Pinisi yang Tergadai di Tana Beru


Sekali lagi, kita kalah di negeri sendiri. Di Tana Beru, Bulukumba, galangan kapal sudah dikuasai asing.

Kamis, 20 Apr 2017 16:26
PENULIS / EDITOR : DHIMAS GINANJAR

Kelak, pinisi tak lagi identik dengan Bulukumba. Boleh jadi, kapal kayu bertiang layar dua ini akan hilang dari jejak sejarah Tana Beru. Anak cucu kita akan bertanya, kenapa Bulukumba bergelar “Butta Panrita Lopi” (tanah tempat para ahli pembuat perahu, red).

Warga dari Eropa, dengan segala keunggulan yang mereka miliki, menginginkan semuanya. Mulai dari keuntungan dari penjualan pinisi, hingga hak paten kapal legendaris tersebut.  

Jika kita acuh, suatu saat pinisi akan berstatus made in Europe. Bukan lagi kebanggaan bangsa dari Tana Beru. Apalagi, antropolog asal Jerman, Horst H Liebner menyebut kata “pinisi” pertama kali ditemukan di De Ostpost, sebuah media yang terbit 14 Juli 1862 di Berlin, Jerman. Bukan di Bulukumba seperti yang kita yakini selama ini. 

Liebner balik menantang jika ada yang mampu mematahkan “teorinya”. Namun, dia membantah pernyataan itu untuk memuluskan langkah asing menguasai industri pinisi di Bulukumba.  

“Murni dari studi literasi yang saya lakukan,” tegasnya. 

Sejatinya, orang asing pemilik galangan kapal di Bulukumba adalah wisatawan. Mereka masuk dengan visa kunjungan, kemudian menetap dan menikahi warga lokal.

Mereka benar-benar menikmati kebebasan di negeri ini. Tidak pernah mengurus izin tinggal. Bermodalkan visa kunjungan, mereka bebas melakukan aktivitas di Bulukumba.

Kahar, Kepala Lingkungan Tokambang yang ditemui FAJAR di Kantor Lurah Tana Lemo, mengaku tidak memiliki data orang asing yang menetap di wilayahnya. Sebab, kebanyakan turis yang telah menetap hingga beberapa tahun itu, tidak menggunakan nama asli mereka.

“Memang ada yang sudah tinggal bertahun-tahun. Soal visa saya tidak tahu. Bukan mereka yang urus administrasi. Jika tidak memakai jasa pribumi, mereka sekalian memperistri warga setempat. Ini yang mempermudah segala urusan. Mulai dari perizinan kapal hingga administrasi lainnya,”  jelas Kahar.

Kahar mengaku pernah mempertanyakan masalah ini kepada Disdukcapil Provinsi Sulsel. Namun, arahan yang ia terima, turis tersebut cukup diberikan surat domisili tempat tinggal bersama keluarga. 

Menurut Kahar, seorang turis asal Amerika datang ke Tana Beru satu tahun lalu. Dia beristrikan wanita Indonesia bernama Yessi. Sang istrilah yang selama ini mengurus semua urusan administrasi di kelurahan. 

Informasi yang diperoleh, turis tersebut kemudian membeli kapal yang sementara dalam tahap penyelesaian. Nilainya Rp2 miliar. Kemudian warga yang sebelumnya adalah pemilik, dijadikan sebagai pengawas pembuatan kapal itu. Gajinya lumayan, Rp15 juta per bulan sebagai pengawas. 

Saat penulis mencoba memasuki galangan tempat pembuatan kapalnya, ada tanda larangan bagi yang bukan karyawan di pintu masuk. Meski begitu, penulis tetap masuk dengan alasan ingin memesan kapal pesiar. Sayang turis asal Amerika itu sedang tidak di tempat.

“Maaf pak. Mister baru saja keluar,” kata seorang pria bercelana pendek yang mengaku bertanggung jawab di kawasan itu.

Tidak jauh dari lokasi itu, juga ada galangan kapal milik seorang turis Prancis. Penulis sempat masuk dan berkenalan dengan turis berambut panjang dan berperawakan tinggi itu. “Nama saya Youna dari Prancis,” jawabnya dengan bahasa Indonesia. Namun, saat melihat kamera, Youna langsung menghindar.

Informasi lain dari kelurahan, ada juga turis yang sudah tinggal di Tana Lemo sejak 1997. Namun, pihak kelurahan tidak mengetahui apakah kewarganegaraannya telah diganti menjadi WNI. Buktinya, dia punya Kartu Keluarga (KK). Namanya Mr Syafir. 

Namanya tidak pernah tercantum dalam KK. Hanya istri dan anak-anaknya yang tertera.

Menurut warga, Syafir memperistri warga setempat pada 2002 silam. Saat itu, dia datang bersama turis lainnya dan minta dibuatkan kapal yang akan dioperasikan di Bali dan kawasan Indonesia lainnya. (taq-edo/ilo)

#kapal pinisi

Dhimas Ginanjar
Jawa Pos 2017
Other Cover Stories
 Top
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia