Masjid Melayu Bernuansa Aceh


Nama Aceh harum di Georgetown, Penang, Malaysia. Sebab, saudagar asal bumi Serambi Makkah bernama Tengku Syed Hussein tercatat sebagai penggagas perkampungan muslim di kota pelabuhan itu pada 1808.

Kamis, 20 Apr 2017 16:07
DITULIS OLEH Dhimas Ginanjar |
EDITOR : Dhimas Ginanjar

SUASANA  kompleks Masjid Melayu di Jalan Lebuh Acheh Rabu siang (1/2) itu terlihat sepi  Sebagai objek wisata warisan budaya Malaysia, Masjid Melayu tak dikunjungi  banyak turis. Pamornya kalah oleh Masjid Kapitan Keling yang berjarak lima  menit jalan kaki dari tempat itu. Bisa jadi, karena Masjid Melayu tidak  menawarkan keindahan arsitektur modern. Apalagi, tambahan atap saat perluasan  masjid justru menutupi keelokan bangunan lawasnya.

Siang  itu hanya ada tiga orang di dalam masjid yang sedang melakukan kajian Alquran.  Sedangkan di serambi ada dua pria sepuh yang tengah duduk santai dan beberapa  lainnya tidur di lantai.

Salah  seorang pria lanjut usia itu adalah Mochamed bin Yahya, 79. Dia adalah sosok yang dituakan oleh komunitas muslim Pulau Penang. Mochamed merupakan generasi kelima  yang tinggal di kompleks Masjid Melayu dengan beberapa rumah lawas di sekitarnya.

"Dari  dulu daerah ini sudah dijuluki Malay muslim enclave (pusat kantong muslim Melayu, Red) oleh British (Inggris, Red)," ujar Mochamed.

Sebagai  pensiunan guru SD, dia punya ikatan yang kuat soal pengetahuan. Karena itulah,  jamaah masjid merujuk dia untuk menggali informasi tentang Penang.

Mochamed  menceritakan, Masjid Melayu dahulu dibangun Tengku Syed Hussein, pedagang  peranakan Arab yang cucu sultan Aceh. Dia diminta Kapten Francis Light dari  East India Company (EIC) yang membuka trading post pada 1786 untuk ikut menggairahkan perekonomian Pulau Penang.

Syed  Hussein dipilih karena dikenal sebagai pengusaha yang sukses dalam berbisnis melalui perkapalan. Salah satu komoditasnya rempah-rempah dari Nusantara. "Dulu pulau ini juga menjadi transit bagi jamaah haji yang pergi dengan  menggunakan kapal"

Sebagai  kota transit, Pulau Penang sebenarnya ramai sejak dulu. Bahkan, di pulau seluas  293 km persegi tersebut juga sudah ada warga muslim dari Brunei maupun Indonesia zaman itu. Syed Hussein dan keluarga besarnya yang pindah ke Penang pada 1792 diberi keistimewaan oleh Inggris. Termasuk, boleh menerapkan hukum syariah di komunitasnya.

Keberadaan  Syed Hussein di Penang dengan cepat membuat perekonomian di pulau itu jadi  bergairah. Muslim dari Aceh dan negara lain yang datang juga makin banyak ke  Penang. Syed Hussein lantas membangun masjid pada 1808 untuk menyatukan umat  muslim dari berbagai etnis dan bangsa itu. Juga sebagai penanda berkembangnya  peradaban muslim Melayu di Penang.

"Saat  itu bangsa Melayu belum dipecah oleh Belanda dan Inggris" tuturnya.

Sebagai  muslim asal Aceh, Tengku Syed Hussein menyodorkan desain masjid seperti yang  banyak dibangun di era kerajaan Nusantara saat itu. Yakni, memiliki atap berbentuk segi tiga. Berbeda dengan masjid lain di sekitarnya yang memiliki  kubah.

"Ini bukan masjid pertama di sini. Tapi, masjid terbesar  pertama" imbuhnya.

Ornamen  khas Aceh yang tidak ditinggalkan Tengku Syed Hussein masih dipertahankan  hingga saat ini. Bentuknya seperti kelopak bunga matahari berukuran besar. Kata  para pendahulu Mochamed, hiasan yang diletakkan di atas pintu dan jendela  masjid juga dibawa langsung dari Aceh.

Bukan  hanya itu. Banyaknya umat muslim asal Aceh dan daerah lain di Indonesia ikut memengaruhi tradisi pembuatan kompleks makam di samping masjid. Salah satunya makam Tengku Syed Hussein. Hal itu tidak banyak ditemui di masjid-masjid  Malaysia.

Banyaknya  muslim asal Aceh di Penang diabadikan untuk nama jalan di pusat kota, Jalan  Lebuh Acheh. Masjid Melayu termasuk berada di jalan itu.

Menurut  Mochamed, Masjid Melayu dulu dibangun dengan fondasi cerucuk bakau. Sebab,  kawasan kompleks masjid tersebut dulu berupa rawa-rawa. Dengan begitu, tumbuhan  bakau dinilai kuat untuk menahan resapan air daripada fondasi kayu. Buktinya,  sampai sekarang masjid berusia lebih dari dua abad itu masih kuat.

Kondisinya  berbeda dengan bangunan baru yang merupakan perluasan masjid. Bangunan baru itu  tidak menggunakan pola yang sama dengan bangunan lama. Sehingga tidak sekuat  bangunan lama dalam menyerap air. "Masjid ini berdiri pada 1808.  Pembangunannya memang lama.." katanya.

Mochamed  teringat bencana tsunami dahsyat yang menerpa Aceh pada 2004. Saat itu warga  muslim keturunan Aceh yang tinggal di Penang berduyun-duyun ke Masjid Melayu  untuk salat dan berdoa bersama. "Saya sangat terharu ketika itu. Banyak orang Aceh kemari"

Mochamed yang 33 tahun menjadi guru itu menambahkan, pada 1820 Syed Hussein mewakafkan  kompleks masjid yang dibangun, termasuk 16 rumah di sekitarnya. Tak heran,  masjid itu dipertahankan umat Islam di Penang dari kehancuran gara-gara  pendudukan Jepang pada 1941-1945.

"Masjid  ini menjadi salah satu penanda majunya umat muslim Melayu saat itu"  tuturnya.

Suasana masjid saat Shalat Jum'at

Makin  populernya Georgetown sebagai destinasi wisata membuat pemerintah makin rajin  melakukan pembangunan infra­struktur, termasuk hotel dan apartemen. Sempat muncul rencana menggusur bangunan di sekitar kompleks masjid. Namun, rencana  itu ditolak keras oleh Badan Warisan Masjid Melayu Pulau Penang.

Mereka  berkeberatan atas rencana itu karena kompleks Masjid Melayu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. "Ini kampung muslim Melayu pertama di sini.  Jadi, ironis bila digusur" kata mantan ketua Badan W Arisan Masjid Melayu Pulau Penang itu.

Generasi  kelima dari imam pertama Masjid Melayu Syekh Omar Basheer itu mengakui, usia  bangunan yang sudah tua membutuhkan perawatan ekstra. Untung, kini pemerintah sudah memasukkan masjid itu ke daftar warisan budaya nasional sehingga  pengelola tidak bingung saat harus melakukan perbaikan. </p>

Diakui  pula, saat ini jamaah Masjid Melayu sudah banyak menyusut. Ketika salat-salat wajib, tidak lebih dari dua saf yang salat berjamaah."Dulu, pada 1950-an, jamaahnya banyak. Setiap salat fardu, masjid selalu penuh. Sekarang sudah  sepi" kenangnya. (*/c10/ari)

#penang #masjid #,cagar budaya #imigran

Alur Cerita Berita


Dhimas Ginanjar
Jawa Pos 2017
Other Cover Stories
 Top
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia