Kamis, 24 Aug 2017
baliexpress
Balinese

Pelangkiran Juga Bisa untuk Menyimpan Benda Keramat

Minggu, 13 Aug 2017 08:02 | editor : I Putu Suyatra

Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par

Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Keberadaan Pelangkiran di rumah atau berbagai tempat oleh umat Hindu di Bali, tentunya sangat bagus selama sesuai dengan peruntukan, etika, serta estetikanya.

Selain praktis, Pelangkiran senantiasa meningkatkan keyakinan pada Tuhan dan leluhur serta rasa percaya diri karena merasa dalam perlindungan-Nya. Di samping itu, Pelangkiran juga ternyata jadi tempat meletakkan benda-benda yang dianggap suci atau dikeramatkan, seperti lontar, perhiasan dari leluhur,dan barang-barang berharga lainnya yang berhubungan dengan spiritual dan bernilai historis.

Direktur Pasca Sarjana IHDN Denpasar, Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par mengatakan, semua itu adalah kewajaran, karena umat menghormati benda-benda tersebut berdasarkan nilai yang terkandung di dalamnya. Bisa saja yang ditaruh adalah cincin biasa, namun karena peninggalan dari orang tua terdahulu, nilainya menjadi tinggi. Oleh karena itu, diletakkanlah di Pelangkiran yang notabene sebagai tempat memuja Tuhan atau leluhur.

Sumadi menerangkan bahwa hal itu boleh-boleh saja sepanjang benar dan baik untuk meningkatkan sraddha (keyakinan) dan bhakti (kesetiaan) umat kepada Tuhan. “Boleh, sangat boleh. Apalagi benda yang kita keramatkan adalah simbol Tuhan. Sesuai konsep Arcanam, itu adalah arca Beliau,” ujarnya. Saat ditanyakan apakah benda-benda semacam cincin, kalung, dan sebagainya yang kerap dipakai tidak mengotori pelangkiran? Penekun spiritual yang tinggal di kawasan Perumahan Kopertis, Jalan Gutiswa, Cekomaria, Denpasar tersebut mengatakan tidak, selama benda tersebut juga diperuntukkan bagi hal suci. “Yang penting peruntukannya kan adalah suci,” tegasnya.  

Menurutnya, Pelangkiran adalah tempat yang baik untuk meletakkan benda tertentu yang bernilai religius atau historis. Karena benda-benda tersebut merupakan perantara taksu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bahkan, Sumadi sendiri juga menempatkan beberapa peninggalan leluhur di Pelangkiran sebagai sebuah penghormatan. “Ada tetamian nak lingsir (warisan orang tua) yang kini masih saya tempatkan di Pelangkiran sebagai wujud penghormatan,” ujarnya.

Oleh karena itu, Sumadi berharap agar umat Hindu senantiasa menjaga sraddha dan bhaktinya. Dengan sraddha dan bhakti yang mantap, maka umat akan menemukan hakikat hidup sehingga memperoleh kebahagiaan dan kedamaian. Sraddha dan bhakti bisa dijaga dan ditingkatkan dengan senantiasa berpikir, berbicara, dan berbuat sesuai ajaran dharma. “Nah Pelangkiran ini adalah salah satu media untuk senantiasa mendekatkan diri dengan Tuhan dan leluhur untuk memohon tuntunan dalam berpikir, berbicara, dan berbuat,” tandasnya. 

(bx/adi/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia