Kamis, 17 Aug 2017
baliexpress
Balinese

Pelangkiran, Penempatannya Berdasarkan Manifestasi yang Disembah

Minggu, 13 Aug 2017 07:58 | editor : I Putu Suyatra

PRAKTIS : Pelangkiran bentuknya sangat sederhana dan praktis, menjadi tempat memuja berbagai manifestasi Tuhan.

PRAKTIS : Pelangkiran bentuknya sangat sederhana dan praktis, menjadi tempat memuja berbagai manifestasi Tuhan. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pelangkiran adalah salah satu media pemujaan Tuhan yang digunakan oleh umat Hindu, khususnya di Bali. Bentuknya simpel dan praktis, dengan bahan berupa kayu dan dilekatkan di tembok. Lalu, untuk apa membuat Pelangkiran, karena sudah punya sanggah merajan?

Pelangkiran diperkirakan berasal dari kata “Langkir” yang artinya sama dengan gunung. Oleh karena itu, Gunung Agung di Bali dahulu disebut Gunung Tolangkir atau Tohlangkir. Gunung adalah simbol hulu sesuai konsep hulu-teben yang berkonotasi pada puncak-dasar, hulu-hilir, atas-bawah, dan sebagainya. Dengan adanya konsep hulu-teben inilah kehidupan ada dan berlangsung, karena keduanya tidak lepas dari konsep purusha dan pradana, yakni unsur kejiwaan dan kebendaan yang tidak bisa dipisahkan selama hidup.

Di samping itu, ada pula yang mengaitkan kata “Langkir” dengan salah satu wuku. Wuku Langkir dikatakan sebagai waktu kelahiran Bhatara Kala, putra Siwa. Menurut Direktur Pasca Sarjana IHDN Denpasar, Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par, dari segi bentuk Pelangkiran mirip dengan padma capah.

“Jadi kalau yang berbentuk seperti itu berarti fungsinya pangayatan,” ujarnya, ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar.

Pangayatan yang dimaksud adalah memuja Tuhan, manifestasi-Nya, atau leluhur dari satu tempat karena terkendala jarak secara fisik. Misalnya untuk memuja Ida Bhatara Gunung Agung, di sebagian besar pura di Bali dibuatkan palinggih khusus untuk memuja beliau, sehingga palinggih tersebut disebut Palinggih Pangayatan Ida Bhatara Gunung Agung.

Menariknya, Pelangkiran oleh umat Hindu di Bali tidak hanya diletakkan di satu tempat, melainkan bisa setiap kamar, dapur, warung, perahu, bahkan mobil. Tentunya kembali ke fungsi Pelangkiran di awal, yakni pangayatan. Berkenaan dengan hal tersebut, Sumadi mengatakan tidak masalah. Justru pria yang ramah senyum ini, mengatakan itu sejalan dengan keyakinan umat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dalam manifestasi tertentu yang berhubungan dengan kepentingan umat tersebut.

Dengan demikian, manifestasi Tuhan yang dipuja pun sesuai dengan peruntukan Pelangkiran tersebut diletakkan. “Kalau di warung yang diayat adalah manifestasi Ida Sang Hyang Widhi sebagai Ida Bhatara Rambut Sedana, Ida Bhatari Melanting, atau Ida Bhatara Ulun Danu Batur,” ujarnya. Ida Bhatara Rambut Sedana, Ida Bhatari Melanting, atau Ida Bhatara Ulun Danu Batur adalah manifestasi Tuhan sebagai sumber kesejahteraan dan kemakmuran yang berhubungan dengan rejeki.

Mantan wartawan tersebut melanjutkan, jika di kamar atau ruang tamu yang diayat Ida Bhatara Semara Reka dan Semara Ratih, agar kehidupan rumah tangga menjadi harmonis. Khusus untuk di kamar tidur, fungsi Pelangkiran dipercaya berhubungan dengan mitologi kanda pat. Seperti dalam lontar Aji Maya Sandhi disebutkan, pada zaman dahulu kanda pat manusia keluar ketika sedang tidur. Kanda pat tersebut kemudian gentanyangan dan justru mengganggu tidur manusia. Akhirnya, dibuatkanlah Pelangkiran sebagai stana mereka, sehingga tidak lagi mengganggu tidur manusia, namun justru menjaga manusia tersebut sehingga terhindar dari mala petaka saat tidur. Oleh karena itu, Pelangkiran di kamar diletakkan sesuai arah kepala tempat tidur.

Berdasar letak, lanjut Sumadi, jika diletakkan di perahu, maka yang diayat adalah Ida Bhatara atau Dewa Baruna sebagai penguasa lautan. “Tujuannya tentu untuk keselamatan aktivitas di laut serta mohon rejeki bagi para nelayan,” jelasnya. Bahkan, menurutnya ada pula masyarakat yang meletakkan Pelangkiran di mobil. “Kalau di mobil, yang diayat adalah Sang Hyang Sapuh Jagat yang menguasai pertigaan dan Sang Hyang Catur Bhuwana yang menguasai perempatan jalan,” terangnya. Kalau mobil tersebut digunakan untuk usaha transportasi atau dagang, maka berhubungan pula dengan Ida Bhatara Rambut Sedana.  

Bagi umat yang merantau, Pelangkiran selain tempat memuja Tuhan, juga dipergunakan untuk memuja leluhur. Ketiadaan sanggah merajan menjadi salah satu alasannya. “Bisa untuk memuja leluhur kalau jauh dari sanggah merajan. Seperti anak-anak kost misalnya, itu bisa menggunakan Pelangkiran,” lanjut Sumadi.  Dengan demikian, umat akan tetap merasa dekat dengan Tuhan dan leluhurnya, meski hidup jauh dari kampung halaman. Melalui Pelangkiran tersebut pula umat bisa mendoakan orang tua beserta keluarga agar senantiasa sehat dan terlindungi.

Berbagai fungsi tersebut membuat umat kerap menghaturkan rarapan atau oleh-oleh berupa makanan atau minuman ketika datang dari bepergian, khususnya di Pelangkiran. Dengan tulus umat Hindu menghaturkan makanan atau minuman sebagai ungkapan terima kasih, karena telah mendapat keselamatan atau memperoleh sesuatu yang dicari. Oleh karena itu, jangan heran ketika umat Hindu menyempatkan mampir untuk membeli rarapan guna dipersembahkan kepada Tuhan dan leluhur.

Mengenai peletakan Pelangkiran, Sumadi mengatakan sesuai arah hulu, yakni timur atau utara. Paling baik, jika bisa arah timur laut atau kaja kangin. Sumadi meneruskan bahwa di Pelangkiran diletakkan daksina tapakan atau daksina linggih sebagai stana Tuhan. Daksina tersebut dibalut dengan kain putih kuning. Selanjutnya dihaturkan pejati. Pejati tersebut setiap purnama, tilem, atau kajeng kliwon hendaknya diganti. Kalau tidak bisa, maka biasanya dihaturkan canang.

Namun, Sumadi berharap agar umat Hindu tidak terbebani dalam keyakinannya kepada Tuhan. “Banyak yang bilang agama Hindu itu susah, padahal sebenarnya simple, jika kita mau mempelajari dan memahaminya,” jelasnya. Pelangkiran ini menurutnya adalah contoh bahwa pada praktiknya agama Hindu sangat fleksibel. Bagi umat yang tinggal di kawasan yang jauh dari komunitas umat Hindu karena sedang ada di rantauan, tidak perlu merasa jauh dari leluhur, apalagi Tuhan. Namun demikian, sewaktu-waktu tentunya umat perlu membagi waktu untuk pulang ke kampung halaman dan bertemu dengan keluarga, demi menjaga silaturahmi dan rasa kebersamaan. 

(bx/adi/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia