebut adalah aib bagi kedua belah pihak. Hingga akhirnya, mereka memutuskan menikah secara agama saja. ’’Manggil teman bapak buat nikahkan,” ujarnya.

Namanya juga masih anak-anak. Tentu saja kehidupan mereka tidak semudah pasangan yang sudah dewasa. Cemburu jadi masalah terbesar yang selalu menghantui Fatma. Tidak segan-segan, Fatma menyusul sang suami yang sedang berkumpul dengan teman sebayanya. ’’Saya susul ke tempat main PS. Istrinya hamil, dia malah mainan,” terangnya.

Di masa kehamilan, Fatma harus bergantung pada orang tua dan mertuanya untuk hidup sehari-hari. Suaminya? Masih bingung mau bekerja apa. Ijazah pun tidak ada. Apalagi skill yang mumpuni untuk buka usaha.

Hingga kelahiran bayinya pada 14 Mei 2015, sang suami masih saja belum bekerja. Di sini terjadi lagi puncak kekalutan keluarga kecil mereka. Fatma mengakui, pada masa itu, dirinya sempat ingin memutuskan hubungan dengan suaminya. Namun, dukungan keluarga membuat Fatma mampu bertahan. ’’Sudah nggak betah rasanya. Sebenarnya ingin cerai saja,” ucapnya.

Emosi yang bergejolak membuat Fatma sedikit kelabakan mengurus bayinya. Orang tua dan mertuanya pun harus ikut turun tangan. Perhatian dari orang tua dan mertua membuat Fatma lebih tabah.

Menginjak umur satu tahun Hikmah, Fatma telah terbiasa mengurus anak laki-lakinya itu. Hubungan emosional ibu dan anak semakin erat. Hubungan dengan suaminya pun semakin harmonis. ’’Mulai bisa ngemong anak dan istri,” ujarnya.

Namun, itu tidak berlangsung lama. Suaminya mendapat tawaran kerja untuk jadi anak buah kapal (ABK) ekspedisi. Dia harus berlayar dan pulang tiga bulan sekali. Meskipun hatinya serasa ditarik-ulur, Fatma tetap merelakan suaminya dan mengurus anaknya seorang diri.

Meskipun sudah hidup berkecukupan dari hasil kiriman suaminya, Fatma mengakui masih butuh peran suaminya lebih besar. Apalagi saat ini masa pertumbuhan Hikmah. Orang tua seharusnya punya andil besar dalam memberikan kasih sayang.

Kini Hikmah sudah berusia 2 tahun. Kaki kecilnya mulai menapaki kehidupan yang mungkin saja lebih keras daripada kehidupan orang tuanya. Fatma pun bertekad untuk mewujudkan mimpi Hikmah kelak. ’’Saya ingin menyekolahkan Hikmah setinggi-tingginya,” ujarnya. (*/c7/dos)


Susah Resmi, Pilih Siri Dulu

PADA 2016 ada 116 pernikahan anak di Surabaya. Angka tersebut menurun dari tahun sebelumnya yang berjumlah 147 kejadian. Secara keseluruhan, pada 2016 Surabaya masuk 10 besar angka pernikahan anak paling banyak di Jawa Timur.

Berdasar UU No 1 Tahun 1974, seseorang diperbolehkan menikah saat mencapai umur 19 tahun (laki-laki) dan 16 tahun (perempuan). Namun, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menetapkan batas usia menikah bagi laki-laki 25 tahun dan perempuan 21 tahun.

Lalu, Undang-Undang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa seseorang masih dianggap anak jika berusia di bawah 18 tahun. Karena itu, pernikahan di bawah usia tersebut dianggap sebagai pernikahan anak dan perlu dispensasi dari pengadilan agama.

Tingkat kantor urusan agama (KUA) tidak berani menikahkan anak yang masih di bawah umur. Dampaknya, para orang tua memilih menikahkan anak-anak mereka ke pemuka agama secara siri. Sah dulu secara agama. 

''Pasangan yang nikah di sini pun banyak yang sudah lebih dulu menikah siri," ujar Kepala KUA Semampir Marfai. 

''Banyak yang nggak ngerti. Ada juga yang datang ke sini untuk mengambil buku nikah,'' tambahnya. Jadi, orang-orang sudah menikah secara siri datang dengan membawa berkas untuk meminta buku nikah. Padahal, buku nikah bisa didapatkan dengan melewati proses tertentu.

Fenomena pernikahan anak muncul dari banyak faktor. Salah satunya, aspek budaya. Beberapa wilayah di Indonesia menganggap seorang anak perempuan ketika sudah mengalami haid harus segera dinikahkan. Jika tidak, anak tersebut bisa menjadi perawan tua.

Ada pula yang beranggapan bahwa perempuan tidak memiliki masa depan yang baik. Berbeda jika dia segera menikah. Dia bisa mandiri dan membantu orang tua.

Menurut Suhartuti, kepala Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Jawa Timur, pernikahan anak yang terjadi pada era ini berbeda. Menurut dia, anak-anak sudah mulai sadar bahwa pernikahan anak memiliki banyak dampak negatif. Justru dorongan datang dari orang tua anak.

Berdasar survei BKKBN, mayoritas anak sudah tahu berapa batas usia ideal mereka menikah. ''Saat ditanya, jawabannya 21 dan 25 tahun. Rata-rata mereka punya cita-cita untuk sekolah dulu," jelas Tutik, sapaannya.

Sekarang yang dihadapi justru kebalikannya. Orang tua yang harus dipahamkan. ''Makanya, kita bentuk Bina Keluarga Remaja (BKR). Tujuannya, memberikan pengetahuan kepada orang tua yang memiliki anak remaja," ungkapnya.

Pernikahan anak memang memiliki banyak kerawanan. Kerawanan paling besar bisa terjadi pada perempuan. Sebab, pada usia tersebut, organ reproduksi anak masih belum matang. ''Risiko itu bisa berupa keguguran hingga kanker rahim," ujarnya.

Banyak risiko yang harus dihadapi dalam kasus pernikahan anak. Misalnya, pada aspek kematangan psikologis. Tutik mencontohkan, ada ketidaksiapan pasangan untuk menerima sikap dan perilaku yang berbeda. Perkawinan pun rawan mengalami ketidakharmonisan. Ujungnya, perceraian.(Galih Adi Prasetyo/c7/dos)


Labil, Masih Perlu Bimbingan

PERNIKAHAN anak punya ''sebab'' tradisional dan modern. Yang tradisional biasanya terkait dengan adat istiadat atau perjodohan. Yang modern biasanya terjadi karena kecelakaan.

''Yang modern ini, salah satunya karena korban situs porno yang mudah diakses,'' kata psikolog Dra Mierrina SPsi MPsi. Karena orang tua kurang peduli pada tontonan anak-anak, generasi berikutnya menjadi salah jalan.

Anak-anak juga punya kejiwaan yang cenderung mau menang sendiri. Ego mereka masih tinggi. Segala sesuatu harus sesuai dengan keinginan. Ego itu sangat berbahaya ketika muncul dalam mahligai pernikahan. ''Remaja itu juga masih rendah keinginannya untuk mendengarkan. Mereka lebih senang didengarkan,'' tutur psikolog yang praktik di Rumah Sakit Siloam tersebut.

Terlebih jika mereka harus hamil dalam usia muda. Mentalnya belum siap. Kondisi bayi bisa terpengaruh. ''Baby blues juga jadi lebih lama,'' tambahnya.

Banyaknya problematika yang dialami dalam pernikahan anak itu disebabkan pasangan yang belum paham arti pernikahan sebenarnya. Orang tua juga belum memberikan pembekalan dan pemahaman pada anak. ''Mereka tidak diberi bekal yang cukup. Apa hak dan tanggung jawab setelah menikah. Yang orang tua tahu adalah anaknya menikah, sah secara agama, selesai. Soal kebutuhan pun terkadang juga masih ditanggung orang tua,'' kata dosen bimbingan konseling Islam UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Karena tidak paham arti sebuah pernikahan, anak-anak yang menikah dini sering mengalami pergolakan batin. Apa yang mereka alami tidak sesuai dengan bayangan.

Ego yang masih tinggi membuat mereka bisa pergi begitu saja. Meninggalkan istri atau suami, bahkan anak kandungnya. Tidak ada kata cerai. Mereka hanya menghilang begitu saja. ''Yang sampai depresi juga ada. Yang datang ke saya kebanyakan perempuan,'' ungkapnya.

''Kalau secara mental, semua kembali pada pola asuh yang dilakukan orang tua seperti apa. Selain itu, kepribadian sangat berpengaruh. Usia itu bukan satu-satunya jaminan,'' kata Mierrina.

Pernikahan pada mereka yang sudah berumur cukup pun bisa bermasalah. Terlebih ketika si lelaki tidak dididik mandiri dan tidak diajarkan cara bertanggung jawab menjadi seorang suami.

''Kalau mau menikah itu harus siap secara fisik dan mental,'' jelasnya. Selain itu, mereka harus diberi bekal tentang tanggung jawab dan hak sebagai suami istri. Jangan asal menikah dan menggantungkan diri pada orang tua. (Dwi Wahyuningsih/c15/dos)

#pernikahan dini #nikah secara agama

Dwi Wahyuningsih/Galih Adi Prasetyo/Rosalia
Jawa Pos 2017
Other Cover Stories
 Top
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia