Bermigrasi ke Layar Lebar, Sekuel, bahkan Parodi


Kekuatan lirik dan lagu, didukung promosi kreatif, menjadi alasan sukses video Virgoun, Armada, dan Anji. Padahal, videonya hanya "bermodal spidol dan kertas minyak".

Minggu, 04 Jun 2017 13:10
PENULIS : NORA SAMPURNA DAN GLENDY BURNAMA | EDITOR : DHIMAS GINANJAR

Kekuatan lirik dan lagu, didukung promosi kreatif, menjadi alasan sukses video Virgoun, Armada, dan Anji. Padahal, videonya hanya "bermodal spidol dan kertas minyak". 

---

SAAT koran ini sampai di tangan Anda, siapa tahu separo warga Indonesia sudah menonton Surat Cinta untuk Starla. Saat Anda mulai membaca artikel ini, bisa jadi jumlah viewer Asal Kau Bahagia telah resmi menyamai jumlah penduduk Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dijadikan satu. 

Berlebihan? Coba saja lakukan tes sederhana berikut ini. Klik video lirik Asal Kau Bahagia milik band Armada di YouTube. Catat viewer-nya, tinggalkan, dan balik lagi lima menit berselang.

Jawa Pos sudah melakukannya kemarin sore. Dari semula jumlah viewer-nya 90.996.879 pada pukul 17.15, menjadi 91.008.321 lima menit berselang. 

Surat Cinta untuk Starla (Virgoun), Asal Kau Bahagia (Armada), dan Dia (Anji) bolehlah disebut mewakili tren terbaru musik Indonesia: video melesat di berbagai platform digital dan efek positifnya merembet ke mana-mana. Online maupun offline. 

Lihat yang terjadi pada Surat Cinta untuk Starla yang telah resmi masuk "Class of 100 Million Viewers" di YouTube. Tak hanya menyabet Lagu Paling Ngetop dan Video Klip Paling Ngetop SCTV Music Awards 2017, single yang ditulis Virgoun dengan inspirasi dari sang anak, Starla, itu juga bakal diangkat ke layar lebar. Proses syutingnya mulai bulan depan, berbarengan dengan keluarnya single kedua dari proyek solo vokalis band Last Child tersebut. 

"Kalau ditotal dengan video yang re-upload serta video cover, jumlah yang kita monetize sekitar 270 juta viewers," papar Virgoun.

Begitu pula dengan Asal Kau Bahagia. Rizal, vokalis Armada, mengatakan bahwa jumlah viewer yang terus melonjak berbanding lurus dengan penjualan digital, ring back tone (RBT), dan frekuensi manggung on air maupun off air. 

Dalam sebulan, 12-16 kali off air, belum ditambah tampil di televisi. Di bulan Ramadan ini, permintaan justru meningkat sampai 24 kali. 

"Liburnya paling banyak 5-6 hari dalam sebulan," kata Rizal. 

Yang kejatuhan rezeki pun akhirnya bukan hanya kelima personel Armada. "Alhamdulillah, ini kayak slang air, bukan kami saja. Karena ini kerja tim, baik musisi, label, manajemen (juga terkena dampak positifnya, Red)," ungkap Rizal.

Semua itu tentu di luar ekspektasi Virgoun maupun Rizal. Apalagi, video mereka tergolong sederhana. Di Surat Cinta untuk Starla, modelnya hanya Virgoun yang digambarkan tengah mengetik dengan mesin tik lawas. Asal Kau Bahagia malah, dalam istilah Rizal mengutip salah satu akun yang mengomentari di YouTube, "hanya modal spidol sama kertas minyak."

Di tiga bulan pertama, pertumbuhan viewer Surat Cinta untuk Starla juga masih relatif pelan. Hanya mencapai 2 juta viewers. Sementara itu, klip Dia (Anji) dan Pamit (Tulus) yang dirilis hampir berdekatan waktunya langsung viral. Menjadi dua tertinggi video musik terpopuler di YouTube hingga akhir 2016. 

Baru di awal 2017, peningkatannya melesat. "Dari 30 juta sampai 100 juta viewers itu speed-nya kenceng," kata Virgoun. 

Salah satu yang mendorong adalah short movie yang dibuat berdasar lagu tersebut. Dimainkan dua bintang muda, Jefri Nichol dan Caitlin Halderman. "Awalnya saya dijanjiin produser bakal dibikinkan video klip beneran kalau video liriknya sudah tembus 4 juta viewers," ucap Virgoun. 

Angka 4 juta lewat, 10 juta lewat, sampai menyentuh 40 juta. "Nanggung kalau cuma klip, kita bikin yang beda. Kita bikin juga short movie," tuturnya.

Sedangkan menurut Rizal, dengan video sesederhana itu, yang mengangkat Asal Kau Bahagia akhirnya adalah kekuatan lagu. Model video lirik yang mengemuka dalam 2-3 tahun belakangan juga turut membantu. 

Sebab, seraya mengajak penikmat lagu untuk interaktif. "Mendengar, menonton, sekaligus sambil nyanyi," katanya. 

Target dia dan rekan-rekannya di Armada semula hanyalah bisa mencatat 2 juta viewers dalam sebulan. Ternyata target itu sudah bisa tercapai dalam dua hari. 

Beberapa bulan ke depan, mereka merilis album kelima yang berisi 10-11 lagu. "Asal Kau Bahagia ini sebenarnya single kedua setelah Pulang Malu Tak Pulang Rindu," ujar Rizal. 

Video lirik Asal Kau Bahagia juga mendongkrak jumlah subscriber channel YouTube Armada. Semula sekitar 2 ribuan, kini setelah kesuksesan Asal Kau Bahagia, jumlahnya lebih dari 200 ribu subscriber. 

Fenomena itu dilihatnya sebagai perubahan era. "Zaman band-band legendaris seperti Slank, Dewa, Noah, Jamrud, Padi dulu mampu menjual jutaan keping. Kami nggak merasakan itu," urai Rizal. 

Armada "besar" di era RBT. Untuk album Hal Terbesar (2009), RBT-nya di-download 25 juta kali. "Bagusnya itu digital jalan, album fisik juga, off air pun balance," paparnya. 

Senada dengan Rizal, Anji menganggap tema lirik yang mendorong kesuksesan lagu Dia. Sebab, dia mewakili sesuatu yang universal. Bisa tentang romansa sepasang kekasih, cinta suami ke istri, atau orang tua ke anak-anak. 

"Makanya, lagu ini relatable dengan siapa pun," terang mantan vokalis band Drive itu.

Di YouTube, video Dia mencatat lebih dari 88 juta viewers. Google juga menyatakan lagu karya Freddy Ahmad itu sebagai lagu yang paling banyak dicari selama 2016. Google pun menggunakan Dia untuk dijadikan iklannya di YouTube.

Penjualan digitalnya juga sangat sukses. Anji pun diganjar penghargaan dari label musiknya, My Music Records, atas pencapaian di sepanjang 2016. Yakni, tujuh kali platinum award. Dia mencapai angka penjualan sekitar Rp 7 miliar dari pengunduhan atau penjualan secara online dan aktivasi RBT. 

Sebagaimana Surat Cinta untuk Starla, kepopuleran video Dia yang disutradarai Anji sendiri itu juga terbantu promosi kreatif. Di Instagram, misalnya, lewat akunnya, @duniamanji, penyanyi bernama asli Erdian Aji tersebut mengajak follower untuk mendengarkan Dia atau mengunduhnya. 

Tagar #Dia dan berbagai meme seputar lirik lagu Dia pun bertebaran di media sosial. Bahkan, Anji juga membuat video parodi pelesetan lirik lagu tersebut. "Kucinta dia, kusayang dia, rindu dia, dianya enggak. Gara-gara saya ubah lirik lagunya, semakin banyak lho yang nyari lagu saya," ujar Anji, lantas tertawa. 

Buntut dari kesuksesan itu, Anji pun merilis pada 17 Mei lalu semacam sekuel. Yakni, lagu yang isi lirik maupun kisah klip videonya merupakan lanjutan dari Dia. Judulnya Bidadari Tak Bersayap. (nor/len/c10/ttg) 

                                                                                           ***

FENOMENA "Class of 100 Millions Viewers" adalah pertanda bahwa roda industri musik tanah air masih bergerak maju. Sepenuhnya berada di era digital, menggantikan era album fisik. 

"Ketika diunggah ke digital, bisa di-play berkali-kali, raihan angka itu menjadi masuk akal," tutur pengamat musik Bens Leo.

Dia memaparkan, pada 2005 album Bintang di Surga milik Peterpan (sebelum berganti menjadi NOAH) mencapai penjualan sekitar 3 juta keping Begitu pula album Ningrat yang menjadikan Jamrud sebagai band dengan penjualan album tertinggi untuk genre musik rock dengan capaian lebih dari 1,8 juta keping. 

Setelah itu, industri musik mulai masuk ke ranah digital dengan munculnya ring back tone. Tren penjualan album langsung selanjutnya dilakukan melalui kerja sama dengan gerai makanan cepat saji. Setelah itu, disusul era penjualan digital dan video YouTube. 

Lewat YouTube, kini musisi bisa mengenalkan karyanya sekaligus mendulang pemasukan ketika video yang diunggahnya menjadi viral. Era video lirik yang booming dalam 2-3 tahun terakhir juga kian mendekatkan artis dengan fans. 

Penonton bisa bernyanyi sambil mengikuti lirik. Videonya juga lebih ringan jika dibandingkan dengan klip video yang gambarnya dibuat dalam kualitas high-definition (HD). Katakan sinyal sedang kurang bagus, video lirik lebih mudah diakses. 

Dari sisi musisi, biaya produksi video lirik juga bisa lebih ditekan. Jadi, kedua pihak diuntungkan. "Liriknya dibuat dengan huruf yang menarik dan mudah dibaca. Ini sudah memenuhi kaidah artistik," ujarnya.

Melihat capaian musisi lokal yang menembus puluhan hingga ratusan juta viewer seperti Anji, Armada, dan Virgoun, Bens mengamati, keunggulan mereka terletak pada spirit untuk berkarya. "Biasanya, ini berbanding lurus dengan nilai jual dan kekuatan off-air," kata Bens. 

Itu membutuhkan kerja sama semua pihak. Manajemen harus kuat dan memanfaatkan media sosial sebagus mungkin. "Sang artis tetap harus aktif dan kreatif dalam mempromosikan karyanya meski terikat pada label. Inisiatif harus dari artisnya sendiri," urai pria bernama panjang Benny Hadi Utomo tersebut.

Dia mencontohkan Anji yang amat mendalami dunia digital dan tahu betul pemanfaatannya. Seperti diketahui, mantan vokalis Drive itu rajin membikin vlog dan memiliki beberapa kanal YouTube. Dia kerap ngevlog dengan konten keluarga yang happy dan penuh cinta. 

"Itu secara tidak langsung, saya rasa, juga berpengaruh terhadap karya musiknya yang makin digemari," papar Bens.

Armada punya ciri khas style bernyanyi yang beda. Juga Virgoun. "Di belakangnya, pasti ada manajemen yang solid," kata dia. 

Bagaimana me-maintain fans juga menjadi hal yang amat penting. Dengan begitu, apa pun yang dihasilkan sang artis, fans menyambutnya dengan antusias. 

Misalnya Slank yang punya barisan fans loyal begitu besar. Bens bercerita, suatu kali setelah menonton pertunjukan Gigi, dirinya ditelepon Armand Maulana, dimintai komentar tentang apa yang menarik dari konser itu. 

"Saya jawab, yang menarik adalah ada bendera Slank di tengah konser Gigi. Artinya, fans Slank ada di mana-mana," sahut Bens. Armand langsung tertawa, lalu mengatakan bahwa Gigi belum sampai pada tahap itu. (nor/c11/ttg) 

#anji dia #armada #asal kau bahagia #virgoun #surat cinta untuk starla

Nora Sampurna dan Glendy Burnama
Jawa Pos 2017
 Top
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia