Kisah Para Penceramah Spesialis Lapas


Memberi bekal ilmu keagamaan kepada para penghuni lembaga pemasyarakatan menjadi tugas Abul Kodim, Ida Wahyuni Nurlatifa, dan Muhammad Fahri. Hal tersebut dilakukan dengan ikhlas dan tanpa bayaran. Berikut kisah mereka selama bertugas di Lapas Kelas II-A...

Jumat, 09 Jun 2017 10:50
PENULIS : MAYA APRILIA - HASTI EDI SUDRAJAT | EDITOR : SURYO EKO PRASETYO

Memberi bekal ilmu keagamaan kepada para penghuni lembaga pemasyarakatan menjadi tugas Abul Kodim, Ida Wahyuni Nurlatifa, dan Muhammad Fahri. Hal tersebut dilakukan dengan ikhlas dan tanpa bayaran. Berikut kisah mereka selama bertugas di Lapas Kelas II-A Sidoarjo.

Kodim Tularkan Kebiasaan Salat Berjamaah di Sel

SOSOK Abul Kodim sudah akrab di kalangan napi, tahanan, dan sipir Lapas Kelas II-A Sidoarjo. Dua minggu sekali, laki-laki 60 tahun itu datang ke sana. Dia dipercaya menjadi penceramah sekaligus imam bagi para penghuni lembaga pemasyarakatan tersebut.

Bagi Kodim, Lapas Kelas II-A Sidoarjo bukanlah tempat yang baru dikunjungi. Bui yang kini dihuni oleh ribuan tahanan dan narapidana (napi) itu pernah menjadi ”rumahnya”. Ya, bapak tiga anak tersebut pernah menjalani hukuman di sana. Selama sembilan bulan di bui, Kodim membagikan ilmu agamanya kepada sesama penghuni penjara.

Dia juga menjadi imam di masjid lapas saat salat Duhur dan Asar. ”Kalau salat Subuh, Magrib, dan Isya ya tetap jadi imam, tapi di dalam kamar,” ucap kakek dua cucu itu saat ditemui di lapas pada Senin (5/6). Sampai sekarang pun, setelah bebas, dia juga sering menjadi imam di masjid lapas.

Tidak hanya di lapas, Kodim juga melakukan safari Ramadan ke lokasi lainnya. Dia berkunjung dari musala satu ke musala lainnya di daerah tempat tinggalnya di wilayah Sidoarjo. Tidak sekadar datang, dia juga berbagi ilmu dalam ceramah tentang kebaikan.

Kodim bercerita, dia belum aktif dalam kegiatan keagamaan di masjid ketika awal masuk bui. Bahkan, saat kali pertama ditawari menjadi imam dan mengisi khotbah, dia tidak berkenan. Dia tidak ingin dicap sebagai penghuni baru yang sok tahu. Namun, lambat laun, Kodim pun mulai membuka diri dan mau berbagi ilmu agama pada penghuni penjara.

Pria asli Sidoarjo itu pun dengan senang hati menjadi imam salat. Sering kali dia juga mengisi khotbah Jumat. Termasuk ceramah dan sharing pengetahuan agama yang rutin dilakukan tiap selesai salat berjamaah. Kodim pun pernah menjadi narasumber dalam sepekan berturut-turut karena pembicara lainnya berhalangan hadir. ”Rasanya senang bisa berbagi ilmu. Pengalaman di sini (lapas) sangat berkesan,” ucapnya. Dia mengaku, para tahanan dan napi memperhatikan saat dia memberikan ”wejangan”. Tidak ada yang berbicara sendiri atau tertawa-tawa saat dia berbicara.

Sering kali sebelum ceramah dilakukan, Kodim berbicara terus terang dan meminta yang tidak suka dengan aktivitasnya untuk pergi saja. Saat berbicara, Kodim memang selalu blak-blakan. Tidak ada yang ditutup-tutupi. ”Pokok e bonek..bondo nekat,” ungkapnya, lantas tertawa. Meski hanya bermodal nekat, nyatanya, Kodim mampu ”membius” para penghuni bui. Yang disampaikannya senantiasa didengarkan. ”Mereka sungguh-sungguh ingin belajar ilmu agama. Ingin bartaubat di sini,” sambung mantan napi kasus bantuan sosial (bansos) sapi pada 2013 itu.

Salah satu kebiasaan Kodim selama masih di bui yang ditularkan ke napi dan tahanan lainnya adalah salat berjamaah di dalam sel. Tiap hari dia menjadi imam salat Subuh, salat Magrib dan Isya di dalam bloknya. Kala itu ada 29 tahanan dan napi di sel tersebut. Saat Kodim datang, hanya sembilan orang yang salat. ’’Lama kelamaan banyak yang sadar dan ikut salat bersama,’’ ucapnya.

Sambutan itulah yang menjadikan Kodim betah dan tidak keberatan tetap berbagi di lapas. Tiap dua pekan sekali, dia selalu datang ke penjara untuk memberikan tausiah kepada temannya. Terutama masalah merawat jenazah. Dia mengaku selalu ke lapas jika tidak berhalangan. ”Selama masih bisa akan terus datang ke sini,” ujarnya. (may/c20/ai)

Fahri Lebih Tertantang Ceramah di Hadapan Napi

MAKALAH Ali Ibnu Abu Thalib yang membahas rasa takut kepada Allah dipilih Muhammad Fahri sebagai materi pengajian di Lapas Kelas II-A Sidoarjo Selasa (6/6). Dia mengajak para narapidana (napi) untuk memohon ampun dan semakin mawas diri dalam menjalani kehidupan. ’’Umat muslim wajib menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya,’’ ujarnya.

Menurut dia, sebaik-baiknya bekal akhirat adalah takwa kepada Sang Pencipta. Juga, selalu ikhlas menerima pemberian Tuhan. ’’Di bulan yang suci ini, mari bersama-sama memperbanyak ibadah,’’ katanya. ’’Tapi, bukan berarti terus-menerus tidur karena menganggapnya mendapat pahala,’’ tambahnya. Guyonan ringan itu spontan membuat suasana pengajian menjadi segar. Beberapa napi tampak tersenyum.

Fahri tidak asing dengan lingkungan Lapas Kelas II-A Sidoarjo. Enam tahun terakhir laki-laki 49 tahun itu rutin mengisi pengajian untuk warga binaan. ’’Hampir setiap pekan pasti datang, kecuali kalau ada halangan,’’ tuturnya.

Pengalaman Fahri

Keterlibatannya dalam kegiatan spiritual lapas bermula pada pertengahan 2011. Sejak mengemban jabatan di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sidoarjo, dia mendapat tugas mengisi pengajian di lapas. ’’Ustad dari luar sengaja didatangkan untuk mengisi pengajian. Digilir setiap harinya. Jadi, proses mengkaji ilmu agama tidak membosankan,’’ tutur pria yang juga ketua MUI Sidoarjo Cabang Tulangan itu.

Fahri merasa bangga bisa membagikan ilmunya kepada para napi. Memberikan tausiah kepada orang-orang yang tengah tersandung masalah hukum merupakan tantangan tersendiri. ’’Jelas berbeda dengan ceramah di luar,’’ ucap bapak tiga anak tersebut.

Warga Desa Kajeksan, Tulangan, tersebut mengatakan punya kiat tersendiri agar maksud ceramahnya bisa dipahami para napi. Yakni, memilih materi yang ringan dan menyampaikannya dengan selingan guyonan. ’’Dijelaskan secara sederhana saja. Kalau terlalu serius, jamaah justru tidak antusias,’’ ungkapnya.

Fahri yakin cara yang ditempuh bisa membuat hati para napi terketuk. Jadi, setelah bebas, mereka tidak akan mengulangi perbuatan melanggar hukum. ’’Harapannya tentu agar warga binaan bisa berubah menjadi lebih baik,’’ katanya.

Ustad di Pondok Pesantren (Ponpes) Darunnajah, Tulangan, tersebut percaya bahwa warga binaan sebenarnya bukan orang yang berhati jahat. Mereka berurusan dengan hukum karena suatu alasan. Misalnya, faktor kesengajaan lantaran tersudut kebutuhan, menjadi korban fitnah seseorang, atau justru karena tidak sengaja. ’’Dua alasan terakhir paling memungkinkan untuk cepat berbenah. Mereka pasti kapok kehidupannya terbatasi jeruji besi,’’ jelasnya. (edi/c15/ai)

Ida Jadi Tempat Curhat Napi Perempuan

DI kalangan tahanan dan narapidana (napi) Blok Wanita (W) Lapas Kelas II-A Sidoarjo, nama Ida Wahyuni Nurlatifa cukup terkenal. Tiap awal pekan perempuan 47 tahun itu bertemu dengan para pelaku tindak pidana perempuan. Tidak sekadar bertatap mata, Ida bertandang demi membahas tafsir Alquran bersama warga binaan di sana.

Di Musala An Nisa di blok W, Ida selalu dikelilingi puluhan tahanan dan napi. Setiap berjumpa, ibu tiga anak itu membawa oleh-oleh berupa ilmu baru bagi penghuni penjara. Dia senantiasa memberikan semangat kepada mereka. Ida selalu berpesan bahwa selalu ada hikmah di balik setiap kejadian dalam hidup. Termasuk ketika seseorang merasa tidak bersalah, tetapi dipidana. ’’Saya sampaikan pada mereka bahwa di sini ini tidak di tahanan. Tapi lagi mondok. Cari ilmu,’’ ucap perempuan kelahiran Sidoarjo tersebut.

Dengan tujuan mencari ilmu dan kebaikan, Ida berharap para penghuni tidak galau lagi. Mereka fokus ’’mondok’’ di dalam penjara. Meski hal itu tidak mudah dilakukan. Sebab, banyak penghuni yang belum bisa ikhlas menjalani kehidupan di bui. ’’Bagi yang baru, pasti awal-awal merasa keberatan,’’ kata Ida. Dia sering menjadi tempat curahan hati (curhat) para penghuni. Sudah menjadi hal biasa saat ada penghuni yang datang padanya dengan berlinang air mata. Menceritakan isi hatinya.

Dengan sabar, Ida mendengarkan curhat mereka. Dengan telaten, dia juga memberikan pengertian dan menghibur mereka. Ayat Alquran dijadikan dasar untuk menguatkan pernyataan demi meyakinkan para tahanan dan napi.

Ida mengatakan tidak pernah grogi atau takut menginjakkan kaki di bui. Dia kali pertama mengisi kegiatan keagamaan di Rutan Kelas I Surabaya (Medaeng). Mulanya, Ida hanya ikut seniornya. Tugasnya membuka dan menutup ceramah saja. Lama-kelamaan dia berani menjadi pembicara sendiri. Sejak 2011 dia aktif berkegiatan di Blok W Rutan Kelas I Surabaya. Pada awal 2015, kegiatan Ida baru beralih ke Lapas Delta.

Menurut dia, ada kepuasan tersendiri ketika bisa berbagi ilmu agama di tahanan. Banyak kesan yang didapat selama berada di tahanan. Ida paham dari gerak gerik dan sorot mata para tahanan serta napi yang tidak berkenan dengannya. Setelah berkegiatan, dia pasti mendekati mereka yang memberikan sinyal penolakan. Ida mulai menyapa dengan menanyakan nama. Pembicaraan pun berlanjut sampai ke permasalahan yang dihadapi penghuni. ’’Kalau sudah kenal, pasti tidak benci lagi,’’ tambahnya.

Di lapas, Ida pun sering pulang terlambat dari jadwal yang ditentukan. Dia tidak keberatan jika ada penghuni yang mengajaknya berdiskusi. Sekadar bertanya soal salat jamaah pun dia jawab. Dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami penghuni.

Rita Lien, salah seorang tahanan lapas, mengaku senang mengikuti pengajian Ida. Perempuan 23 tahun itu merasa mendapat ilmu baru. Tahanan nakoba yang telah divonis pidana empat tahun dalam perkara pertamanya itu pun tidak keberatan menulis apa yang disampaikan Ida dalam catatan kecilnya. ’’Tambah senang ikut pengajian,’’ kata Rita. (may/c15/ai)

Napi Arnold yang Jadi Takmir Masjid

SALAWAT menggema dari dalam Masijd At-Taubah Lapas Kelas II-A Sidoarjo. Para narapidana (napi) pun terlihat berdatangan begitu mendengar alunan sawalat tersebut. ’’Di sini, sebelum narasumber pengajian datang, kami mengajak jamaah untuk melantunkan salawat atau istighfar,’’ tutur Arnoldin Baramuli, takmir masjid yang melantunkan salawat setelah pengajian selesai.

Arnold, sapaan akrabnya, masih muda. Usianya belum genap 24 tahun. Dia salah seorang takmir masjid Lapas Delta, sebutan Lapas Kelas II-A Sidoarjo. Latar belakangnya sebagai guru agama membuat Arnold dipercaya mengurusi kegiatan masjid.

Menurut anak kedua dari lima bersaudara itu, orang tuanya memang menekankan pentingnya ilmu agama sebagai bekal kehidupan. Arnold pun dimasukkan ke pondok pesantren (ponpes) ketika usianya masih dini. ’’Mondok mulai SD sampai SMA,’’ jelasnya.

Setelah menuntaskan pendidikan formal, dia ditawari pengurus ponpes untuk menjadi guru. Arnold pun menyambut tawaran tersebut. Dia mengajar di madrasah diniyah (MD). Namun, rutinitas di ponpes itu harus terhenti menjelang akhir tahun lalu. Arnold diciduk polisi karena melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak. ’’Dihukum tujuh tahun,’’ ucapnya lirih.

Arnold sangat terpukul dengan vonis pengadilan. Meski begitu, dia tidak ingin terus-menerus meratapi nasibnya. Warga Desa Kajeksan, Tulangan, itu ingin tetap memberikan sumbangsih terhadap sesama. Dia ingin menjadi orang yang berguna.

Dia lantas mengajukan diri sebagai salah satu takmir masjid. Selain mengurus kebersihan, pemuda itu bisa menjadi imam dan penceramah. ’’Kalau ada ustad dari luar tidak bisa datang, saya yang menggantikan,’’ ungkap napi yang tinggal blok B-14 itu.

Menurut dia, ada perbedaan dalam mengajar madrasah dengan di dalam lapas meski tidak terlalu signifikan. Arnold mengaku harus lebih memberikan penekanan ketika menjadi penceramah bagi warga binaan. ’’Materinya diperdalam. Dalil-dalilnya ditambah sebagai penegasan,’’ ucapnya.

Cara itu dilakukan bukan tanpa sebab. Dia menerangkan, dari segi kondisi, jamaah yang dibimbing sudah berbeda. Di dalam lapas sering ada napi yang belum memiliki bekal agama sama sekali. ’’Harus lebih sabar demi kebaikan bersama. Di sini sudah dewasa semua. Mayoritas orang tua,’’ katanya. (edi/c15/ai)

#penceramah #lapas kelas ii-a sidoarjo #kodim #muhammad fahri #ida wahyuni

Maya Aprilia - Hasti Edi Sudrajat
Jawa Pos 2017
 Top
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia