Srikandi-Srikandi Penegak Perda


Satpol PP memiliki personel perempuan yang diberi tugas khusus. Salah satunya, menjadi garda depan ketika menghadapi demonstran ataupun pedagang kaki lima...

Sabtu, 01 Jul 2017 07:03
PENULIS : ARISKI PRASRTYO HADI – JOS RIZAL | EDITOR : SURYO EKO PRASETYO

Satpol PP memiliki personel perempuan yang diberi tugas khusus. Salah satunya, menjadi garda depan ketika menghadapi demonstran ataupun pedagang kaki lima (PKL).

Polwannya Pemkab Sidoarjo

Berikut cerita Evi Yuanita Anggraini, Regina Dwi Zain, dan Khusnul Afifa selama bertugas.

Motivasi dan Referensi dari Calon Suami

SOSOK Evi Yuanita Anggraini kerap dijumpai di sekitar kawasan Gading Fajar. Dia termasuk salah seorang petugas yang berperan dalam penertiban PKL di wilayah tersebut. Misalnya, yang terlihat Selasa (13/6). Evi bersama dua temannya mendatangi satu per satu PKL yang masih berjualan di wilayah tersebut.

Berbekal kertas dan bolpoin, Evi mendata identitas para PKL yang mangkal di sana. Saat itu tidak jarang Evi mendapat perlakuan tidak ramah. Misalnya, pedagang tidak mau ditanya mengenai identitasnya.

’’Pintar-pintarnya kita mendekati mereka,’’ katanya. ”Harus senyum kalau menghadapi PKL,” lanjutnya. Jurus tersebut terbilang sukses. Perempuan 23 tahun itu berhasil mendapatkan identitas lengkap pedagang tersebut.

Evi sudah tiga tahun bergabung dengan satpol PP. Pekerjaan yang dulu tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya. Lulus SMA PGRI 2 Sidoarjo, dia mengetahui ada lowongan pekerjaan tersebut dari calon suaminya.

Dia pun menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Evi berpendapat, menjadi petugas satpol PP itu pekerjaan berat. ’’Kalau di TV atau koran, kan satpol PP itu yang biasanya menggusur bangunan liar. Menertibkan PKL,’’ ucapnya. ’’Itu kan pekerjaan laki-laki. Kok rasanya saya tidak sanggup,’’ imbuhnya.

Namun, calon suaminya terus memberikan motivasi dan pengetahuan bahwa satpol PP tidak harus beradu fisik dengan para pelanggar perda. Namun, petugas satpol PP juga bisa menjadi negosiator ulung agar pedagang tidak berjualan di tempat terlarang. ”Saya sempat berkonsultasi dengan orang tua. Mereka hanya pasrah, bergantung saya,” jelasnya.

Marah Diteriaki Gembluk

Akhir Desember 2013, dia memutuskan mendaftar. Tes dilaksanakan di gedung Diklat Sidoarjo, Jalan Majapahit. Evi menjalani tiga tes, yakni kesehatan, tulis, serta wawancara. Hasilnya, dia dinyatakan lolos pada awal Januari 2014. ”Diterima kerja bertepatan dengan ulang tahun saya. Jadi, ini hadiah ulang tahun juga,” paparnya.

Dinyatakan lolos tidak berarti Evi langsung bekerja. Dia bersama 150 orang lainnya menjalani diklat selama tiga bulan. Peserta diajari beragam materi. Di antaranya, tindakan yang harus dilakukan saat terjadi demonstrasi dan bernegosiasi dengan PKL.

Perempuan yang hobi olahraga tersebut mengatakan, saat berlangsung demo maupun menghadapi PKL, petugas satpol PP perempuan selalu berada di depan. Fungsinya, mendinginkan situasi. ”Biar tidak tambah kisruh,” tambahnya.

Dia mengatakan, ada satu trik yang selalu dilakukannya untuk menghadapi kawanan orang yang protes. Yakni, tersenyum. Menurut Evi, orang yang marah ibarat api. ”Kami bertugas menjadi es. Mendinginkannya,” lanjutnya.

Selama bertugas, ada beberapa peristiwa yang terekam di memorinya. Salah satunya ketika dia dan teman-temannya menertibkan PKL di wilayah kota. Dianggap melanggar, rombong PKL pun diangkut ke truk. Ternyata, salah satu rombong tersebut milik tetangganya.

’’Dia minta rombongnya tidak diangkut. Ya saya bilang tidak bisa,’’ terangnya. Eh, saat pulang ke rumah, si tetangga tadi menyindirnya. ’’Saya dibilang galak,’’ ucapnya.

Evi menerima sindiran tersebut dengan lapang dada. Dia tidak marah, apalagi ganti melabrak si tetangga tersebut. ’’Tetap saya baik ke dia (tetangga, Red). Nanti kan reda juga marahnya,’’ ujarnya.

Namun, ada kalanya Evi kehilangan kesabaran. Yakni, ketika menertibkan Pasar Sono, Buduran. Saat itu ada sebuah warung kopi yang dibongkar. Tampak ada orang yang tidak terima dengan pembongkaran tersebut.

”Saya diteriaki awas ada gembluk (PSK, Red). Saya sangat marah waktu itu. Untung, ada teman-teman yang mengingatkan saya” ujar istri Soif tersebut. (aph/c7/ai)

Lebih Mudah Tertibkan Waria

WAJAH rupawan tidak menjadi andalan untuk tugas sebagai staf ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat (tribumtranmas). Pekerjaan itu menuntut Khusnul Afifa untuk lebih peka terhadap kondisi hati seseorang saat hendak menegur atau memberikan sanksi kepada yang bersangkutan. ”Yang susah kalau harus ngadepin waria, ampun deh. Ribet,” jelasnya saat ditemui di kawasan Gading Fajar Selasa sore (13/6).

Afifa, sapaan akrabnya, lantas mengisahkan pengalamannya sebagai staf tribumtranmas. Salah satunya ketika patroli di Jalan Raya Kemangseng, Kecamatan Krian, pada pertengahan 2016. Saat itu, dia melihat masih beroperasinya warung remang-remang yang kerap menjadi tempat prostitusi. Padahal, beberapa hari sebelumnya, petugas telah menertibkan kawasan tersebut.

Mengetahui hal itu, satpol PP kembali mengadakan penertiban dan patroli rutin. Nah, pada saat melakukan penertiban dan memasuki satu warung, Afifa menemukan sejumlah keganjilan.

Di balik lampu yang setengah redup, dia menemukan seorang waria yang sedang menemani pelanggannya. ”Akhirnya, saya panggil keluar, tapi ngeyel tidak mau,” jelas perempuan 23 tahun itu.

Setelah menunggu beberapa lama, sang waria tidak kunjung keluar dari warung tersebut. Afifa pun secara paksa menggiringnya agar mau keluar warung. ”Sempat eyel-eyelan juga,” tuturnya. Dia dan petugas kemudian menggiring waria itu ke kantor satpol PP untuk didata lebih lanjut.

Afifa melanjutkan, ancaman kekerasan paling besar justru bukan dari waria. Melainkan dari para PKL. ”Pernah pas waktu mau menertibkan PKL, saya mau disiram pakai kuah rawon,” katanya.

Atlet Taekwondo Yang Nyaris Disiram Kuah Rawon

Kejadian itu berlangsung awal Januari lalu saat dia hendak menertibkan PKL di Jalan Raya Gajah Mada. Pengumuman dan sosialisasi penertiban telah disebar beberapa hari sebelum penertiban. Namun, saat hari yang ditentukan, para PKL tidak mau pindah. Mereka tetap menggelar dagangan di trotoar.

Beberapa anggota satpol PP lantas mengangkut dagangan mereka. Rombong, kursi, dan sejumlah peralatan lainnya diangkut ke atas truk. ”Salah satunya ya milik ibu-ibu penjual rawon itu. Untungnya, saya nggak jadi disiram karena kami berhasil menasihati,” kisahnya.

Potensi adu cekcok dalam suatu penertiban sebenarnya tidak hanya datang dari para PKL. Namun, itu juga terjadi ketika penertiban di rumah hiburan umum (RHU) karaoke. Saat memeriksa para perempuan penghibur misalnya. Mereka sulit untuk kooperatif. Alhasil, beberapa percekcokan kerap terjadi.

Misalnya, saat para petugas meminta kartu identitas, para perempuan penghibur itu mengaku tidak membawa. ”Tapi setelah digeledah tasnya, ternyata ada. Mereka tidak jujur karena mungkin malu. Di dalam tasnya ada barang-barang orang dewasa,” tutur alumnus STIE Mahardhika Surabaya itu.

Afifa menyatakan, dirinya tidak sedikit pun merasa gentar saat melakukan pekerjaan yang berpotensi bersinggungan fisik itu. Dia begitu mencintai pekerjaan sebagai penegak perda tersebut. Tidak ada yang perlu ditakuti. Apalagi Afifa memiliki bekal.

Dia adalah atlet taekwondo. Afifa menyabet sabuk hitam dan-1 dan kerap mengikuti beragam perlombaan nasional hingga internasional. Di antaranya, Kejurda 2010 dan Porprov 2011. ”Dari semua perlombaan itu, saya pernah menjadi juara III di Open Tournament 2012. Dan juara di kelas 60 kilogram,” ujarnya. (jos/c6/ai)

Negosiator Plus Tenaga Kesehatan

BERSAMA staf ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat (tribumtranmas), Regina Dwi Zain menyusuri tanah lapang di SMAN 2 Sidoarjo Selasa (13/6). Di lahan seluas 1 hektare tersebut terdapat PKL pindahan dari Gading Fajar.

Regina menghampiri para pedagang tersebut, kemudian mendatanya. Ke mana pun dia pergi selalu membawa map hijau berisi data-data pedagang yang sudah direlokasi. ’’Namanya siapa Pak?’’ tanyanya pada seorang penjual berbagai macam aksesori kulit. Senyum semringah mewarnai wajahnya yang kuning langsat.

Muh. Zahrawi, pria pemilik lapak itu, turut tersenyum. Percakapan tidak berlangsung lama, hanya lima menit. Namun, di akhir percakapan, kata-kata terakhir Zahrawi pada Regina mengubah ekspresi keduanya. Dengan wajah masam, Zahrawi bertanya pada Regina. ’’Kapan kita bisa berdagang di trotoar lagi Mbak? Di sini sepi,’’ katanya.

Mendengar keluhan tersebut, Regina tersenyum dan meminta Zahrawi untuk bersabar. Dia juga menjelaskan bahwa hal itu sangat mungkin tidak akan terjadi. Sebab, berjualan di trotoar melanggar aturan. ’’Beginilah Mas pekerjaan kami. Kadang ya ngerasa kasihan. Tapi, ini tugas,’’ tuturnya pada Jawa Pos.

Lebih Pilih Polisi Sipil Ketimbang Bidan

Regina mengatakan, dirinya tidak pernah berkeinginan menjadi petugas satpol PP. Alumnus Stikes Insan Cendekia Medika Jombang itu malah ingin menjadi bidan. Namun, setelah lulus dari sekolah tersebut empat tahun lalu, dia berubah pikiran. ’’Kayaknya lebih enak jadi anggota satpol PP saja,’’ ucapnya.

Perempuan yang berulang tahun pada 19 Juli esok itu menambahkan, ilmu mengenai kesehatan yang didapat semasa kuliah tidak terbuang percuma. Meski banyak berkecimpung dengan rakyat jelata, dia tetap menerapkan ilmu kesehatannya.

Di kantor, misalnya. Bila ada salah satu anggota satpol PP yang hendak memeriksa tekanan darah, dia siap membantu. Dia juga tidak jemu memberikan tip kesehatan pada anggota satpol PP lainnya.

Bukan hanya di kantor, dia juga melakukan hal serupa ketika di lapangan. Jika diperlukan, dia kerap menjadi tim medis utama satpol PP. Misalnya, menangani luka ringan. ’’Boleh dibilang dobel menjadi tenaga kesehatan,’’ kata perempuan 25 tahun tersebut.

Sebagai staf tribumtranmas, tugas utamanya bernegosiasi dan ikut membantu penertiban para pelanggar perda. Pada kasus penertiban PKL, misalnya. Sebelum petugas melakukan penertiban, para PKL mendapat pemberitahuan dan sosialisasi lebih dulu.

’’Mengirim surat peringatan itu salah satu tugas kami,’’ jelasnya. Ketika ada PKL yang bandel, timnya bertugas memberikan pengertian. ’’Terkadang saya sering ngerasa sedih juga. Tapi ini tugas dan tugas saya menyadarkan mereka (para pelanggar perda, Red),’’ tutur penyuka musik Korea tersebut. (jos/c15/ai)

#satpol pp sidoarjo #pemkab sidoarjo #evi yuanita anggraini #regina dwi zain #khusnul afifa

ARISKI PRASRTYO HADI – JOS RIZAL
Jawa Pos 2017
Other Cover Stories
 Top
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia