Main-Main dengan Risiko


Ditendang jerapah, ditanduk banteng, digigit komodo, hingga diterkam singa. Itulah risiko pawang satwa kebun binatang atau zookeeper. Seluruh pengalaman tersebut pernah dirasakan para zookeeper KBS. Ini cerita...

Rabu, 28 Jun 2017 23:34
PENULIS : SALMAN MUHIDDIN | EDITOR : SURYO EKO PRASETYO

Ditendang jerapah, ditanduk banteng, digigit komodo, hingga diterkam singa. Itulah risiko pawang satwa kebun binatang atau zookeeper. Seluruh pengalaman tersebut pernah dirasakan para zookeeper KBS. Ini cerita mereka.

Suradji, Keeper Komodo Anggap Patil Lele, tapi Gede

SURADJI adalah pawang paling senior di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Sebenarnya, pria berusia 57 tahun itu pensiun Mei lalu. Namun, KBS masih membutuhkan jasanya untuk mendampingi para zookeeper muda.

Hampir semua binatang di KBS pernah ditangani Suradji selama 34 tahun mengabdi. Mulai yang jinak hingga yang buas. Dari kera, gajah, rusa, jerapah, banteng, singa, harimau, hingga kini komodo.

’’Dari semua, rasanya kok komodo yang paling susah ya,’’ ujar Suradji kala ditemui Jawa Pos Senin (5/6).

Selama 17 tahun posisi pawang komodo tidak tergantikan. Memang perlu pengalaman yang tinggi untuk merawat reptil endemis asal Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT), tersebut. Tidak sembarang orang dipercaya merawat jenis kadal terbesar di dunia yang bisa tumbuh hingga 3 meter itu.

Merawat komodo memang repot. Gigitannya mematikan bila korbannya tidak mendapat perawatan medis. Suradji pun pernah digigit. Cukup sekali. Namun, kejadian itu membuatnya lebih berhati-hati dalam menghadapi hewan gesit tersebut.

Bekas luka di jarinya jadi bukti betapa bahayanya gigitan komodo. Terdapat goresan panjang di jari manis tangan kanan dan jari tengah di tangan kirinya. ’’Ini lho bekasnya. Dulu masuk separo driji (jari, Red),’’ jelas pria asal Jambangan itu.

Suradji tidak ingat betul kapan dia digigit komodo. Seingatnya 2000-an. Saat itu pukul 15.30. Sudah waktunya komodo masuk nahok atau kandang. Dia hendak memasukkan komodo anakan berusia 2 tahun. Tidak begitu besar. Tetapi sangat gesit.

Masih banyak pengunjung yang belum pulang ketika itu. Kesempatan melihat komodo masuk kandang tersebut dijadikan tontonan oleh anak-anak yang kebetulan melintas. Dengan banyaknya pengunjung, konsentrasi Suradji terpecah. Enak saja dia memegang ekor anak komodo, lalu memasukkannya ke nahok.

Komodo yang setengah kaget itu menyambar kedua tangan Suradji. Dengan spontan, Suradji menarik komodo tersebut. Darah bercucuran. Namun, tugas memasukkan komodo belum tuntas. Dia tetap melanjutkan pekerjaannya. ’’Awalnya saya kira tidak bahaya. Kan komodo kecil,’’ ujar pria kelahiran 5 Mei 1961 tersebut.

Selama ini banyak yang menganggap bahwa liur komodo adalah senjata untuk menaklukkan mangsa. Ada yang menganggap liur itu terisi begitu banyak bakteri yang bisa menginfeksi mangsa.

Namun, belakangan teori tersebut dipatahkan. Bryan Fry dari University Queensland, Australia, menyimpulkan bahwa komodo memiliki kelenjar racun. Dengan mencegah pembekuan darah, korban yang digigit mengalami pendarahan besar. Tanpa pertolongan medis, gigitan itu sangat mematikan. Penemuan tersebut sangat mungkin valid. Sebab, Fry adalah pakar biokimia dan biologi molekuler. Dia sudah meneliti kandungan bisa atau racun hewan-hewan dari berbagai penjuru dunia.

Nah, setelah menggigit, komodo membiarkan mangsanya lari. Namun, gigi geliginya tidak jarang terus mengait daging mangsanya. Lalu, menarik kembali dengan otot leher yang kuat. Rusa hingga kerbau air pun bisa mati perlahan karena gigitan itu.

Beruntung. Hanya driji Suradji yang kena. Tak ayal, efek gigitan itu muncul setelah setengah jam. Badan Suradji mulai lemas dan menggigil. Jemari tangannya tampak membiru. ’’Rasanya seperti kena patil lele,’’ jelas pria yang kini menangani 67 ekor komodo tersebut. Tentu itu beda. Patil lele, tetapi gede.

Sebelum kondisinya semakin memburuk, dia minta dilarikan ke Rumah Sakit William Booth di Jalan Diponegoro. Hanya lima menit, dia sudah sampai di unit gawat darurat (UGD). Saat itu pukul 16.00. ’’Drijiku, (jariku, Red) disikat sampai resik (bersih, Red),’’ katanya sambil geleng-geleng kepala. Seolah ingat bagaimana sakitnya saat itu.

Beruntung, dokternya punya pengalaman menangani pasien yang tergigit komodo. Dokter tersebut berasal dari NTT. Setelah disuntik dan diberi obat, luka di jarinya bisa sembuh dengan cepat. ’’Tidak sampai bengkak,’’ lanjutnya.

Bahkan, sehari setelah digigit dia langsung masuk kerja. Tidak ada rasa trauma saat itu. Tidak ada rasa dendam pula pada komodo yang telah melukainya. Ada dendam pun tidak mungkin Suradji balas menggigit komodo. Dia sadar bahwa gigitan itu adalah ’’bonus’’. Risiko profesi.

Komodo sudah bisa menggigit setelah nenetas dari telur. Karena itu, dia tidak pernah menganggap remeh bayi-bayi komodo seukuran tokek tersebut.

Pernah Dituduh Mencuri Komodo

Ngomong-ngomong soal bayi komodo, Suradji punya reputasi membanggakan. Selama ini KBS dianggap sebagai kebun binatang paling sukses dalam pembiakan komodo. Banyak kebun binatang yang tertarik untuk menukar satwanya dengan komodo milik KBS.

Nilai tukar komodo paling tinggi kedua setelah jerapah. Di bawah komodo ada gorila. Bahkan, satu komodo setara lima ekor singa. Bila diuangkan, KBS bisa kaya raya karena komodo KBS bisa dibilang overload.

Namun, hal itu tidak diperkenankan. Sebab, komodo sangat dilindungi. Aturan tukar-menukar komodo juga sangat rumit dan harus melewati berbagai perizinan.

Nah, pada Agustus komodo-komodo itu mulai bertelur. Masa kawinnya terlihat sejak bulan ini. Komodo-komodo tersebut mulai menggali tanah untuk menaruh telur-telurnya. Sekali bertelur, komodo bisa menghasilkan 25–30 butir telur.

Suradji harus pandai-pandai membaca situasi. Dia harus cepat memindahkan telur itu ke inkubator. Bila tidak, telur tersebut berisiko gagal menetas. Galian komodo rawan ambles saat hujan. ’’Telur itu baru menetas selama delapan bulan. Jadi lebih aman di inkubator,’’ jelas penghobi burung berkicau tersebut.

Gara-gara sukses membiakkan komodo, Suradji pernah dituduh menjual komodo. Peristiwa itu terjadi tujuh tahun silam. Saat itu 23 komodo anakan yang dikarantina dipindahkan ke sangkar peragaan. Tidak lama setelah dipindah, komodo tersebut tinggal 20 ekor. Ke mana tiga komodo itu? ’’Wah, gara-gara itu saya diperiksa Polda Jatim dua minggu,’’ ungkapnya.

Dia sempat sedih atas tuduhan tersebut. Komodo itu ditengarai hilang karena dimakan musang. Sebab, ada jejak dan kotoran musang. Namun, penyidik tidak gampang percaya. Dia masih ingat perkataan penyidik yang membuat hatinya sangat kecewa. ’’Iya kalau itu kotoran musang, kalau kotoran sampean bagaimana? Itu sakit hatinya setengah mati,’’ katanya menirukan ucapan penyidik.

Selama ini Suradji bekerja keras untuk membiakkan komodo tersebut. Dari empat komodo yang didatangkan dari habitat aslinya, kini sudah ada puluhan, bahkan ratusan komodo yang ditetaskan. Tidak mendapat penghargaan, Suradji malah dituduh.

Namun, masalah tersebut sudah berlalu. Suradji pun telah melupakannya. Toh, hingga kini dia tidak terbukti bersalah atas hilangnya komodo itu. Agar kejadian serupa tidak terulang, sudut-sudut KBS dilengkapi CCTV.

Dengan kamera pengintai tersebut, zookeeper bakal lebih tenang dalam bekerja. Bila ada binatang yang hilang, zookeeper bisa mengandalkan rekaman CCTV agar tidak terjadi fitnah.

Saat ini KBS mulai menyiapkan pengganti Suradji. Dia adalah Ade Kurnia Wijaya. Dia masih 2,5 tahun mengabdi di KBS. Di komodo, Ade baru lima bulan menjadi murid Suradji. Keduanya tampak akrab meski ada rentang usia yang sangat jauh. ’’Kalau Cak Ji ini memang top,’’ papar Ade di ruang istirahat pawang bersama Suradji.

Siang itu keduanya bergegas menuju kandang komodo. Tikus putih yang dipesan sudah datang. Ade memberi makan komodo remaja, sedangkan Suradji memberi makan komodo dewasa.

Sekali lempar, komodo langsung berebut tikus yang berlarian itu. Tidak ada tikus yang bisa lolos. Bagi komodo, tikus-tikus tersebut bak permen. Sekali telan. Saat komodo saling berebut, tikus itu bisa terpotong dengan cepat.

Selain tikus, komodo diberi makan daging kambing. Namun, pemberian makanan juga ada hitungannya. Komodo tidak boleh terlalu gemuk. Apalagi terlalu banyak asam urat gara-gara sering makan daging kambing, hehe...

Suradji juga teliti dalam memperhatikan komodo mana yang belum kebagian makanan. Bisa jadi komodo itu sedang sakit.

Saat ini ada enam kandang komodo di KBS. Komodo dipisahkan berdasar besar tubuhnya. Bila dicampur, komodo dominan bakal menyerang yang kecil. Bahkan memakannya. Ya, komodo memang termasuk salah satu hewan kanibal. Namun, hal tersebut jarang terjadi karena ketersediaan makanan KBS cukup.

Saat ini Suradji menjalani masa kerja perbantuan. Entah kapan dia bakal berpisah dengan komodo-komodo yang ditetaskan. Dia seakan jadi ayah bagi naga-naga dari NTT itu. Bila benar-benar pensiun nanti, dia berjanji tetap setia menengok keadaan komodo tersebut. Sebagai pengunjung. (Salman Muhiddin/c15/dos)

Septya Kurnia Pratiwi, Keeper Orang Utan, Jadi Keeper sebelum Dokter

SEPTYA Kurnia Pratiwi tidak malu jadi keeper di KBS. Alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga itu adalah zookeeper yang direkrut pada April.

Keputusan itu sempat dipertanyakan orang tuanya. Kenapa harus KBS? ’’Selama sesuai dengan hati, pekerjaan itu pasti menyenangkan,’’ kata perempuan kelahiran 12 September 1991 tersebut.

Sebelum bekerja di KBS, dia menjadi pegawai di perusahaan distributor fumigasi atau pembasmi hama. Setiap hari waktunya dihabiskan di depan layar komputer. Dia tidak betah, lalu memutuskan keluar.

Saat ditemui Jawa Pos, Septya terlihat duduk-duduk di area primata. Dia sedang beristirahat sembari menunggu Alifah, orang utan betina yang hendak dibawa jalan-jalan. Karena tergolong keeper baru, Septya masih mendapat pendampingan dari keeper senior, Istiya Artika.

Tidak lama menunggu, Alifah keluar dari kandangnya dengan digandeng Istiya. Orang utan berusia 8 tahun itu masih ragu untuk melangkah. Jalan empat langkah, ia duduk lagi. Kepalanya tolah-toleh mengamati hal baru. Maklum, selama ini ia lebih banyak menghabiskan waktu di kandang. Alifah harus diajak jalan-jalan karena saat Lebaran ia bakal jadi bintang pada pertunjukan feeding time.

Begitu Alifah keluar, Septya langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia seperti melihat bayi imut yang baru keluar rumah. ’’Gemas, gemas, gemas,’’ ucapnya.

Saking gemasnya, Septya tidak ragu untuk memeluk dan mencium Alifah. Bulu-bulunya sangat bersih. Ia baru saja dimandikan. ’’Adik kok sedih?’’ kata Septya kepada Alifah yang tampak melamun. Tampaknya, Alifah masih belum terbiasa dengan suasana luar kandang.

Tidak lama kemudian, Alifah terlihat panik. Ia ingin segera kembali ke kandangnya. Ia menarik tangan Septya yang menahannya. Dari kejauhan, ternyata ada badut yang hendak lewat.

Badut berwujud Masha, karakter gadis cilik di kartun Masha and the Bear, itu sehari-hari berjualan kembang gula tidak jauh dari area primata. ’’Memang ia takut sama badut. Sama balon juga,’’ ujar Septya.

Agar tenang, Alifah diberi makan buah-buahan. Ada melon, blewah, dan nanas yang sudah dipotong-potong. Septya harus memperhatikan orang utan agar tidak makan buah-buahan yang jatuh di tanah. Dengan begitu, berbagai macam penyakit diharapkan tidak menghampiri primata asal Kalimantan tersebut.

Orang utan yang masih anak-anak memang belum bisa membedakan makanan kotor dan bersih. Sementara itu, yang dewasa sudah pandai memilih makanan. Istiya memberi tahu Septya bahwa dirinya pernah melakukan percobaan. Dia memberi makan orang utan dewasa dengan buah yang penuh pasir. ’’Setelah saya perhatikan, pasirnya dibersihkan sampai bersih. Nah, ini prilaku yang perlu dipahami keeper. Orang utan sebenarnya menjaga kebersihan,’’ jelas Tyo, sapaan Istiya.

Septya mengangguk-angguk atas penjelasan pawang yang jauh lebih senior tersebut. Selama kuliah materi pembelajaran seperti itu tidak didapat. ’’Memang, ilmu banyak didapat di lapangan,’’ kata perempuan asal Ngagel Rejo tersebut.

Sentuhan Perempuan Ubah Perilaku Pengunjung

Selama dua bulan terakhir Septya banyak dibantu Alifah dalam memahami perilaku orang utan. Dibandingkan orang utan lainnya, Alifah memang lebih jinak. Orang utan betina itu mengulurkan tangannya dengan lembut kepada orang yang baru dikenal.

Gerakannya pun perlahan-lahan seperti putri keraton. Karakter Alifah yang lemah lembut itu terbentuk saat bayi. Ia sering bertemu pengunjung pada acara animal show.

Riski dan Damai, orang utan lain, lebih usil dan agresif. Perlu kesabaran khusus untuk mendekati dua orang utan tersebut. Karena itu, KBS tidak membebaskan Riski dan Damai untuk didekati pengunjung.

Sebagai keeper, Septya harus datang pukul 06.30 sebelum pengunjung datang pukul 08.00. Dia harus memperhatikan makanan orang utan. Bila masih tersisa banyak, orang utan kemungkinan sakit. Atau, makanan yang diberikan tidak sesuai dengan seleranya.

Selain itu, dia harus memperhatikan feses atau kotoran hewan. Bila bentuk kotoran tidak padat dan berbau aneh, dia harus bergegas mengambil sampelnya untuk dibawa ke lab. ’’Untungnya, sampai sekarang belum ada yang sampai sakit,’’ ungkap perempuan yang pernah magang di Maharani Zoo, Lamongan, itu.

Tugas berat keeper sejatinya tidak mengurus binatang. Tetapi mengawasi pengunjung yang memberi makan binatang. Tindakan tersebut dilarang. Namun, para pengunjung tetap saja memberi makan hewan-hewan KBS. Terutama monyet jawa yang memiliki populasi sangat banyak.

Para pengunjung selalu beralasan bahwa makanan yang diberikan tidak berbahaya. ’’Aduh. Bukan masalah itu. Masalahnya hewan-hewan itu sudah diberi nutrisi sesuai hitungan. Tidak boleh berlebih,’’ jelasnya.

Selain itu, ada pengunjung yang melempar makanan ringan beserta bungkus plastik. Biasanya, pelakunya anak-anak kecil. Nah, anak-anak itu perlu mendapat pengetahuan bahwa plastik bisa membunuh hewan tersebut. ’’Makanya, kita harus pintar-pintar memberikan arahan,’’ kata alumnus SMAN 10 itu.

Meski melelahkan, Septya menganggap pekerjaan itusebagai batu loncatan untuk melangkah. Sebab, dia masih punya cita-cita menjadi dokter hewan KBS. Dia juga berkeinginan membuka praktik sendiri. ’’Buka klinik kecil-kecilan dulu. Ambil satu dua pasien. Tapi tetap bekerja di KBS,’’ ujarnya.

Dirut KBS Chairul Anwar sengaja merekrut pawang-pawang perempuan. Selain Septya, ada Vega, Raya, Sita, dan Kiki. Sentuhan perempuan diharapkan bisa mengubah perilaku pengunjung. Sebab, berbagai macam cara terus dilakukan KBS agar pengunjung tidak ikut memberi makan. ’’Perempuan kan lebih lembut,’’ ujar mantan Dirut PDAM Pasuruan itu di Masjid KBS Jumat (9/6).

Chairul mengamini keinginan Septya untuk meloncat ke karir yang lebih tinggi. Chairul sengaja mengambil lulusan kedokteran hewan dalam perekrutan tersebut. Sebab, dia ingin para binatang di KBS mendapat perawatan yang prima. (sal/c15/dos)

Pengalaman Toni Johansyah sebagai Keeper Zona Afrika

Toni Johansyah punya tugas yang cukup berat di KBS. Dia menjadi keeper Zona Afrika. Ada jerapah, zebra, wildebeest, rusa, dan burung unta. Dia menyayangi semua binatang tersebut. Namun, bila diminta memilih, dia paling sayang dengan jerapah bermana Moritdz.

JERAPAH kelahiran Jerman pada 2011 itu didatangkan dari Taman Safari Indonesia (TSI). Moritdz tiba pada 2013 sebagai pengganti Kliwon yang mati karena sakit. Kliwon ditengarai mati lantaran memakan sampah plastik yang dilempar pengunjung.

Sebelumnya, Toni Johansyah harus merawat Moritdz di TSI selama satu setengah bulan. Perlu pengenalan agar jerapah itu menurut. Salah satu cara agar Moritdz menurut adalah menggaruk badannya. Karena terlampau tinggi, Toni menggunakan sapu lidi. ’’Awalnya ia geli dan menghindar. Tapi sekarang sudah terbiasa. Cara ini nemu sendiri,’’ ujar pria berusia 27 tahun tersebut.

Setelah jerapah agak menurut, pekerjaan pertama yang harus dikuasai adalah memasukkannya ke kandang. Bukan pekerjaan mudah menggiring hewan setinggi 4 meter itu.

Awalnya, Toni membuka kandang Moritdz selama dua pekan agar ia tahu kandang barunya. Setelah mulai terbiasa, Toni menemukan cara lain untuk menggiring jerapah jantan tersebut.

Salah satu caranya menarik ekor jerapah. Setelah ekor ditarik, jerapah mulai bergerak. Namun, dia harus menjaga jarak setidaknya 1,5 meter dari kaki belakang jerapah. Pada radius itu, sepakan jerapah tidak bakal mengenainya. ’’Sekarang sudah gampang memasukkannya,’’ kata pria asal Nganjuk tersebut.

Tugas yang kini merepotkan adalah memberi makan. Moritdz bakal tahu saat Toni masuk ke kandang. Suara gesekan pagar saat Toni masuk menandakan makanan segar akan datang.

Toni lantas menyiapkan seikat daun kaliandra di balik pagar bambu setinggi 3 meter. Dengan lehernya yang menjulang tinggi, Moritdz mengintip makanan kesukaannya itu.

Saat pagar dibuka, Moritdz mengusir zebra bernama Sony yang ikut menghampiri. Kakinya menendang-nendang sebagai gertakan agar zebra tidak mencuri jatah makannya.

Berharap Moritdz Dapat Jodoh

Setelah zebra pergi, Moritdz mendekati Toni. Ia sudah tidak sabar ingin memakan daun tinggi serat tersebut. Sebab, sejak pagi ia hanya mengunyah rumput. Saking tidak sabarnya, ia berusaha menendang Toni. Beruntung, sepakan kaki depan tersebut mengenai gagang gerobak. ’’Ngerti sendiri kan kelakuannya gimana,’’ ucap Toni kepada Jawa Pos yang menunggu di luar kandang.

Daun itu digantungkan setinggi 4 meter di tiang yang dibentuk mirip rumah tersebut. Sebelumnya, makanan jerapah hanya disediakan di tempat setinggi 2 meter. Dekat dengan tempat makan zebra.

Ketika itu perkelahian lebih sering terjadi. ’’Setelah saya perhatikan, pemberian makan itu salah. Makanan jerapah harus di atas,’’ jelas lulusan jurusan pertanian SMK SPP Negeri Nganjuk tersebut.

Toni memiliki buku harian. Buku itu digunakan untuk mencatat perkembangan hewan-hewan yang dirawat. Misalnya, Moritdz tidak mau makan. Ada tiga kemungkinan di catatannya. Yakni, Moritdz sedang sakit, rumput yang diberikan sudah mengering, atau Moritdz sudah kenyang.

’’Nah, untuk masalah pakan, keeper harus rewel. Sebab, hampir seluruh waktu jerapah dihabiskan dengan makan,’’ ungkapnya.

Jerapah bisa makan mulai pagi hingga sore. Saat sedang makan, jerapah akan cuek pada sang pawang. Meski dipanggil, hewan itu tidak menoleh. Jerapah baru merespons saat dipegang.

Toni kini sudah menemukan cara untuk mencium jerapah. Daun kaliandra diletakkan di dadanya. Dengan begitu, kepala jerapah bakal mendekat. Namun, dia harus berhati-hati. Sebab, lidah jerapah sangat kasar. ’’Mirip ampelas,’’ ungkapnya.

Pipinya pernah terkena jilatan jerapah. Dia baru sadar saat cuci muka. Saat sabun digosokkan ke wajah, rasa perih itu muncul. Saat berkaca, pipinya sudah berwarna merah.

Terkadang, Toni juga mengajak Moritdz mengobrol. Meski tidak paham, Toni mengangap cara itu merupakan salah satu cara agar Moritdz semakin hafal dengan suaranya. Selain suara, binatang menghafal bau dan wajah sang pawang.

Toni berharap Moritdz mendapat teman. Sebab, pejantan mana yang mau hidup sendiri seumur hidup. Setiap hari hanya makan dan tidur pasti sangat membosankan. Karena itu, dia bakal sangat senang apabila mendapat tambahan satu lagi jerapah betina. Bila sampai beranak, betapa bahagianya dia. Seperti punya anak sendiri. (*/c15/dos)

#kbs #keeper #komodo #orang utan #jerapah

Salman Muhiddin
Jawa Pos 2017
Other Cover Stories
 Top
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia