Orang-Orang dengan Golongan Darah Rhesus Negatif


Mereka ini menghayatibetul slogan Palang Merah Indonesia (PMI): Setetes darah Anda, nyawa bagi sesama. Sebab, orang-orang ini pernah merasakan sulitnya mencari darah saat kondisi sakit parah.

Kamis, 15 Jun 2017 22:39
PENULIS : FERLYNDA PUTRI DAN DWI WAHYUNINGSIH | EDITOR : SURYO EKO PRASETYO

Sudah sejak 1990 Bambang Satriyo aktif donor darah. Tapi, baru pada 2007 dia diketahui punya rhesus negatif. Padahal, saat itu dia sudah 60 kali jadi pendonor darah.

Ayo Jadi Dermawan Darah

BAMBANG Satriyo memang pendiam. Tapi, kalau ditanya soal berapa kali dia sudah berdonor, jawabannya mantap. ’’Sudah 87 kali.’’

Sejak diketahui punya rhesus negatif, Bambang memang tak bisa rutin donor. Dia harus ngirit. Dia hanya berdonor saat darahnya dibutuhkan.

Lelaki 47 tahun itu ingat saat kali pertama tahu jenis darahnya. Pada 2007, Bambang diundang ke PMI Surabaya. Undangan tersebut diterimanya setelah melakukan donor.

Yang muncul adalah rasa waswas. Undangan itu tak seperti lazimnya. Bambang khawatir ada penyakit yang terdeteksi pada darahnya.

’’Sampai di PMI Surabaya, saya diberi tahu bahwa ada kecenderungan rhesus negatif. Tapi belum yakin betul,’’ ucapnya. Saat itu Bambang tidak tahu apa itu rhesus negatif. Selama dia melakukan donor, golongan darah yang diketahui cuma A, B, AB, dan O.

Pihak PMI pun menanyakan apakah Bambang memiliki riwayat keluarga bule. Namun, sepengetahuan Bambang, dirinya tidak memiliki riwayat keturunan bule.

Memang, rhesus negatif banyak dimiliki ras kausasoid. Para bule. Yang tinggal di Eropa. Atau Amerika. Atau di benua lain yang warganya keturunan ras bule.

PMI pun meminta Bambang kembali menjalani cek darah. Hasilnya tetap memunculkan keraguan. Hingga akhirnya pada tes yang ketika, baru mantap disimpulkan bahwa darah Bambang adalah O rhesus negatif (O-).

Sejak saat itu, Bambang melakukan donor ketika ada panggilan dari PMI. Yakni, ketika ada permintaan darah O-.

Ketahuan Rhesus Negatif setelah 60 Kali Sumbangkan Darah

Selama delapan tahun, Bambang tidak tahu bahwa ada komunitas Rhesus Negatif Indonesia (RNI). Pada 2015, Bambang yang sedang mendonorkan darah bertemu dengan anggota RNI cabang Jatim-Bali. Dari percakapan singkat di ruang donor tersebut, Bambang tertarik untuk bergabung.

Dia pun merasakan, dengan bergabung RNI, pengetahuannya makin banyak. Belum lagi jaringan untuk donor darah yang semakin luas. ’’Saudaranya makin banyak,’’ jelas pemilik sebuah percetakan tersebut.

Bersama RNI, Bambang terus mengampanyekan cek rhesus. Sebab, Bambang merupakan salah satu yang beruntung. Dia tahu jenis darahnya tanpa melalui sakit. Tidak seperti sebagian anggota RNI yang baru mengetahui jenis darahnya setelah sulit mencari donor.

’’Kalau mau cek rhesus gratis, ya donor darah,’’ tutur warga Jalan Gembili itu.

Dua anak Bambang juga sudah menjalani cek darah. Semua rhesus positif. Kini Bambang selalu menjaga tubuhnya. Dia tak ingin kehilangan kesempatan donor saat ada panggilan. Bambang pun menghindari beberapa obat. ’’Kalau flu, ya cukup istirahat dan banyak makan saja. Tidak perlu obat,’’ katanya.

Yang jelas, Bambang selalu menjaga agar tubuhnya tidak lelah. Pola hidupnya ditata. ’’Saya pernah mau donor, eh tensinya tinggi. Tidak jadi,’’ ucapnya. (Ferlynda Putri/c5/dos)

Dua Kali Melahirkan tanpa Sediaan Darah

LIEM Jenny Erlita ingat betul saat hamil anak pertama pada 2005. Istri Benny Sutanto tersebut rajin memeriksakan kandungan. Pada saat itulah, Jenny –sapaannya– tahu bahwa dirinya punya golongan darah yang langka. Yakni, AB-.

Sayang sekali, Jenny tidak langsung mendapatkan penjelasan yang gamblang soal golongan darah itu. Sang dokter hanya menyarankan Jenny untuk suntik Rhogam. Itu merupakan anti-D (Rho) imunoglobulin yang berfungsi menghancurkan sel darah merah janin yang beredar di dalam darah ibu sebelum sel darah tersebut memicu pembentukan antibodi yang dapat menyeberang ke dalam sirkulasi darah janin.

Tapi, Rhogam mahal banget. Jutaan rupiah. Itu pun harus dilakoni mulai ibu mengandung sampai melahirkan. Gara-gara hal tersebut, Jenny sempat merasa down. Baginya, takdir tidak adil.

Melihat sang istri seperti itu, Benny lantas mencari tahu apa itu rhesus negatif. Dibantu keluarga, mereka berusaha menemukan dokter lain agar bisa mendapatkan penjelasan yang lebih akurat. ’’Dari dokter kedua, saya sedikit mengerti bahwa rhesus negatif itu bukan penyakit,” tutur perempuan dua anak tersebut.

Warga Perumahan Makarya Binangun, Sidoarjo, itu pun semakin berhati-hati pada kehamilan kedua. Sebisanya dia menjaga diri agar jangan sampai jatuh atau terbentur agar kandungannya tidak bermasalah. Tapi, hal tersebut tidak membuatnya berdiam diri. Dia tetap aktif bekerja seperti biasa. Bahkan, Jenny berani melahirkan anak keduanya secara Caesar.

Sempat melahirkan secara normal pada kehamilan pertama, Jenny harus menjalani operasi Caesar pada kehamilan kedua. Kala itu, produksi air ketubannya sedikit. Operasi menjadi satu-satunya jalan agar bisa melahirkan anak kedua dengan selamat.

Memiliki risiko terjadinya pendarahan, dia disarankan untuk menyiapkan donor darah. Pasalnya, darah yang dimilikinya merupakan jenis langka di Indonesia.

”Sempat disiarkan ke radio juga waktu itu. Tapi, enggak ada pendonor. PMI dan dokternya juga nggak dapat waktu itu,” ucap Jenny. Sempat diundur selama beberapa jam, akhirnya dokter berani melakukan operasi meski tidak ada persediaan darah untuk antisipasi. (dwi/c6/dos)

DEMI SESAMA

JAMALUDIN senang betul punya kartu PMI dari Unit Transfusi Darah (UTD) Sidoarjo dan Surakarta. Kartu-kartu tersebut selalu dibawanya di dompet. Bak kolektor kartu. ”Yang Malang saya tidak ambil. Surabaya saya tidak punya,” tutur lelaki 32 tahun itu saat ditemui Jawa Pos pada Senin (12/6).

Jamal, sapaan akrabnya, memang beberapa kali donor ke luar kota. Itu bukan soal gaya-gayaan. Dia menyadari bahwa donor darah jenis rhesus negatif tak sebanyak mereka yang rhesus positif. Padahal, nyawa tidak bisa ditawar. Orang yang butuh darah harus mendapatkan donasi yang tepat.

Jamal, pria kelahiran Mojokerto, adalah penyandang golongan darah rhesus negatif. Tepatnya, B-. Di berbagai literatur disebutkan bahwa tiap permukaan sel darah merah punya protein antigen. Nah, ada orang yang punya protein itu. Ada yang tidak. Dengan fakta tersebut, jenis darah pun digolongkan menjadi dua. Darah yang punya protein disebut rhesus positif. Yang tidak, ya negatif.

PIN Darah

Jamal mengetahui bahwa rhesusnya berbeda dengan orang kebanyakan pada 2013. Itu pun secara tidak sengaja karena kecelakaan.

”Saya kan suka touring. Pertengahan 2013, saya melakukan perjalanan dari Bali ke Surabaya,” tuturnya. Di Situbondo, dia mengalami kecelakaan. Kakinya patah dan harus dioperasi. Dua rumah sakit menolak karena peralatan kurang memadai untuk merawat kaki Jamal. Akhirnya, dia dirujuk ke RSUD dr Soetomo.

Di rumah sakit milik Pemprov Jatim itu, dia tahu bahwa darahnya rhesus negatif. Tapi, rumah sakit tidak memberi tahu secara gamblang soal jenis darah tersebut. ”Hanya diberi tahu bahwa darahnya darah bule,” kata Jamal.

Tentu, Jamal dan keluarganya langsung bingung. Bule mana yang mau menyumbang darah? Yang bikin bingung lagi, kenapa Jamal yang arekMojokerto bisa punya darah bule?

”Waktu itu, kami didatangi ketua RNI yang masih Pak Ivan (Ivan Tjen, ketua Komunitas Rhesus Negatif Indonesia, Red). Saya diberi darah sesuai kebutuhan operasi. Ivan tak memberi tahu Jamal siapa donor tersebut. Bahkan, hingga diwawancarai dua hari tahu, Ivan belum tahu orang yang berdonor itu. ”Setiap ditanya, tidak ada yang ngaku. Saya merasa utang budi,” ucapnya.

Komunitas RNI merupakan wadah bagi para penyandang rhesus negatif. Mereka memang memiliki peraturan agar si penerima donor tidak mengetahui siapa pemberi darah. Sebab, dikhawatirkan membuat si penerima donor sungkan.

Demi Sesama

Sejak mendapatkan donor darah dari RNI itu, Jamal ikut aktif dalam komunitas tersebut. Dia merasakan betul bagaimana mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup. Orang lain yang darahnya rhesus negatif pun harus punya kesempatan itu. Akhirnya, Jamal rela ke luar kota untuk mendonorkan darahnya.

Yang paling diingat Jamal adalah pengalamannya ke Surakarta. Pada 30 Januari 2016, dia harus memacu mobilnya dari Malang ke Surakarta. Di kota tersebut ada pasien yang membutuhkan delapan kantong darah B-. Sementara itu, pihak keluarga baru mampu mengumpulkan lima kantong.

”Sepanjang perjalanan, saya ingat harus jaga kondisi. Jangan sampai di sana tidak bisa donor,” ujar suami Dewi itu. Di setiap kota yang disinggahi, Jamal berusaha istirahat dan makan. Sampai Surakarta, dia pun bisa mendonorkan darahnya.

”Di sana saya bertemu dengan ibu-ibu dari Semarang. Waktu ketemu saya, dia tidak boleh donor karena hemoglobinnya rendah. Dan dua hari setelah itu, dia kembali ke Solo untuk donor,” cerita Jamal.

Malu-malu Jamal menceritakan bahwa sebenarnya dirinya takut pada jarum suntik. Namun, setelah operasi, dia akhirnya berani dan malah ketagihan untuk donor darah. ”Waktu donor pertama ya deg-degan karena jarumnya besar,” ceritanya.

Jamal baru sekitar enam kali donor darah. Memang para penyandang rhesus negatif berbeda dengan rhesus positif yang bisa mendonorkan darahnya rutin per 75 hari. Mereka baru mendonorkan darah ketika ada pasien yang membutuhkan. Hal tersebut dilakukan agar ketika ada kejadian darurat, mereka bisa donor. ”Beberapa hari lalu mau donor, tapi sedang flu. Jadi ditunda deh,” ucap Jamal. (*/c6/dos)

#golongan darah #rhesus negatif #pmi

Ferlynda Putri dan Dwi Wahyuningsih
Jawa Pos 2017
 Top
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia